Pengorbanan Cinta: Agape atau People Pleaser?

Cinta merupakan hal yang melekat dalam diri manusia. Setiap dari kita membutuhkan cinta untuk hidup, seperti yang dikatakan oleh Fromm (1995) “Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence.” Pengorbanan dalam konteks cinta dapat dimaknai secara berbeda, bisa positif maupun negatif, yang secara tidak langsung dilakukan demi menjaga kelanggengan hubungan tersebut. Pengorbanan menjadi hal umum dalam sebuah hubungan yang ditujukan kepada pasangan sebagai bentuk dari perilaku prososial (Righetti et al., 2022). Saat ini, marak berseliweran di media sosial mengenai cara mengungkapkan cinta yang dikaitkan dengan seberapa besar pengorbanan waktu, materil, dan atensi untuk diberikan kepada orang lain. Di sisi lain, banyak yang menganggap bahwa pengorbanan dalam cinta bukanlah hal yang baik atau dengan maksud hanya untuk menyenangkan hati orang lain saja (atau people pleaser). Akan tetapi, sebagian orang juga menganggap bahwa pengorbanan dalam cinta merupakan cinta yang murni atau agape

Dalam tinjauan ilmiah, Barrocas (2023) menemukan bahwa pengorbanan dapat membangun kesejahteraan dan kepercayaan komitmen yang lebih besar dalam sebuah hubungan. Namun, pengorbanan juga berpotensi besar mendatangkan konsekuensi negatif bagi yang memberi maupun yang menerima (Righetti et al., 2022). Lalu, pengorbanan cinta seperti apa yang dapat dikatakan positif atau negatif? Bagaimana bisa tahu bahwa pengorbanan orang lain dijadikan sebagai manifestasi dari cinta tulusnya terhadap kita? Kemudian, cinta seperti apa yang dapat dikatakan sebagai perasaan tulus seseorang? Dalam kesempatan kali ini, kita ditemani Bapak Dr. Yohanes Heri Widodo untuk bersama-sama memperdalam bagaimana memaknai pengorbanan cinta yang sehat dalam sebuah hubungan terkait dengan cinta agape dan people pleaser

Sebelum memperdalam mengenai pengorbanan, penting bagi kita untuk memahami bagaimana bentuk cinta yang tulus. Beberapa dari kalian mungkin masih asing dengan istilah agape. Menurut Pak Heri, dalam perspektif psikologi, agape berarti cinta yang tidak egosentris dan sungguh-sungguh untuk orang lain. Cinta untuk diri sendiri juga termasuk dalam agape. Dalam pendekatan humanistik Carl Rogers, cinta agape termasuk dalam konsep unconditional positive regard, yaitu cinta tanpa syarat yang diberikan kepada seseorang. Contohnya, cinta orang tua kepada anaknya yang tidak menuntut balasan. Agape tentunya tidak terbentuk begitu saja. Ada beberapa hal yang mempengaruhi perasaan cinta agape itu sendiri, mulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, lingkungan di sekolah, hingga kehidupan sosialnya. 

Lantas seperti apa orang yang menerapkan agape? Beliau memaparkan bahwa mereka yang menerapkan agape biasanya tidak menjadikan sebuah relasi sebagai cara dalam mendapat keuntungan pribadi, melainkan dibangun untuk mengembangkan dirinya dan pihak lain. Hal ini dapat terlihat dengan tidak memaksakan semua keinginannya, merelakan hal yang tidak sesuai, serta tidak melakukan manipulasi dalam berteman di kelompok sosialnya. Kemudian, relasi yang dijalankan tidak mengarah pada relasi yang tidak sehat atau toxic karena hal tersebut tentu akan membuat orang yang menerapkan agape memiliki kehidupan yang relatif bahagia. 

Pak Heri mengatakan bahwa mereka yang melakukan agape biasanya sudah memiliki rasa kecukupan secara psikologis atau secure (rasa aman secara psikologis) dari orang lain, sehingga tidak memanfaatkan orang lain dalam berelasi. Misalnya, mendapatkan pengasuhan yang hangat dari orang tua serta kasih sayang dari lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, apabila kurang mendapatkan kasih sayang, maka seseorang cenderung haus akan cinta sehingga dirinya mencari kasih sayang dari orang lain. Contohnya, keinginan berprestasi terbentuk dengan tujuan hanya ingin membanggakan orang tua, hal ini cenderung mengembangkan defisiensi dan perasaan insecure

Agape secara garis besar merupakan bentuk tindakan cinta yang tulus dan tidak egois. Namun, apakah orang yang bertindak agape sudah dapat memaknai agape dengan tepat? Atau sebetulnya mereka hanya menerapkan people pleasure sebagai upaya memberikan kesenangan kepada orang lain? Beliau menekankan bahwa agape tidak hanya sekadar menyenangkan orang lain. Kita tidak dapat memaknai seseorang bertindak agape hanya dari luarnya saja. Selain itu, apabila kita hanya ingin terlihat baik oleh orang lain di mata sosial, maka hal tersebut tidak dapat dikatakan agape, melainkan egosentris. People pleasure akan cenderung manipulatif dan memberikan cinta yang egois. Cinta yang diberikan akan bersifat transaksional atau mengharapkan sesuatu dari orang lain, sedangkan cinta yang agape tidak mengharapkan imbalan. Penting untuk dapat memiliki cinta yang agape karena dapat meningkatkan kesejahteraan hidup  dan relatif kecil kemungkinan untuk depressed. Meskipun agape dapat dikatakan sulit untuk diterapkan, namun tidak ada salahnya untuk mulai mencoba secara perlahan. Cara yang baik dalam menerapkan agape, yaitu dengan membangun self awareness atau kesadaran dari dalam diri sendiri bahwa cinta yang kita berikan ke orang lain masih cenderung tidak egois, mengharapkan imbalan, dan sudah memberikan cinta yang tulus. Hal tersebut dapat kita terapkan tidak hanya kepada sesama teman, melainkan ke orang lain yang ada di sekitar kita serta lingkungan alam dengan cara menjaganya karena cinta sesungguhnya tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk hidup.

Narasumber : Dr. Yohanes Heri Widodo
Reporter : William & Armel
Editor : Mafa & Inggrit
Fotografer :
Desainer :
Website : Novita

Daftar Pustaka

Barrocas, G. (2023). The Psychological Impact of Sacrifice in Romantic Relationships and Partner Wellbeing. Intersect: The Stanford Journal of Science, Technology, and Society, 1(17).

Fromm, E. (1956). The Art of Loving. New York: Harper. 

Righetti, F., Visserman, M. L., & Impett, E. A. (2022). Sacrifices: Costly prosocial behaviors in romantic relationships. Current Opinion in Psychology, 44, 74-79. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.08.031