Hai, Sobat Psymag! Pernah nggak sih kalian merasa capek karena kegiatan-kegiatan di kampus? Seringkali kita menjalani kuliah, tugas, dan organisasi seorang diri, hingga lupa bahwa kita sebenarnya tidak bisa berjalan sendiri. Rutinitas kuliah yang padat membuat kebersamaan dan dukungan teman sangat penting. Hal ini membantu kita tetap kuat dan termotivasi untuk berkuliah. Tanpa orang lain, perjalanan kuliah terasa berat, jadi penting untuk saling peduli dan berbagi.
Momen inilah yang menunjukkan pentingnya menanamkan kembali nilai Ubuntu, sebuah filosofi yang mengingatkan kita bahwa “Aku Ada Karena Kita Ada.” Ubuntu mengajarkan kita pentingnya saling peduli dan menjaga hubungan yang sehat. Nilai ini sangat relevan di tengah persaingan dan tekanan perkuliahan. Melalui Ubuntu, kebersamaan bisa menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi kita semua. Bersama Bernadetha Devina Febriyanti (Kelas 23 E) dan Giovanni Nalendra Jati (Kelas 24 E) dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, kita akan melihat bagaimana semangat Ubuntu bisa diterapkan. Yuk, kita pelajari bagaimana kebersamaan bisa membuat perjalanan di kampus semakin bermakna!
Mengenal Filosofi Ubuntu
Ubuntu adalah filsafat sosial dari Afrika yang bermakna “Aku Ada Karena Kita Ada”. Filosofi ini menekankan pentingnya keterhubungan antarindividu, saling menjaga, dan hadir secara utuh dalam relasi sosial. Menurut Gio, Ubuntu melibatkan rasa kasih sayang, empati, dan menghargai orang lain. Gio menambahkan, menumbuhkan nilai Ubuntu dimulai dari kesadaran diri sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Sementara itu, Devina mempraktikkan nilai ini melalui tindakan sederhana, seperti menyapa orang lain, membuka diri dalam kelompok, dan aktif berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan.
Menurut Gio, penerapan Ubuntu sehari-hari bisa terlihat dari kegiatan sederhana, seperti kerja kelompok, menjenguk orang sakit, atau membantu tetangga. Devina menekankan bahwa kesadaran diri menjadi langkah awal sebelum menularkan nilai Ubuntu ke lingkungan sekitar. Kedua narasumber sepakat bahwa Ubuntu bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang membangun relasi sosial. Filosofi ini relevan bagi mahasiswa karena mengajarkan kita untuk menghargai keberadaan orang lain. Melalui filosofi ini, kita belajar bahwa keberhasilan pribadi tidak terlepas dari peran orang lain di sekitar kita.
Tantangan dalam Menerapkan Ubuntu
Meski nilai Ubuntu penting, penerapannya tidak selalu mudah. Gio menjelaskan, tantangan terbesar sering berasal dari diri sendiri ketika seseorang lebih memprioritaskan kepentingan pribadi. Sementara itu, Devina menyoroti tantangan eksternal, seperti lingkungan sosial yang kurang suportif dan jarak yang membuat keterhubungan sulit. Kedua narasumber setuju bahwa hambatan ini bisa mengurangi semangat untuk menerapkan nilai Ubuntu. Namun, mereka menekankan bahwa kebutuhan manusia untuk terhubung tetap ada sehingga Ubuntu tetap relevan.
Menurut Gio, individualisme dan digitalisasi menjadi faktor yang membuat generasi muda sulit menerapkan Ubuntu. Selanjutnya, Devina menambahkan bahwa stres pribadi atau tekanan dari lingkungan bisa mengurangi motivasi untuk terlibat secara sosial. Meskipun begitu, perilaku sederhana, seperti menyapa orang atau ikut berdinamika dalam kelompok tetap menjadi cara efektif menumbuhkan nilai Ubuntu. Kedua narasumber menunjukkan bahwa kesadaran diri dan interaksi sosial yang sehat menjadi kunci. Bermodalkan kesadaran itu, hambatan internal maupun eksternal bisa diminimalkan.
Ubuntu vs. Individualisme
Gio menjelaskan bahwa cara berpikir individualistik berfokus pada diri sendiri, di mana pencapaian dianggap murni hasil usaha pribadi. Sebaliknya, filosofi Ubuntu melihat keberhasilan sebagai hasil kebersamaan, relasi, dan kontribusi dari banyak pihak. Devina membagikan pengalamannya di Unit Kegiatan Mahasiswa, di mana awalnya ia ragu bisa diterima. Namun, melalui dinamika kelompok dan kesediaannya untuk membuka diri, Devina akhirnya dipercaya memimpin unit kegiatan tersebut. Berbekal dari pengalaman ini, Devina menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kemampuan pribadi, tetapi juga dukungan orang lain.
Bagi Gio, keberadaan dan pencapaiannya saat ini sangat dipengaruhi oleh kontribusi keluarga. Ia menekankan, kita tidak bisa hidup atau mencapai apa pun tanpa peran orang lain. Devina dan Gio sama-sama menunjukkan bahwa identitas dan pencapaian pribadi tidak pernah berdiri sendiri. Filosofi Ubuntu mengajarkan kita untuk bertindak demi kebaikan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi. Hal ini membuat mahasiswa menyadari bahwa relasi sosial yang sehat adalah fondasi kesuksesan.
Penutup: Makna Ubuntu bagi Mahasiswa
Pembahasan di atas menunjukkan bahwa filosofi Ubuntu masih sangat relevan bagi mahasiswa sekarang. Nilai kebersamaan, empati, dan sikap suportif membantu kita membangun hubungan yang sehat dan mencapai tujuan bersama. Pengalaman Devina di organisasi dan Gio dengan dukungan sekitarnya menunjukkan bahwa kesuksesan kita tidak terlepas dari peran orang lain. “Aku Ada Karena Kita Ada” bukan hanya kata-kata, tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, di zaman yang semakin individualis ini, Ubuntu menjadi panduan penting untuk menjaga solidaritas dan membuat perjalanan kuliah lebih bermakna.
Reporter: Ren & Anin
Editor: Elsa & Ruth
Desainer: Abel
Fotografer: Lia
Website: Isak
