Semester lima sering disebut sebagai puncak tantangan dalam kehidupan perkuliahan. Benarkah demikian? Apakah hal ini sebetulnya mitos atau justru fakta? Dalam artikel RASA kali ini, kami akan mengajak pembaca untuk menyelami dinamika dan berbagai tantangan yang dihadapi pada semester lima bersama Agnes dan Riri, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
Bagi mahasiswa semester awal, rumor tentang “angkernya” semester lima mungkin sekadar dianggap sebagai angin lalu. Namun, bagi Agnes dan Riri yang sedang menjalaninya, rumor tentang semester ini bukan lagi sebatas mitos. Keduanya sepakat bahwa beban akademik di semester lima terasa sangat berbeda dibandingkan semester sebelumnya, terutama dari segi intensitas tugas. Riri mengungkapkan bahwa jika pada semester-semester awal dosen lebih banyak menyampaikan materi secara teori saja, tetapi kini 90% kegiatan perkuliahan diisi dengan praktik dan penyusunan laporan. Mata kuliah praktikum seperti Tes Proyektif, Penyusunan Skala Psikologi, Modifikasi Perilaku, dan Psikoedukasi kerap menuntut laporan yang panjang dan jarang selesai hanya dalam satu kali pengerjaan saja.
Ketika ditanya mengenai mata kuliah yang paling menantang, keduanya menyebut Psikologi Proyektif sebagai jawabannya. Agnes menyoroti proses pengerjaan laporan psikologi proyektif berulang dan kompleks, sementara Riri merasa tantangannya terletak pada materi yang abstrak sehingga interpretasinya atau pemaknaannya terkesan seperti menduga-duga. Agnes juga menambahkan bahwa mata kuliah Psikoedukasi cukup membebani karena adanya tuntutan untuk melibatkan partisipan eksternal yang memerlukan energi ekstra. Kemudian, keduanya juga membenarkan bahwa angkatan mereka tengah menghadapi penumpukan praktikum yang tidak ringan.
Kedua narasumber mengaku perlu menyesuaikan cara belajar mereka. Agnes, yang sebelumnya mengandalkan metode peer teaching, harus mencari cara baru karena kelas teracak dan ritme belajar dengan teman-teman di kelas lama telah berbeda. Kini, ia lebih disiplin mencatat dan membuat rangkuman sejak satu minggu sebelum ujian. Sementara itu, Riri memilih untuk meningkatkan durasi belajar dan mengandalkan catatan tangan berwarna yang dinilai lebih mudah untuk diingat.
Selain karena beban tugas, semester lima terasa semakin berat bagi keduanya akibat padatnya aktivitas di luar jam perkuliahan. Agnes menjabat sebagai ketua UKM Pengabdian Masyarakat, menjalani magang sebagai asisten konseling di sebuah biro psikologi, dan terlibat dalam kegiatan kepanitian. Sementara itu, Riri bertanggung jawab sebagai seorang asisten tes kognitif, freelance model, dan menjalankan bisnis kuliner.
Menghadapi tekanan ini, keduanya menerapkan strategi manajemen waktu yang ketat. Agnes memastikan bahwa kewajiban akademik tetap menjadi prioritas utama dengan mengatur rapat organisasi di malam hari atau weekend, dan memanfaatkan Google Calendar untuk plotting tugas. Ia juga memegang prinsip “kerjakan yang termudah dulu” agar beban terasa berkurang secara bertahap. Di sisi lain, Riri lebih memilih menyusun skala prioritas dan memaksimalkan fokus saat berada di kelas agar waktu di rumah dapat digunakan untuk mencicil laporan selama 2–4 jam sehari.
Tuntutan dan tekanan yang besar di semester lima berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan mental, seperti burnout. Agnes dan Riri memiliki cara yang unik untuk menjaga kesehatan mental mereka. Bagi Agnes, aspek religius menjadi penolong utama. Berdoa dan mengikuti ibadah di gereja membuatnya menjadi pribadi yang baru setiap harinya. Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu istirahat dengan tidur dan bersih-bersih. Sementara itu, Riri lebih memilih metode self-reward sebagai cara untuk menjaga kesehatan mentalnya. Hal ini dilakukan dengan menyisihkan satu jam sebelum tidur untuk menonton Drama Korea, atau menikmati makanan manis dan pedas sebagai pelepas penat. Di sisi lain, support system juga berperan penting. Meski sempat down karena pembagian kelas yang teracak, Agnes dan Riri terbantu oleh teman kampus yang selalu siap mendengarkan, keluarga yang menyemangati, serta pasangan yang menemani ketika mengerjakan tugas.
Menutup sesi berbagi pengalaman ini, Agnes dan Riri memberikan pesan penyemangat bagi adik tingkat yang akan menghadapi fase ini. “ Jangan menunda tugas di awal jika tidak ingin menumpuk di akhir,” tegas Agnes. Ia juga mengingatkan untuk selalu melakukan yang terbaik pada hari ini demi masa depan yang lebih baik. Riri juga menambahkan sebuah kutipan yang mendalam “Boleh istirahat, tapi tidak boleh berhenti.” Semester lima memang berat, tapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Seperti yang disampaikan oleh Riri, “Semangat kita semua menjalani dan merasakan semuanya bersama.” Penggunaan manajemen waktu yang tepat, dukungan orang sekitar, dan keberanian untuk tetap melangkah, semua tantangan ini pasti bisa dihadapi dan dilalui.
Reporter: Tasya
Editor: Shelma & Eca
Fotografer:
Desainer: Abel
Website: Dito