Di tengah derasnya arus individualisme dan kemajuan teknologi, manusia modern tampak semakin jauh dari sesamanya. Interaksi sosial tergantikan oleh percakapan singkat di layar, sementara empati menjadi barang yang kian langka. Dalam situasi ini, falsafah Ubuntu dari Afrika Selatan yang berarti “saya ada karena kita ada” menjadi relevan kembali sebagai pengingat tentang makna kemanusiaan. Nilai ini yang menjadi inti pemikiran Mbak Otic, seorang psikolog klinis yang selama bertahun-tahun bekerja di bidang perlindungan anak dan layanan publik. Melalui pengalamannya mendampingi individu yang mengalami trauma sosial dan psikologis, ia menemukan bahwa kesejahteraan manusia tidak lahir dari pencapaian pribadi, melainkan dari relasi dengan orang lain.
“Manusia pada dasarnya makhluk sosial,” ujarnya saat ditemui. “Kita butuh koneksi untuk merasa bermakna. Ketika seseorang terputus dari lingkungannya, ia kehilangan sumber energi emosional yang penting,” tambahnya.
Bagi Mbak Otic, pengalaman menjadi psikolog bukan sekadar profesi, tetapi perjalanan pelayanan sosial kepada masyarakat. Ia menilai bahwa filosofi Ubuntu mengandung pesan universal yang menghubungkan manusia dengan manusia lain melalui empati dan kebersamaan. Hubungan yang tulus dan sejajar menjadi hal yang mendasar dari sebuah proses penyembuhan psikologis. Dalam praktik klinisnya, Mbak Otic sering menemui pasien yang tidak menderita gangguan berat, melainkan kehilangan arah karena merasa terisolasi. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa krisis psikologis sering berakar dari hilangnya rasa keterhubungan sosial. “Ketika seseorang merasa dilihat dan diterima, kesehatannya mulai pulih,” ujar Mbak Otic.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori psikologi humanistik yang dikemukakan Carl Rogers bahwa penerimaan tanpa syarat adalah fondasi dari perubahan positif. Bagi Mbak Otic, nilai-nilai itu sejalan dengan semangat Ubuntu yang menempatkan empati sebagai pusat kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa penerapan empati dalam konteks masyarakat Indonesia sesungguhnya bukan sesuatu hal yang baru. Budaya gotong royong, tenggang rasa, dan tepa selira dalam tradisi Jawa mencerminkan nilai-nilai serupa. “Kita sudah memiliki falsafah seperti itu sejak lama,” jelasnya, “tetapi perlahan mulai memudar karena budaya individualistik yang datang bersama modernitas.”
Perkembangan di bidang ilmu dan teknologi menyebabkan seseorang mendefinisikan kemajuan sebagai sebuah kesempatan untuk memajukan dirinya sendiri. Akan tetapi, falsafah Ubuntu ini mengajarkan kita untuk mendefinisikan kemajuan sebagai momen di mana seseorang dapat memajukan diri dan komunitasnya. Mbak Otic menjelaskan bahwa individu dapat berkembang apabila lingkungan masyarakatnya juga ikut berkembang.
Menurut Mbak Otic, dunia digital membawa paradoks: Manusia semakin terhubung secara teknis, tetapi terpisah secara emosional. “Orang bisa berinteraksi setiap hari lewat layar, tapi merasa sendirian dalam kehidupan nyata,” ujar Mbak Otic. Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk kesepian sosial, di mana seseorang tampak aktif di dunia maya, tetapi kehilangan makna kehadiran sejati. Kondisi ini menjadi tantangan baru di mana klien merasa hampa akan hidupnya meskipun kondisinya tampak baik-baik saja. Kehilangan hubungan sosial yang bermakna dapat membuat individu lupa akan dirinya sendiri.
Ia menjelaskan bahwa pada titik inilah nilai Ubuntu memiliki peran penting sebagai bentuk terapi sosial. Bukan dalam arti medis, melainkan sebagai upaya menumbuhkan kembali kesadaran kolektif untuk membangun hubungan yang lebih manusiawi. Menurutnya, Ubuntu mengajarkan bahwa jati diri manusia lahir dari keterhubungan dengan sesama, bukan dari prestasi pribadi semata.
Filosofi Ubuntu juga menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa atasnya. Dalam wawancara, Mbak Otic menekankan bahwa krisis lingkungan sebenarnya adalah cerminan dari krisis kemanusiaan. “Ketika manusia kehilangan empati, bukan hanya terhadap sesama, tapi juga terhadap alam, keseimbangan hidup ikut rusak,” ujarnya. Ia mencontohkan praktik forest therapy di Jepang, di mana pasien diajak untuk berinteraksi dengan alam sebagai bagian dari proses pemulihan. Hal ini menjelaskan bahwa manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam. Oleh karena itu, menjaga alam sama artinya dengan menjaga manusia itu sendiri.
Ubuntu tidak hanya menjelaskan tentang hubungan antarindividu semata, tetapi menekankan pada tanggung jawab bersama. Tanggung jawab ini berkaitan dengan pengembangan karakter seseorang melalui lingkungan. Mbak Otic menekankan pentingnya kehadiran orang tua sebagai lingkungan terdekat seseorang. Orang tua zaman sekarang memiliki kecenderungan untuk menitipkan anak sejak kecil kepada asisten rumah tangga (ART). Oleh karena itu, praktik ini dapat menimbulkan pergeseran nilai yang dimiliki oleh anak dan orang tua.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori psikologi modelling yang dikemukakan Albert Bandura bahwa individu dapat meniru perilaku, emosi, dan sikap orang lain. Bagi Mbak Otic, orang tua harus membersamai anak dalam menurunkan nilai-nilai antargenerasi itu. “Semua dimulai dari rumah, siapa yang mau dijadikan sebagai role jika orang tua tidak hadir dalam proses pengembangan karakter anak mereka?” ujar Mbak Otic.
Sebagai psikolog di lembaga publik, Mbak Otic memahami bagaimana tekanan sistem kerja dapat membuat seseorang kehilangan sisi kemanusiaannya. Di tengah rutinitas padat dan beban administratif yang berat, empati kerap tersisih oleh efisiensi. Namun, bagi Mbak Otic, kemanusiaan harus tetap menjadi inti dari pelayanan. Ia menolak melihat klien sebagai kasus, melainkan sebagai manusia yang membutuhkan ruang aman untuk dipahami.
Menutup perbincangan, Mbak Otic menyampaikan pesan sederhana namun kuat. Baginya, generasi muda harus kembali menumbuhkan empati di tengah derasnya kemajuan zaman. Ia mengingatkan bahwa interaksi digital tidak bisa menggantikan kedekatan manusiawi. Selain itu, Mbak Otic menekankan bahwa dunia akan terus berubah tetapi empati tidak boleh hilang. Ia mengajak anak muda untuk mulai dari hal kecil, seperti mendengarkan teman yang kesulitan, membantu tanpa pamrih, dan menghargai keberadaan orang lain. Hal ini selaras dengan falsafah Ubuntu, “saya ada karena kita ada.”
Wawancara dengan Mbak Otic membuka ruang refleksi tentang kemanusiaan yang kerap terlupakan di tengah kemajuan teknologi. Falsafah Ubuntu mengajarkan bahwa eksistensi manusia dibangun bukan dari kesuksesan individu, melainkan dari hubungan yang saling menopang. Dalam dunia yang serba cepat dan dingin, nilai-nilai seperti empati, kepedulian, dan kebersamaan menjadi fondasi yang menjaga manusia tetap utuh. Hadir untuk dan bersama orang lain adalah cara paling sederhana menjadi manusia seutuhnya.
Reporter: Vincen & Farel
Editor: Angel & Tiwi
Fotografer: Yemima
Desainer: Abel
Website: Prakas
