Dalam kehidupan sosial, pada umumnya manusia melewati masa ketika individu berkomitmen dengan seseorang. Hubungan ini nantinya akan berkembang menjadi relasi berpasangan yang lebih mendalam. Akan tetapi, dalam berelasi berpasangan tidak selamanya hubungan antara dua orang itu sehat. Dalam menjalin relasi, ada kemungkinan terdapat individu yang merasa tidak menerima keuntungan dari pasangannya.
Hubungan Berpasangan.
Hubungan berpasangan antara dua orang diibaratkan seperti transaksi jual beli di pasar. Ada transaksi yang sehat dalam jangka waktu panjang yang menguntungkan kedua belah pihak, tetapi ada pula transaksi yang tidak sehatmanakala hanya salah satu saja yang diuntungkan. Apabila ingin berdagang, harus ada materi yang dijual. Artinya, dalam berhubungan, dua orang individu harus mempunyai modal atau sesuatu yang dapat dibagikan ke pasangannya. Ketika individu hanya berharap mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan untuk dirinya sendiri, hubungan tersebut tidak dapat dikatakan sehat. Dalam berhubungan, diharapkan adanya “Take and Give” yang berarti ada sesuatu yang didapatkan dan diberikan kepada pasangannya. Hal ini merupakan prinsip dasar dalam menjalin relasi berpasangan antara dua orang.
Apa yang ‘membahagiakan’ dalam hubungan?
Konteks bahagia dalam berpasangan dapat diartikan berbeda-beda sesuai dengan kondisi mental individu. Apabila salah satu dari pasangan itu adalah individu yang egosentrik, ketika ia jatuh cinta, ia akan merasa berbunga-bunga dan merasa dibantu. Namun, bagi individu yang tidak egosentrik, arti ‘bahagia’ menurutnya adalah saat melihat pasangannya senang. Pemikiran atau pandangan individu tidak hanya berpusat pada diri sendiri, tetapi juga melihat ke orang lain dalam konteks pasangan. Pasangan yang membahagiakan seharusnya mampu untuk saling merasakan emosi, baik positif maupun negatif, yang dinyatakan secara transaksional. Dalam hal ini, transaksional berarti terjadi pertukaran emosi dan adanya “Take and Give’’ ketika menjalin relasi.
Bagaimana jika dalam hubungan hanya salah satu yang diuntungkan?
Dalam berpasangan, apabila hanya satu yang diuntungkan dan pihak lainnya dirugikan, berarti individu tersebut tidak menerima dirinya sendiri dan membuatnya merasa tidak bahagia. Akibatnya, ketika menjalin relasi, individu tersebut tidak dapat berorientasi dengan pasangannya dan akan terus menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain. Dengan ini, hubungan diibaratkan seperti ‘mesin’ yang canggih untuk menghasilkan kebahagiaan.
Apakah dengan salah satu yang diuntungkan bisa disebut hubungan sehat?
Bagi beberapa individu yang belum memiliki pasangan, mereka akan berusaha mencari kebahagiaan untuk dirinya melalui hal-hal yang ada di sekitarnya. Namun, ketika menjalin relasi dengan orang lain, individu tersebut akan mencari dan menggantungkan kebahagiaanya pada pasangannya. Akan tetapi, setiap individu bukan ‘mesin canggih’ yang mampu menghasilkan emosi bahagia secara otomatis, sehingga setiap individu memerlukan stimulus untuk memperoleh kebahagiaannya. Oleh karena itu, ketika individu menggantungkan kebahagiaan pada pasangannya, maka hubungan tersebut akan menjadi tidak sehat.
Bagaimana solusi untuk hal tersebut?
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah memberikan ruang antara diri sendiri dan pasangan karena individu perlu untuk menjaga kondisi mentalnya agar dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Jika individu tidak bisa melakukan hal tersebut, maka ia akan merampas kebahagiaan milik orang lain, yaitu pasangannya sendiri. Pemberian ruang untuk diri sendiri dapat membuat dirinya tetap berorientasi sehingga dapat menyebabkan kebahagiaan pada individu.. Jika individu bahagia dengan dirinya sendiri, maka ia akan mampu menjalankan “Take and Give” dalam berelasi.
Narasumber : Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi
Reporter : Elen
Editor : Lidya & Irene
Fotografer : Jessica
Desainer : Belicia & Wilsen
