Cinta adalah hal yang umum dan diketahui oleh banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, cinta diterapkan baik secara sadar maupun tidak, baik dalam bentuk cinta romantis, pertemanan, dan keluarga. Namun, ada jenis cinta yang lebih mendalam dan sulit untuk dicapai—bukan sekadar pemaknaan cinta yang dangkal. Jenis cinta tersebut adalah cinta agape, yaitu cinta yang penuh ketulusan, ketika seseorang rela mengesampingkan keegoisan untuk menolong dan memberikan kenyamanan pada orang lain dalam hubungan tersebut. Pada artikel Opini Mahasiswa ini, teman-teman diajak untuk memahami lebih jauh mengenai cinta ketulusan atau cinta agape dengan dua narasumber yang berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, yaitu Patricia Shania (Nia) dan Hosa Pradipta (Hosa). Sebagai mahasiswa, mereka telah menerapkan cinta penuh ketulusan dalam kehidupan sehari-hari yang membentuk kepribadian mereka menjadi lebih sehat dan positif.
Sebelum membahas lebih jauh tentang topik ini, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan cinta agape. Nia menjelaskan bahwa cinta pada umumnya muncul karena beberapa alasan, dengan alasan paling utama berupa kebutuhan dasar manusia untuk menjalin hubungan dan adanya kebutuhan fisiologis dari masing-masing pribadi yang memengaruhinya. Intinya, cinta terjalin atas dasar motif transaksional tertentu. Namun, cinta agape ini berbeda. Cinta agape adalah bentuk cinta yang terlepas dari motif transaksional dan kepentingan diri sendiri. Cinta ini diwujudkan secara tulus dengan memberikan perhatian, kehangatan, dan dukungan kepada orang lain. Umumnya, cinta agape sangat sulit untuk dicapai dan tidak semua orang dapat mencapainya dalam perjalanan hidup mereka. Meskipun demikian, proses untuk mencapai cinta agape dapat menjadi pengalaman yang penuh dengan pembelajaran dan bermakna.
Menurut Hosa, cinta agape merupakan konsep cinta yang begitu murni dan luhur. Cinta ini merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan tanpa syarat dan tanpa pamrih. Cinta agape dapat diwujudkan melalui tindakan menolong sesama, bukan karena adanya harapan akan balasan, melainkan semata-mata didorong oleh ketulusan hati. Cinta agape adalah manifestasi dari kebaikan manusia yang paling mendasar, yang membuat seseorang bertindak sesuai dengan suara hati dan naluri kemanusiaan. Dalam cinta agape, tidak ada perhitungan keuntungan atau kerugian, melainkan hanya fokus pada kesejahteraan orang lain. Ini adalah bentuk cinta yang paling universal dan abadi yang mampu menginspirasi dan menyatukan.
Menerapkan ketulusan dalam berhubungan dapat mengubah kehidupan seseorang, terutama karena adanya perspektif baru untuk memandang diri sendiri dan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Nia, pengalaman yang paling menyentuh adalah saat ia menyadari bahwa peran orang tuanya yang tulus dalam mendidik dan membesarkan dirinya merupakan bentuk ketulusan cinta tanpa mengharapkan balasan. Ketulusan yang dirasakan Nia tersebut membuatnya lebih menghargai orang tuanya dan berusaha untuk menerapkan ketulusan cinta yang sama. Nia juga menambahkan bahwa refleksi diri yang baik sangat penting karena hubungan merupakan suatu proses timbal balik antar individu, bukan hanya berfokus pada diri sendiri saja.
Hosa menemukan cinta agape melalui pengalaman persahabatannya. Persahabatan ini terbentuk tidak didasarkan pada penilaian dari hal-hal yang terlihat saja, seperti kekayaan, reputasi yang baik, atau karena adanya kompetensi seorang sahabat. Sebaliknya, persahabatan yang dimaksud oleh Hosa tumbuh atas dasar sesuatu tanpa adanya tujuan tertentu, murni dari sebuah naluri atau insting dan energi yang membuatnya menjadi sefrekuensi. Hubungan persahabatan ini pada akhirnya direalisasikan dengan membantu sesama bersama teman-teman yang lain. Selain menemukan cinta agape dalam dirinya sendiri, Hosa juga pernah menyaksikan cinta agape secara langsung. Saat itu, ia melihat seorang Ibu yang setia membersihkan Gua Maria. Ibu tersebut selalu membersihkan daun-daun dan bercak lilin yang berserakan di area gua tanpa ada harapan untuk dibayar. Hal ini tentu mencerminkan cinta agape secara sederhana yang dilakukan dengan tulus agar orang lain dapat merasakan kenyamanan saat berada di gua tersebut.
Dalam menerapkan cinta yang tulus, pastinya terdapat halangan-halangan tertentu, seperti ego. Menurut Nia, dalam keseharian, kita tentu akan menghadapi banyak permasalahan pribadi. Ketika seseorang dihadapkan dengan permasalahan pribadi, mereka akan sulit untuk mempertimbangkan kepentingan orang lain sehingga sangat penting untuk melakukan refleksi dan mengenali diri. Namun, mengenali diri sendiri juga suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Mengenali diri adalah proses seumur hidup yang tidak akan pernah berakhir. Jika dalam satu titik seseorang mengatakan “Aku sudah mengenal diriku”, bisa saja di lain waktu (dia) tidak seperti itu lagi. Oleh karena itu, mengenali diri sendiri merupakan bagian penting dari menerapkan cinta yang tulus. Nia menyebutkan beberapa cara untuk membantu seseorang mengenal dirinya sendiri. Pertama, berangkat dari pondasi yang nyata, cari dan pantau hal-hal kecil dalam diri kita yang biasanya sering luput atau tidak disadari karena dengan memerhatikan hal tersebut dapat membangun pengenalan diri yang baik. Kedua, dalam menerapkan cinta yang tulus kita perlu memerhatikan apakah diri sendiri sudah mendapatkan cukup cinta dan ketika cinta pada diri sendiri sudah terpenuhi, maka barulah cinta dapat diberikan kepada orang lain. Namun, kita juga perlu memerhatikan apakah orang tersebut pantas untuk diberikan cinta atau tidak karena hubungan adalah suatu proses untuk mengenal satu sama lain. Berhubungan dengan proses, kita tidak perlu takut mengalami kegagalan dalam suatu hubungan karena sesungguhnya kegagalan itu adalah pelajaran yang bermakna untuk pengalaman baru lain di masa depan.
Dalam menerapkan cinta agape atau cinta yang tulus ini, pastinya tidak lepas dari tantangan dalam merealisasikan cinta ini. Tantangan pertama yang dialami Hosa adalah ekspektasi. Ekspektasi ini merupakan harapan yang dipikirkan melalui otak yang menggambarkan apa yang diinginkan untuk kedepannya. Ekspektasi sangat berlawanan dengan cinta agape di mana cinta itu seharusnya datang atas dasar ketulusan yang bercampur dengan harapan yang pastinya disertai dengan keinginan yang memiliki tujuan. Tantangan yang kedua adalah egoisme, di mana hal ini berhubungan dengan ekspektasi yang bermula dari harapan dan bisa memunculkan sifat egois yang nantinya akan mementingkan diri sendiri. Namun, dengan adanya tantangan yang dialami oleh Hosa ini, ia juga memiliki cara untuk mempertahankan cinta agape ini. Caranya adalah menjadi pribadi yang evaluatif, di mana seseorang harus mampu melakukan refleksi ketika menjalankan suatu hal. Melalui pribadi evaluatif ini, nantinya pribadi akan menjadi media untuk memikirkan apa yang akan dilakukan, menjadikan seseorang dengan pemikiran yang tidak pragmatis (berpikir instan), serta memiliki pemikiran untuk menimbang kembali apa yang kita lakukan hari ini. Ketika telah berhasil menjadi pribadi evaluatif, maka secara otomatis dapat memunculkan sifat yang sabar, berpikir dengan tenang, dan menghilangkan egoisme dalam diri.
Terakhir, kedua narasumber memberikan saran bagaimana seseorang dapat menyebarkan semangat cinta yang tulus kepada orang lain. Nia mengatakan, “Jika kita tidak dapat menemukan orang baik yang dapat memberikan ketulusan cinta kepada diri kita, maka jadilah orang baik tersebut.” Ketika kita menjadi orang baik dan memiliki pandangan yang optimis terhadap lingkungan, maka percayalah, pada akhirnya akan ada orang yang mendukung dan mencintai kita apa adanya sehingga dapat menjadi pendengar dan penyemangat yang baik. Kemudian, saran dari Hosa sendiri adalah menerapkannya dengan cara menunjukan aksi secara langsung yang dapat dimulai dengan hal yang sederhana. Contohnya, seperti membantu teman di perkuliahan yang sedang mengalami kesulitan dalam hal akademis dengan menerapkan mindset menjadi guru secara pribadi, juga sebagai orang lain. Adanya pemikiran seperti ini nantinya dapat memantik perasaan ikhlas dan tidak mengharapkan timbal balik.
Jawaban yang telah diberikan oleh Nia dan Hosa ini dapat membuka mata kita mengenai keindahan dari cinta agape. Meskipun perjalanan menuju cinta agape penuh dengan tantangan (seperti egoisme dan ekspektasi), kita dapat mengatasinya dengan terus berlatih dan melakukan refleksi. Mari, kita bersama-sama menyebarkan semangat cinta yang tulus yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Ingatlah bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan, seperti membantu teman atau berbagi dengan sesama, dapat membawa perubahan besar bagi dunia. God bless you, teman-teman!
Reporter : Radit & Evan
Editor : Ziva & Erica
Desainer : Prakas & Ellys
