Debat dalam lingkup kampus lebih dari sekadar adu argumen, ini adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah logika, menantang sudut pandang, dan membangun kepercayaan diri. Bagi Reynata, Aul, dan Ricky, tiga mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma yang tergabung dalam tim Maslow, pengalaman di tim debat kampus telah membawa mereka pada perjalanan yang penuh dinamika, mengubah cara berpikir dan bertindak mereka. (apakah ada saran untuk mengganti kalimat ini)
Bergabung dengan Tim dan Menemukan Peran Masing-Masing
Reynata memulai perjalanan debatnya sejak awal kuliah di Universitas Sanata Dharma. “Aku langsung tertarik mengikuti program debat begitu masuk kampus,” ungkapnya. Ia kemudian bergabung dengan tim debat setelah dua teman mengajaknya untuk mengisi posisi pembicara kedua. Reynata merasa menemukan minatnya dalam menyusun dan menyampaikan argumen, serta mengasah kemampuannya sebagai pembicara kedua di tim.
Berbeda dengan Reynata, Aulia dan Ricky telah memiliki pengalaman dalam debat sejak masa SMA. Saat pertama kali masuk kuliah, Aul langsung mendaftar di Unit Kegiatan Fakultas (UKF) debat bernama PDF (Psychology Debate Forum). “Begitu ada UKF, aku langsung daftar. Sesimpel itu,” kata Aul. Pada tahun 2021, ia membentuk tim debat pertamanya bersama Ricky. Mereka mengikuti kompetisi dengan antusias, meskipun sempat mengalami tantangan ketika salah satu anggota mundur. Akhirnya, Reynata bergabung menggantikan anggota yang keluar, dan ketiganya pun membentuk tim debat Maslow.
Sebagai pembicara ketiga, Ricky berperan dalam memperkuat argumen tim dan melakukan re-battle untuk menanggapi rival. Dalam tim mereka, pembicara pertama, Aul, memaparkan latar belakang mosi, pembicara kedua, Reynata, menjembatani dengan menyusun argumen utama dan memberikan contoh, sementara Ricky merangkum semua argumen dan menganalisis kekurangan dari tim rival. Menyadari bahwa setiap orang memiliki peran penting, mereka mengembangkan strategi kolaboratif yang mengoptimalkan keunggulan masing-masing.
Istilah Unik Dunia Debat
Dunia debat memiliki bahasa tersendiri yang khas dan jarang ditemukan di luar lingkungan ini. Bagi Reynata, istilah seperti mosi (topik debat yang diangkat) dan case building (proses menganalisis mosi guna merumuskan argumen yang lengkap dan menyeluruh) adalah istilah mendasar yang wajib dipahami oleh setiap peserta debat. “Di debat, kita tidak hanya asal benar atau salah. Semua argumen harus dilandasi data dan logika yang solid,” jelas Reynata.
Aul dan Ricky turut menambahkan beberapa istilah lainnya seperti Point of Interruption (POI), sebuah momen penting ketika peserta bisa menyela rival untuk memberikan respons langsung. Lalu ada Burden of Proof (BOP), tanggung jawab tim untuk membuktikan argumen mereka, yang sering kali menjadi poin kritis dalam perdebatan. Dengan pemahaman istilah dan strategi yang kuat, dunia debat bukan sekadar adu argumentasi, tetapi ajang membangun pemikiran kritis dan penyampaian ide yang mendalam.
Strategi Menyusun Argumen
Dalam setiap perdebatan, persiapan yang matang menjadi kunci sukses. Bagi tim Maslow, proses case building dan pembagian peran adalah strategi utama. Reynata menjelaskan bahwa setiap anggota memiliki tugas spesifik sesuai peran masing-masing. “Pembicara satu menjelaskan latar belakang, saya memperkuat argumen dengan contoh konkret, sementara pembicara tiga menganalisis kelemahan rival dan merangkum,” papar Reynata.
Selain itu, mereka menerapkan strategi waktu saat case building. Setiap anggota diberi kesempatan untuk berpikir sendiri selama lima menit sebelum berdiskusi bersama dalam sepuluh menit berikutnya. Hal ini memungkinkan setiap orang untuk menyumbangkan ide terbaiknya tanpa terburu-buru, sehingga argumen mereka lebih solid dan terpadu. Ricky menekankan pentingnya latihan menghadapi berbagai topik atau mosi, mulai dari isu politik hingga fiksi ilmiah, sebagai bentuk antisipasi agar siap menghadapi segala jenis perdebatan.
Lomba Psyferia: Adaptasi dari Online ke Offline dalam Kompetisi
Salah satu kompetisi yang paling dinantikan oleh tim ini adalah Psyferia, lomba debat bergengsi yang mengundang universitas-universitas ternama di Indonesia. Persiapan panjang dilakukan dengan latihan intensif, bedah mosi, dan mentoring untuk menghadapi mosi resmi dari penyelenggara.
Selain itu, Psyferia menjadi tantangan unik karena dilakukan secara hybrid (offline dan online), berbeda dengan beberapa lomba sebelumnya yang diadakan secara online saja. Ricky menjelaskan bahwa beralih dari mencatat di laptop ke kertas adalah salah satu penyesuaian yang cukup besar. Meski awalnya terasa sulit, mereka akhirnya merasa mencatat di kertas membantu mereka lebih fokus. Tim Maslow juga menyadari bahwa beradaptasi dengan kondisi offline membuat mereka lebih percaya diri dan siap menghadapi juri dan tim rival.
Debat Bukan Hanya Sekadar Argumen, tapi Transformasi Diri
Perjalanan Reynata, Aul, dan Ricky menunjukkan bahwa debat bukan hanya soal menyampaikan argumen, tapi juga tentang membangun komitmen, menjaga komunikasi, dan terus belajar dari setiap tantangan. Mereka sadar bahwa kekuatan tim ada pada kemampuan untuk beradaptasi, tetap fokus pada tujuan bersama, dan memanfaatkan kelebihan tiap anggota.
Dengan kerja sama yang kuat, komitmen tinggi, dan semangat belajar, Reynata, Aul, dan Ricky membuktikan bahwa debat lebih dari sekadar beradu pendapat. Ini adalah proses belajar yang mengasah logika, menguji diri, dan menciptakan pengalaman berharga di setiap langkah.
Reporter : Ren & Elbert
Fotografer : Desy & Stevi
Desainer : Rebecca
