Acara Wayangan: Ruang Pelestarian Budaya Universitas

UKM Karawitan Sekar Marapanjer kembali menggelar Acara Wayangan pada 22 November 2025 sebagai bagian dari agenda tahunan yang telah berlangsung sejak tahun 2016. Acara ini sempat terhenti saat pandemi COVID-19, tetapi akhir-akhir ini kembali rutin dilaksanakan. Wayangan tidak hanya dimaknai sebagai pertunjukan seni semata, melainkan sebagai sarana hiburan dengan sentuhan nilai Budaya Jawa. Melalui acara ini, panitia ingin menunjukkan bahwa Budaya Jawa tidak hanya berbentuk adat dan ritual, tetapi juga seni yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Selain itu, wayangan menjadi salah satu acara besar UKM Karawitan sekaligus wadah untuk memperkenalkan berbagai bentuk seni yang ada di dalamnya.

Dalam wawancara ini, Alicia Delia Putri Utami sebagai Wakil Ketua Panitia Wayangan 2025 serta Christina Anggun Nugroho sebagai koordinator divisi sponsor, menceritakan keterlibatannya dalam penyelenggaraan acara tersebut. Bagi mereka, wayangan bukan sekadar agenda kepanitiaan, tetapi juga ruang belajar dan bentuk nyata upaya melestarikan budaya di lingkungan kampus. Kemudian, mereka juga menambahkan bahwa sebagian besar pengisi acara berasal dari internal UKM Karawitan Sekar Marapanjer, mulai dari dalang, penabuh gamelan, sinden, hingga penari. Meski demikian, panitia juga melibatkan beberapa pengisi acara dari luar UKM untuk mendukung jalannya pertunjukan.

Tema dan Makna yang Diangkat

Wayangan tahun ini mengusung tema “Jangkaning Karsa, Jumurunging Pangangkah” yang menekankan pentingnya niat, semangat, dan dorongan batin dalam menjalani kehidupan. Tema ini menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki cita-cita dan tujuan hidup sejak awal. Namun, niat dan impian tersebut tidak akan tercapai tanpa usaha serta semangat yang kuat. Perjalanan hidup pun digambarkan sebagai proses yang penuh pilihan dan tantangan. Melalui tema ini, panitia mengajak penonton, khususnya mahasiswa, untuk tidak ragu terhadap tujuan hidup yang dimiliki. Pesan tersebut disampaikan melalui nilai budaya yang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Lakon “Eka Cakrawati” dan Nilai Cerita

Lakon yang dibawakan dalam Acara Wayangan kali ini berjudul “Eka Cakrawati”. Cerita ini membahas isu ketulusan cinta, kejujuran, serta dinamika hubungan, baik di kalangan remaja maupun dalam kehidupan rumah tangga. Lakon tersebut dipilih langsung oleh dalang, termasuk penyusunan naskah dan pengembangan ceritanya. Panitia memberikan kepercayaan penuh kepada dalang untuk mengolah pesan cerita agar selaras dengan tema acara.

Nilai yang ingin disampaikan adalah pentingnya ketulusan dan kejujuran dalam membangun sebuah hubungan. Cerita yang dibawakan menunjukkan bahwa hubungan yang baik membutuhkan niat yang kuat serta komitmen yang terus dijaga. Pesan tersebut sejalan dengan tema besar acara yang menekankan niat dan usaha dalam mencapai tujuan hidup. Lakon dan tema pun saling terhubung dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Proses Persiapan dan Tantangan Panitia

Persiapan acara Wayangan mulai dilakukan sejak bulan September dan berlangsung sekitar dua bulan hingga hari pelaksanaan. Selama proses tersebut, panitia melakukan rekrutmen dari berbagai angkatan agar pelaksanaan acara berjalan secara lebih terorganisir. Rangkaian persiapan diisi dengan rapat pleno serta latihan rutin para penampil yang terlibat. Menjelang hari H, panitia juga menggelar gladi kotor dan gladi bersih untuk memastikan kelancaran seluruh rangkaian.

Dalam prosesnya, panitia menghadapi tantangan dalam mengatur kesiapan sumber daya manusia yang memiliki tingkat kesibukan berbeda. Tidak semua panitia dapat terlibat secara aktif sepanjang waktu sehingga dibutuhkannya koordinasi yang lebih intens. Panitia inti pun harus sering melakukan follow-up untuk memastikan progres setiap divisi. Meski menghadapi berbagai kendala, kerja sama yang dilakukan dengan baik membuat acara ini tetap terlaksana sesuai rencana.

Pelaksanaan Acara dan Antusiasme Penonton

Wayangan dilaksanakan di Panggung Realino dengan rangkaian acara yang dimulai dari pembukaan MC, sambutan, hingga pertunjukan wayang yang merupakan inti acara. Penampilan Tari Gambyong dan sindenan turut melengkapi jalannya pertunjukan. Sesi goro-goro yang dibawakan dalang membuat suasana lebih meriah sehingga tidak membosankan.

Selain itu, penonton yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga warga sekitar. Meski berlangsung hingga tengah malam, sejumlah penonton tampak tetap bertahan sampai acara selesai. Menariknya, ada pula penonton yang tidak memahami Bahasa Jawa, tetapi tetap menyaksikan pertunjukan. Hal ini menunjukkan bahwa wayangan tetap dapat dinikmati segala kalangan.

Harapan untuk Keberlanjutan Wayangan

Panitia berharap Acara Wayangan dapat terus dilaksanakan secara rutin pada tahun-tahun mendatang. Acara ini dinilai memiliki potensi besar sebagai sarana pelestarian Budaya Jawa di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Adanya persiapan yang lebih matang, acara ini diharapkan dapat menjangkau penonton secara lebih luas. Ini berkaitan pula dengan target jumlah penonton yang diharapkan dapat meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.

Melalui Acara Wayangan, UKM Karawitan Sekar Marapanjer mengajak mahasiswa untuk tetap menghargai budaya yang dimiliki. Perkembangan zaman tidak seharusnya membuat budaya lokal terlupakan, melainkan bisa terus hidup jika dikenalkan dan dijaga bersama. Bukan hanya Budaya Jawa saja, tetapi juga budaya lokal lain juga bisa menunjukkan keterjangkauannya kepada segala kalangan.

Reporter: Ren
Editor: Angel