Meninggalkan rumah bukan sekadar berganti tempat tinggal, melainkan menjalani pola hidup baru. Kali ini, kami berbincang bersama Claudia Yolanda Gesi dan Gracia Vedruna Xristy Alna yang merupakan mahasiswi Psikologi angkatan 24 Universitas Sanata Dharma. Mereka telah menjalani hidup sebagai anak kos selama kurang lebih satu tahun. Pengalaman mereka di Yogyakarta penuh warna, mulai dari tangis hingga tawa dan ketakutan menjadi kemandirian. Mereka berasal dari dua belahan Indonesia yang jauh, Claudia dari Sumba dan Gracia dari Kalimantan Barat.
Ngekos: Dari Ketakutan sampai Kemandirian
Pada awalnya, Claudia membayangkan menjadi anak kos itu sulit dan kenyataannya memang seperti itu. Hari pertama, ia menangis karena merasa kamarnya terlalu sunyi, tidak seperti rumah yang ramai. Ia juga harus memasak, mencuci baju, dan membereskan kamar sendiri. Hal itu membuat Claudia terlalu lelah, tetapi ia justru belajar banyak hal baru. Terkadang, ia pura-pura tidur saat ibu kos mengetuk pintu karena tidak ingin diganggu.
Berbeda dengan Claudia, awalnya, Gracia memiliki bayangan yang indah tentang menjadi anak kos, tetapi realitanya justru jauh berbeda. Dahulu, ia tidak bisa masak, tetapi sekarang harus belajar masak agar lebih hemat. Gracia juga merasa aneh ketika sakit karena tidak ada yang mengurusnya. Momen sederhana seperti tidak ada orang tua untuk berpamitan ketika berangkat kuliah pun membuatnya terasa sepi. Namun, semua itu membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.
Uang: Masalah Sejuta Anak Kos
Urusan keuangan menjadi tantangan utama bagi Claudia dan Gracia. Claudia menetapkan batas harian 30 ribu rupiah dan belajar mencatat setiap pengeluarannya. Ia membedakan mana kebutuhan yang penting dan mana yang merupakan keinginan. Saat uang menipis, makanan instanlah yang menjadi penyelamat. Biasanya, yang membuat anggaran mingguannya menjadi berantakan dan semakin menipis adalah biaya ojek online.
Begitu pun dengan Gracia yang juga sering kesulitan mengontrol keuangan sehingga pernah dikatatakan boros oleh teman-temannya. Ia mencoba mengatasinya dengan mencatat pengeluaran dan menyisihkan uang untuk kebutuhan mendesak. Ia mengaku uangnya cepat sekali habis, apalagi saat FOMO menyerang. Tantangan untuk tidak checkout membuatnya harus menahan diri dengan keras. Namun, secara perlahan, ia mulai belajar mengelola uang dengan lebih bijak.
Kesepian vs. Kemandirian
Claudia sempat mengalami homesick yang cukup berat, terutama karena kedekatannya dengan keluarga. Hari-hari awal terasa sunyi dan penuh dengan kerinduan, tetapi perlahan ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari proses menjadi dewasa. Orang tuanya kini memberinya kepercayaan lebih sehingga ia belajar menjaga dirinya sendiri. Ia juga belajar kapan harus bercerita kepada sahabat dan kapan perlu menenangkan diri sendiri. Rasa sepi yang dulu menakutkan justru menjadi sumber kekuatan baru baginya untuk bertumbuh.
Sementara itu, Gracia sering merasa hampa ketika kembali ke kamar kos yang sepi. Namun, ia beruntung mempunyai teman dekat yang dikenalnya dari TikTok dan kini menjadi teman sekelas serta salah satu support system terbesarnya. Gracia pun menyadari bahwa pertemanan yang berkualitas jauh lebih penting daripada sekadar memiliki banyak teman. Baginya, teman yang bisa diajak berbagi rasa dan menjalani hari bersama jauh lebih berarti.
Tips dari Dua Petarung Kosan
Claudia dan Gracia memberikan beberapa saran penting bagi Sobat Psymag yang sedang bersiap ngekos untuk pertama kali:
- Jangan FOMO! Tidak semua kegiatan perlu diikuti atau segala barang harus dibeli, apalagi kalau bikin dompet menangis.
- Kelola uang dengan bijak! Tahan godaan checkout, catat pengeluaran, dan pikirkan baik-baik mana yang lebih penting.
- Jagalah kesehatan mentalmu! Temukan ruang bercerita yang aman atau percayakan cerita kepada orang yang tepat. Jangan memendam semuanya sendiri.
- Jangan takut sendiri! Melalui kesendirian, kamu akan belajar menjadi lebih mandiri. Dalam proses itu, kamu akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan mampu berdiri sendiri.
Belajarlah untuk bersyukur! Syukurilah hal-hal kecil, karena meskipun terkadang terasa berat, tetapi masih ada banyak hal yang bisa disyukuri.
Ngekos itu Seru, Kok!
Claudia dan Gracia membuktikan bahwa kehidupan menjadi anak kos bukan hanya tentang bertahan hidup, melainkan sebuah kesempatan untuk bertumbuh. Dari pengalaman sederhana seperti memasak hingga peristiwa tak terduga seperti kehilangan kunci, semuanya menjadi warna tersendiri dalam hidup mereka. Melalui proses tersebut, mereka belajar beradaptasi, mengelola keuangan, dan menjaga diri tanpa harus mengandalkan orang lain. Kehidupan menjadi anak kos membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dewasa. Di balik semua tantangan yang dihadapi, terdapat pula banyak momen lucu yang akan terus dikenang.
Jika saat ini Sobat Psymag sedang menjalani kehidupan sebagai anak kos atau baru memulai, jangan takut! Kalian gak sendirian dalam menghadapi kebingungan, rasa lapar, rindu rumah, atau bahkan kehabisan uang. Hampir semua anak kos pernah melewati hal yang sama. Namun, justru dari pengalaman itulah, kalian akan menemukan kekuatan dari cerita hidup kalian sendiri. Tetap semangat dan teruslah berjuang!
Reporter: Elbert
Editor: Berlian & Eca
Desainer: Abel
Fotografer: Christo & Vike
Website: Prakas
