Topik seputar tips kerja sering kali menarik perhatian mahasiswa, baik yang masih kuliah, menjelang lulus, maupun yang baru saja lulus. Sudah menjadi fakta umum bahwa dunia perkuliahan dan pekerjaan akan sangat berbeda. Kita tidak lagi sekadar mengerjakan tugas untuk nilai pribadi. Ketika berada di dunia profesional, kita bekerja untuk suatu perusahaan industri/organisasi yang menuntut tanggung jawab dan profesionalisme kita sebagai seorang pekerja. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik agar mampu menjadi individu yang berdaya dan bertanggung jawab. Mbak Axcel, sebagai alumni Psikologi Universitas Sanata Dharma, membagikan beberapa hal yang perlu disiapkan mahasiswa untuk menjajaki dunia kerja berdasarkan pengalamannya sebagai rekruter.
CV yang Bikin Dilirik
Mendiskusikan topik terkait tips kerja, tentunya tidak akan lepas dari peran Curriculum Vitae (CV). Bagi Mbak Axcel, CV adalah media berjualan kita yang berisi kelebihan, kekurangan, dan hal menarik dari diri kita di mata rekruter. Menurut Mbak Axcel, terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika ingin menyusun CV yang baik. Berikut poin-poinnya:
- Sesuaikan format CV (ATS atau kreatif) dengan bidang yang dilamar. CV ATS adalah CV berformat sederhana yang ramah sistem pelacak otomatis, sedangkan CV kreatif menonjolkan desain visual untuk menarik perhatian perekrut. Tidak akan sesuai apabila menggunakan CV ATS ketika melamar pekerjaan di bidang kreatif.
- Tuliskan uraian singkat tentang diri kita sendiri. Melalui CV, rekruter akan mengenal latar belakang dan identitas seseorang.
- Cantumkan pengalaman kerja, magang, organisasi, atau kepanitiaan yang pernah diikuti sebagai bukti pengalaman yang relevan.
- Gunakan foto diri yang menarik. Tidak harus formal seperti foto ijazah yang terkesan kaku, tetapi cukup foto semi kasual misalnya hasil dari foto studio untuk menciptakan kesan pertama yang baik.
- Riwayat pendidikan tidak perlu dijabarkan secara rinci. Cukup cantumkan mulai dari jenjang SMA atau kuliah, karena jenjang pendidikan di bawahnya biasanya tidak terlalu relevan bagi rekruter.
- Skala kemampuan sebaiknya tidak dicantumkan karena rekruter akan mempertanyakan dasar pengukurannya. Jika hanya berdasarkan penilaian pribadi, skala tersebut tidak dapat menjamin kemampuan yang sebenarnya.
- Tuliskan hard skill dan soft skill seperlunya tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan.
Ketika berbicara tentang soft skills dan hard skills, bagi Mbak Axcel, kedua hal ini harus saling melengkapi, seimbang, dan sama pentingnya di dunia kerja. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menyadari kekuatannya dan terus mengasah keterampilan yang dirasa masih lemah. Sebab, kedua hal ini bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan kemampuan yang bisa dipelajari, dilatih, dan ditingkatkan seiring waktu agar dapat menjadi bekal yang seimbang dalam menghadapi dunia profesional.
Beberapa orang terkadang memiliki banyak pengalaman, tetapi merasa bingung bagaimana cara menuliskannya dalam CV. Di situasi seperti ini, pengalaman tersebut tetap bisa dicantumkan, tetapi perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dituju. Kuncinya terletak pada kemampuan kita dalam menemukan irisan relevansi atau mengolah pengalaman sebelumnya agar tampak selaras dengan posisi yang diinginkan. Dengan begitu, CV akan terasa lebih terarah dan meyakinkan di mata rekruter.
Selain itu, Mbak Axcel juga menekankan pentingnya kejujuran dan tanggung jawab saat menuliskan kemampuan dalam CV. Jangan pula berbohong, tuliskan apa adanya tapi jangan rendah diri. Cukup cantumkan pengalaman yang relevan dan menonjol, seperti saat menjabat sebagai koordinator, ketua, atau peran penting lainnya agar rekruter dapat melihat potensi yang dimiliki. Begitu pula dengan sertifikat, tidak perlu mencantumkan semuanya, cukup pilih yang relevan seperti workshop atau pelatihan. “CV yang baik, singkat, padat, jelas, jangan lebih dari dua lembar, dan menarik. Semakin banyak dan bertele-tele maka akan membosankan,” ujar Mbak Axcel.
Cari Kerja Zaman Now
Masih berkaitan dengan mencari pekerjaan, di era modern saat ini, lowongan kerja dapat ditemukan dari berbagai sumber. Banyak perusahaan menyebarkan informasi lowongan melalui media sosial, website resmi, maupun aplikasi khusus pencari kerja. Beberapa platform populer di antaranya adalah Jobstreet dan Glints. Sementara itu, media sosial seperti Telegram, Instagram, dan LinkedIn juga menjadi tempat yang efektif untuk menemukan peluang kerja.
Mengenai LinkedIn, Mbak Axcel menganggapnya sebagai media sosialnya para pekerja karena di aplikasi itulah dinamika interaksi sesama pekerja terjadi. “Untuk LinkedIn itu adalah media pertama teman-teman untuk menjalin relasi secara profesional. Misalnya, temen-temen belum lulus, nggak masalah, tapi silakan perbanyak relasi,” ungkap Mbak Axcel. Mengapa demikian? LinkedIn cenderung digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan kehidupan pribadi penggunanya. Oleh karena itu, idealnya, saat mencantumkan akun LinkedIn di CV, pastikan akun tersebut aktif dan terurus. Caranya dapat dilakukan dengan memperbarui foto profil, melengkapi pengalaman kerja, dan membangun koneksi dengan pengguna lain secara berkala. Sebagai pengguna aktif, Mbak Axcel sendiri kerap memanfaatkan LinkedIn untuk mencari kandidat maupun membagikan informasi lowongan pekerjaan yang ia ketahui.
Dinamika Wawancara
Ketika memasuki tahap wawancara, pelamar sering kali dihadapkan pada pertanyaan, “Kenapa kami harus memilih Anda?” Bagi yang belum terbiasa, pertanyaan ini bisa terasa membingungkan. Untuk menghadapinya, Mbak Axcel membagikan beberapa tips praktis, yaitu beberapa tips praktis, yaitu yakinkan diri bahwa kita memang menginginkan posisi tersebut, tetap tenang, tonjolkan hard skill dan soft skill yang dimiliki, serta lengkapi dengan pengalaman kerja yang relevan. “Kata ‘kenapa’ nya itu dijawab dengan kemampuanmu dan juga dilengkapi dengan pengalaman kerjamu. Ngomongnya harus yakin dan percaya diri,” ujar Mbak Axcel.
Selain itu, dalam menuliskan atau menjelaskan kelebihan dan kekurangan, taktik yang dapat digunakan adalah “merendah untuk meroket,” yang berarti jelaskan secukupnya tanpa melebih-lebihkan. “Tuliskan kelebihan dengan apa adanya diri, kekurangan diisi dengan yang kita yakin sudah bisa mengatasinya atau tahu solusinya,” ujar Mbak Axcel. Intinya, dalam menyatakan kelebihan perlu dilengkapi dengan bukti, sedangkan untuk menyatakan kekurangan perlu dilengkapi dengan solusi.
Ketika sudah memasuki tahap interview ini, tidak ada salahnya untuk melakukan follow up kepada pewawancara terkait perkembangan hasilnya. Sebab, tindakan ini dapat memberikan kesan bahwa kita benar-benar tertarik pada posisi tersebut. Sebagai rekruter, Mbak Axcel mengungkapkan bahwa ia lebih menghargai pelamar yang memahami perusahaan tempat mereka melamar dan mengetahui posisi yang dituju. Pelamar seperti ini menunjukkan kesiapan dan keseriusan, berbeda dengan mereka yang datang ke wawancara tanpa persiapan, seolah-olah hanya hadir dengan tangan kosong.
Antara Ilmu, Arah, dan Sikap
Melalui sudut pandangnya, Mbak Axcel berpendapat bahwa kemauan untuk belajar merupakan hal penting yang perlu dimiliki oleh mahasiswa. Ada beberapa hal yang tidak diperoleh melalui materi perkuliahan sehingga mahasiswa perlu menggali lebih dalam minat belajarnya. Belajar dapat dilakukan dari mana saja, seperti mengikuti webinar, workshop, pelatihan, atau bahkan sekadar mencari tahu cara menyusun CV yang baik. Sebab, hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi fresh graduate, apabila tidak memiliki kemauan untuk belajar hal-hal baru. Kurangnya fleksibilitas dan sikap yang kaku justru akan menghambat perkembangan diri di dunia kerja.
Tantangan lainnya adalah ketika mahasiswa tidak memahami arah hidupnya. Padahal, mengetahui tujuan hidup merupakan hal yang sangat penting. Meskipun arah tersebut bisa saja berubah seiring waktu, tidak perlu khawatir karena perubahan adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, mahasiswa perlu bersikap fleksibel dan dinamis. Selanjutnya, dalam menentukan sesuatu, tidak harus terpaku pada satu pilihan. Namun, memiliki target tetap penting karena akan berpengaruh terhadap langkah-langkah ke depan.
“Relasi itu penting, tapi pengalaman kerja juga penting. Kalau misalnya ada kesempatan buat belajar bekerja, silakan dicoba. Pengalaman di kepanitiaan dan organisasi tidak sebanding dengan pengalaman ketika bekerja, semua harus balance. Ada juga yang pengalaman kerjanya banyak, akademiknya berantakan. Jadi, semua tetep harus balance, ya relasimu, ya pengalaman kerjamu, ya akademikmu. Karena ketika kamu masih kuliah, kamu masih jadi tanggungan orang tua. Jangan sampai orang tuamu terlalu lama membayar UKTmu, itu mahal.” ungkap Mbak Axcel pada akhir wawancara.
Kerja Nggak Menakutkan Kalau Siap!
Dunia kerja memang penuh tantangan, tetapi bukan berarti tidak bisa dipersiapkan. Menjadi fresh graduate bukanlah alasan untuk tidak siap, justru masa transisi ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai membekali diri. Mulai dari menyusun CV dengan cermat, membangun koneksi melalui platform profesional seperti LinkedIn, hingga berlatih menjawab pertanyaan wawancara dengan percaya diri. Semua itu merupakan langkah konkret menuju kesiapan kerja. Pada dasarnya, mahasiswa secara tidak langsung sudah mulai belajar mengaplikasikan langkah-langkah tersebut dalam level kecil ketika kuliah, misalnya dengan mendaftar organisasi atau kepanitiaan. Mahasiswa sudah berlatih menulis CV dan melakukan tahapan interview yang nantinya secara formal akan digunakan dalam dunia kerja.
Seperti yang telah disampaikan oleh Mbak Axcel, kunci utamanya adalah kemauan untuk belajar, fleksibel, dan bertanggung jawab. Dengan menjaga keseimbangan antara akademik, pengalaman, dan relasi, mahasiswa bisa melangkah ke dunia kerja dengan lebih percaya diri. Oleh karena itu, jangan menunggu sampai lulus, persiapkan bekalmu mulai dari sekarang!
Reporter: Nia
Editor: Eca & Berlian
Desainer: Kei
Fotografer: Christo
Website: Isak
