Gaslighting: Cinta Manipulatif dalam Relationship

Apakah kalian pernah merasa atau melihat seseorang dalam hubungan romantik yang tidak bisa lepas dari pasangannya? Siap mengorbankan apa saja, menuruti semua keinginan pasangan, dan seakan diri tidak berdaya tanpa adanya pasangan kalian. Jangan-jangan kalian terjebak dalam hubungan gaslighting? Mari kita telisik apa yang dimaksud dengan gaslighting dalam sebuah hubungan!

Berdasarkan Cambridge Dictionary (2022) kata gaslighting merujuk pada bentuk psychological abuse yang mencakup tindakan mengendalikan individu dengan cara ekstrim, seperti mengklaim adanya gangguan jiwa pada diri mereka. Sedangkan menurut American Psychological Association (2023), gaslighting merupakan tindakan memanipulasi orang lain dengan meragukan persepsi, pengalaman, atau pemahaman mereka tentang suatu peristiwa yang cenderung ekstrim sehingga menyebabkan penyakit mental. Maka, dapat dimaknai bahwa gaslighting merupakan usaha yang dilakukan gaslighter untuk memanipulasi secara emosional dengan cara mengontrol keyakinan, reaksi, dan ingatan korbannya serta meyakinkan mereka bahwa hal yang dialami bukan hanya sekadar kekeliruan, tetapi juga tidak mendasar pada apapun.

Kata gaslighting sendiri berasal dari adaptasi sebuah drama film tahun 1944 yang berjudul “Gas Light”. Di dalam film tersebut, diceritakan bahwa suami Paula, yaitu Gregory, mengisolasi dirinya dan membuatnya percaya bahwa ia gila. Strategi eponim yang digunakan oleh Gregory dengan cara meredupkan dan menyalakan lampu gas hingga membuat Paula terbayang akan hal tersebut, membantu Gregory untuk melemahkan kesadaran diri serta mendistorsi persepsi realitas Paula, sehingga dirinya harus menerima realitas yang dipaksakan oleh Gregory (Sweet, 2019).

Klein et al. (2022) menemukan pola perilaku gaslighting  umumnya muncul dalam hubungan love bombing dan victim isolation. Love bombing merupakan perasaan intens di awal hubungan yang membuat individu memberikan afeksi yang cenderung berlebihan kepada pasangannya, sehingga dapat membuat korban mengabaikan dan cenderung mentolerir hal negatif yang dilakukan gaslighter.

Victim isolation merupakan usaha mengontrol lingkungan sosial seseorang, sehingga aktivitasnya terbatas. Usaha tersebut membuat gaslighter lebih mudah mengendalikan korbannya. Setelah terisolasi, korban akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sosial, dan isolasi sosial akan menimbulkan perasaan “kehilangan pegangan” pada kenyataan (shell of themselves) (Klein et al., 2022).

Lantas, apa indikator perilaku gaslighting? Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa pasangan melakukan gaslighting atau menjadi korban gaslighting? Berikut adalah 5 tipe gaslighting:

  1. Outright-lying
    Gaslighter akan berbohong untuk membela diri dalam suatu argumen, bahkan dapat bersumpah hal tersebut benar-benar terjadi untuk membuat korban percaya (Sarkis, 2017).
  2. Manipulating of reality
    Gaslighter memanipulasi realitas korban dengan tujuan melemahkan kepercayaan dirinya.
  3. Scapegoating
    Pengalihan kesalahan dan tanggung jawab pelaku kepada korban, orang lain, atau hal lain yang berusaha membuat gaslighter terlihat sempurna tanpa kesalahan.
  4. Coercion
    Intimidasi fisik dan psikologis yang dilakukan oleh gaslighter terhadap korban sebagai bentuk usaha memaksa korban untuk memenuhi keinginannya.
  5. Trivialization
    Gaslighter berusaha membuat diri, perasaan, dan pemikiran korban tidak bermakna, tidak penting, dan selalu salah. Sehingga hanya gaslighter yang benar dalam hal ini,yang membuat korban bertanya pada diri sendiri, apakah dirinya menjadi terlalu sensitif secara terus menerus (Stern, 2009).

Gaslighting dapat berdampak terhadap kesehatan mental dan fisik. Conrad (2022) menemukan individu yang terjebak sebagai korban gaslighting dapat mengembangkan gangguan kecemasan, depresi, disorientasi, rendah diri, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), rasa takut akan bahaya yang berlebihan (hypervigilance), hingga pemikiran untuk mengakhiri hidup. Korban juga dapat mengalami psychosis yang merusak kognisi dan ketidakstabilan emosi sehingga  membuat individu sulit membedakan imajinasi dengan realita (Petric, 2022). 

Lantas bagaimana upaya keluar dan pulih dari gaslighting? Terdapat enam tahapan yang dapat dilalui, yaitu:

  1. Despair, korban mempertanyakan penyebab dan tidak menerima keadaan,
  2. Education, mempelajari situasi yang terjadi,
  3. Awakening, mulai terjadi kesadaran untuk berubah dan keluar dari hubungan manipulatif ini, 
  4. Boundaries, dimana muncul tindakan mengambil tindakan dengan membuat batasan, 
  5. Restoration, berusaha memulihkan kondisi, 
  6. Maintenance, menjaga konsistensi keluarnya dari hubungan gaslighting.

Selain upaya penyelesaian secara pribadi, mencari dukungan mental dari konselor atau terapis lainnya menjadi sarana yang efektif (Conrad, 2022). Melakukan komunikasi asertif dengan pasangan, keluarga, dan tenaga profesional dapat membantu untuk mengembangkan keterampilan mengelola keraguan dan kecemasan yang dialami dalam hubungan, karena mendiskusikan permasalahan hubungan romantik ke tenaga profesional merupakan sesuatu yang normal dalam upaya membangun hubungan (Lukyani, 2021).

Daftar Pustaka

Abramson, K. (2014). Turning up the lights on gaslighting. Philosophical Perspectives, 28(1), 1-30. 10.1111/phpe.12046  

American Psychological Association (2023) APA Dictionary of Psychology. Diakses pada 05 Mei, 2024, melalui https://dictionary.apa.org/gaslight 

Cambridge Dictionary. (2022). Gaslighting. Dalam Cambridge Dictionary. Diakses pada 05 Mei, 2024, melalui https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/gaslighting  

Conrad, M. (2022, Maret 17). What is gaslighting: Meaning, examples and support. Forbes. Diakses 05 Mei, 2024, melalui https://www.forbes.com/health/mind/what-is-gaslighting/ 

Freedman, G. (2021). Gaslighting. https://www.academia.edu/49525161/Gaslighting 

Johnson, V., Nadal, K. L., Sissoko, G. D., & King, R. (2021). “It’s not in your head”: Gaslighting, splaining, victim blaming, and other harmful reactions to microaggressions. Perspectives on Psychological Science, 16(5), 1024 –1036. http://dx.doi.org/10.1177/17456916211011963 

Klein, W., Wood, S., & Li, S. (2022). A qualitative analysis of gaslighting in romantic relationship. Psyarxiv preprints. https://doi.org/10.31234/osf.io/cjrpq

Lukyani, L. (2021, Oktober 21). Mengenal gaslighting dan contoh perilakunya. Kompas. Diakses pada 05 Mei, 2024, melalui https://www.kompas.com/sains/read/2021/10/21/090200423/mengenal-gaslighting-dan-contoh-perilakunya 

March, E., Kay, C. S., Dinić, B. M., Wagstaff, D., Grabovac, B., & Jonason, P. K. (2023). “It’s all in your head”: Personality traits and gaslighting tactics in intimate relationships. Journal of Family Violence. http://dx.doi.org/10.1007/s10896-023-00582-y 

Petric, D. (2022). Psychology of abusive human behavior. Open Journal of Medical Psychology, 11, 29-38. https://doi.org/10.4236/ojmp.2022.112003 

Sarkis, S. (2017, Februari 13). Why gaslighters accuse you of gaslighting. Psychology Today. Diakses pada 05 Mei, 2024, https://www.psychologytoday.com/intl/blog/here-there-and-everywhere/201702/why-gaslighters-accuse-you-gaslighting 

Stern, R. (2009, Mei 19). Are you being gaslighted? Psychology Today. Diakses pada 05 Mei, 2024, melalui https://www.psychologytoday.com/intl/blog/power-in-relationships/200905/are-you-being-gaslighted

Sweet, P. L. (2019). The sociology of gaslighting. American Sociological Review, 84(5), 851–875. https://doi.org/10.1177/0003122419874843 

Reporter : William
Editor : Aurel & Inggrit
Desainer : Ikhe & Karniela