Ikatan cinta yang tulus seringkali menjadi landasan pertemanan yang langgeng. Setiap orang tentu berharap hubungannya dengan teman didasari ketulusan, dalam hal ini merujuk pada Cinta Agape. Pada opini mahasiswa kali ini, kita akan mengulas secara mendalam konsep agape dalam pertemanan bersama Farel dan Rachel, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
Agape mungkin terdengar asing bagi teman-teman. Maka dari itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna dari agape. Agape dapat diartikan sebagai cinta yang murni tanpa mengharapkan imbalan. Dalam pertemanan, agape berarti kasih sejati yang diberikan tanpa pamrih kepada teman kita. Farel dan Rachel sepakat bahwa sebuah hubungan pertemanan dapat dikatakan agape apabila hubungan tersebut didasari dengan ketulusan hati dan rasa ikhlas. Kemudian, Farel menambahkan bahwa agape lebih mungkin terjadi dalam hubungan pertemanan dibandingkan hubungan lain. Dalam pertemanan, ketulusan menjadi fokus utama karena biasanya tidak ada harapan akan sesuatu yang besar. Hal ini tentunya berbeda dengan hubungan cinta ke orang tua atau pacar, yang seringkali melibatkan harapan akan dukungan materi yang lebih besar.
Agape tidak selalu hadir dalam setiap hubungan pertemanan, kehadirannya sangat bergantung pada bagaimana seseorang memaknainya. Menurut narasumber, jika hubungan ini dilandasi oleh harapan akan imbalan materi atau bantuan tertentu, hal itu lebih menyerupai hubungan yang berorientasi pada manfaat daripada mencerminkan agape. Namun, bukan berarti agape mustahil ditemukan dalam pertemanan. Menurut Farel, pertemanan pada masa kanak-kanak cenderung lebih murni dan tulus tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi. Bagi Rachel, pertemanan yang didasari ketulusan tanpa rasa curiga memberi ruang untuk agape tumbuh dan bertahan dalam diri.
Agape dalam pertemanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pemenuhan kebutuhan pribadi hingga pengalaman masa kecil. Menurut narasumber, apabila seseorang masih berjuang memenuhi kebutuhan materi atau sosial, agape cenderung sulit muncul. Di sisi lain, ketika aktualisasi diri sudah tercapai, hubungan bisa lebih tulus tanpa mengharapkan balasan. Pola asuh yang penuh kasih sayang dari orang tua dan dukungan teman sejak kecil juga berperan penting.
Farel menemukan agape dalam hubungan pertemanannya ketika masa SMA. Agape yang digambarkan bersifat timbal balik, seperti kerelaan untuk membantu teman dari segala aspek dan sebaliknya. Dukungan emosional menjadi alternatif ketika bantuan materi tidak dapat diberikan, sehingga keterbatasan ini bukan menjadi alasan runtuhnya hubungan tersebut. Hal ini memungkinkan hubungan akan tetap erat tanpa adanya syarat apa pun.
Rachel juga menegaskan bahwa agape bersifat timbal balik dalam hubungan pertemanan. Afeksi, afirmasi, atau sekedar memberi hadiah kecil menjadi wujud agape dalam pertemanannya. Namun, terlepas dari semua itu, ia menambahkan bahwa kemauan untuk tetap mempertahankan hubungan yang baik, termasuk menyampaikan ketidaknyamanan adalah agape itu sendiri.
Dalam menerapkan agape dalam pertemanan, Farel dan Rachel menghadapi tantangan yang berbeda. Farel terkendala karena keterbatasan sumber daya, sehingga tidak dapat memberikan bantuan. Hal ini membuatnya merasa tidak enak dan sering mengalami kesalahpahaman. Untuk mengatasi hal tersebut, ia memberikan bantuan berupa dukungan emosional dan verbal sebagai alternatif, serta berusaha bersikap bijak dan berpikir panjang sebelum bertindak. Sementara itu, tantangan yang dihadapi Rachel lebih mengarah pada kurangnya keterbukaan antara satu sama lain. Ia mengatasinya dengan meningkatkan keterbukaan dan sering melakukan bonding dengan temannya.
Berdasarkan pengalaman yang diungkapkan oleh kedua narasumber, terdapat beberapa cara untuk mempertahankan hubungan pertemanan yang dilandasi agape. Cara yang dapat diterapkan cukup sederhana, yaitu dengan meluangkan waktu bersama untuk bertemu supaya dapat saling mengenal lebih dalam. Kedekatan yang terjalin dari setiap pertemuan, dapat menjadi langkah untuk mempererat hubungan antar sesama. Saling memberikan kritik dan saran yang membangun, serta memberikan yang terbaik juga dapat mempertahankan agape. Adanya bonding antarteman, dapat menjadi langkah mudah untuk kita semua yang ingin mencoba menerapkan agape dalam hubungan pertemanan. So, jagalah pertemanan yang dimulai dari langkah kecil! 🙂
Reporter: Armel & Tasya
Editor: Shelma & Vara
Fotografer: Melti
Desainer: Abel
Website: Prakas
