Apa yang pertama kali muncul dalam benak kalian saat mendengar kata “mahasiswa psikologi”? Bisa baca pikiran? Dukun? Ahli melihat aura manusia? Kenyataannya, menjadi mahasiswa psikologi jauh lebih kompleks daripada sekadar tebakan-tebakan itu. Ada perjalanan penuh tugas, refleksi diri, skripsi yang kadang tak kunjung selesai, dan tentu saja pencarian jati diri.
Artikel Tips Alumni kali ini, kita berbincang dengan Kak Chyntia, alumni Psikologi Sanata Dharma angkatan 2021 yang berhasil lulus hanya dalam 3,5 tahun. Kini, ia bekerja sebagai Student Pathway Counselor di Sekolah Kristen IPEKA Sunter Agung, Jakarta. Pekerjaannya berada di bidang yang sangat dekat dengan bimbingan belajar, konseling individu, dan pemetaan karier masa depan siswa.
Sebelum sampai pada tips jitu ala Kak Chyntia, yuk kita intip kisah perjalanannya!
Perjalanan Menemukan Panggilan Hidup
Selayaknya kebanyakan orang, Kak Chyntia juga sempat mengalami kebingungan dalam menentukan jurusan kuliah. Setelah lulus SMA, ia merasa bisa menyesuaikan diri di banyak bidang sehingga membuatnya semakin bingung dalam menentukan jurusan. Sebelum menetapkan hati pada jurusan psikologi, Kak Chyntia sempat melipir ke beberapa jurusan, seperti teknik lingkungan, manajemen industri, bahkan komputer. Namun, pilihan akhirnya jatuh kepada jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma setelah mendapat rekomendasi dari saudaranya di Yogyakarta dan melakukan riset pribadi.
Selama berkuliah, Kak Chyntia sempat mengikuti berbagai volunteer di bidang SDM. Namun, dari kegiatan itu, ia justru merasa bahwa bidang PIO (Psikologi Industri dan Organisasi) bukanlah panggilan hidupnya. Ia kemudian memutuskan untuk mencoba terjun langsung ke dunia konseling anak-anak, bukan hanya karena tertarik, melainkan karena adanya pengalaman serupa yang pernah ia alami. Ia ingin memastikan tidak ada anak yang harus merasakan tumbuh dalam kebingungan tanpa arahan. Hal ini juga yang menjadi pertimbangannya untuk melanjutkan kuliah profesi nantinya.
Setiap mahasiswa psikologi pasti punya masa-masa berat tersendiri. Bagi Kak Chyntia, semester 5 adalah titik paling menantang selama perkuliahan. Proyek menumpuk, jadwal padat, belum lagi peran yang dijalaninya saat itu cukup banyak, mulai dari menjadi asisten kognitif, volunteer SDM, hingga tergabung dalam BEMF. Banyaknya kegiatan tersebut membuat manajemen waktu menjadi ujian tersendiri. Ditambah lagi saat mengerjakan skripsi, ia harus mengganti judul dan mengulang hasil kerja kerasnya dari bab 1–3. Meskipun saat itu menjadi masa yang sulit baginya, setidaknya ia dapat menyelesaikannya dengan baik.
Kak Chyntia menjelaskan pengalamannya dan memberikan tips sukses buat mahasiswa psikologi. Berikut beberapa poin pentingnya:
- Mempunyai motivasi mengerjakan skripsi
Kak Chyntia kasih pemahaman bahwa skripsi bukan perihal yang paling rumit, bukan yang muluk-muluk, selesai adalah kuncinya.
- Punya timeline dan disiplin pada diri sendiri
Misalnya sekadar membuat notes di HP bisa sangat membantu. Target dari hari ke hari untuk mengerjakan tugas jauh lebih realistis daripada menunggu mood bagus.
- Cari teman seperjuangan.
Teman berperan cukup penting, terutama teman yang dapat mendorong kita untuk terus maju. Kak Chyntia menyampaikan bahwa ketika melihat teman kita mengerjakan tugas, kita juga ikut terdorong untuk mengikutinya.
- Mengejar dosen pembimbing
Chat ulang dosen dengan tetap memerhatikan etika, jika pesan belum dibalas. Hal ini juga tentunya harus sesuai dengan persetujuan dari dosen terkait. Setiap dosen mempunyai cara dan gaya masing-masing dalam membimbing mahasiswa.
- Rancang judul dan subjek penelitian sejak semester 5
Sesuaikan judul dengan subjek yang ada dan usahakan untuk memilih subjek yang mudah diakses seperti mahasiswa usia 18–25 tahun. Subjek yang terlalu spesifik dapat membuat proses makin panjang dan sulit dicari, kecuali sejak awal memang sudah mendapatkan subjek tersebut.
- Siapkan plan
Penting menyiapkan plan untuk situasi yang tidak terduga, termasuk membuat cadangan judul.
- Usahakan menyelesaikan 3 bab di semester 6.
Bukan tanpa alasan, Kak Chyntia menyampaikan bahwa hal ini dapat sangat menghemat waktu sehingga semester 7 dapat fokus pada dua bab terakhir.
Selain akademik, perjalanan organisasi memberi warna tersendiri dalam mewarnai perkuliahan Kak Chyntia. Ia memiliki pengalaman menjadi tutor AKSI angkatan 22 dan masih dekat dengan adik-adiknya sampai sekarang. Ia mengaku menjadi tutor membuatnya merasa bahagia karena dapat berguna dan membantu sesama. Selain itu, Kak Chyntia juga mengikuti BEMF di Departemen Sosro (Sosial–Rohani), dengan program Ngopi Manis. Program tersebut mirip dengan KKN, di mana mereka harus turun ke desa, berbaur, menganalisis kebutuhan masyarakat, dan memberikan intervensi. Kak Chyntia mengaku sangat senang dengan program kerja yang berbau pelayanan sosial karena sebagai manusia, ia merasa berguna dan dibutuhkan oleh orang lain.
Pelajaran Hidup dari Psikologi Sanata Dharma
Pengalaman dari kampus membuat Kak Chyntia belajar menjadi pribadi yang lebih reflektif. Baginya, setiap peristiwa dalam hidup, baik maupun buruk selalu memiliki makna tersendiri. Sikap reflektif membuatnya lebih mampu mengevaluasi diri, bersyukur, dan bersikap objektif dalam memahami perilaku orang lain. Kemampuan ini juga terbukti sangat membantunya dalam dunia kerja, terutama ketika ia harus bersikap netral dalam menghadapi konflik antara orang tua dan anak dalam proses konseling.
Awal Karier: Realita Tidak Semanis IP Tinggi
“Know your worth.” Itu pesan utama Kak Chyntia.
Meskipun lulus cepat dan memiliki IP tinggi, Kak Chyntia tetap mengalami masa-masa sulit dalam mencari pekerjaan. Banyak perusahaan lebih mengutamakan keterampilan, pengalaman, serta portofolio dibandingkan nilai akademik semata.
Kak Chyntia mengaku pernah mengalami kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Ia bahkan mendapat tawaran pekerjaan dengan gaji 1–2 juta, jumlah yang tidak sebanding dengan nilai dirinya maupun kebutuhan hidup di daerah tersebut.
Selain itu, Kak Chyntia juga sempat memiliki pengalaman perubahan jadwal mendadak dari sebuah perusahaan, yang akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kesempatan itu. Namun, keputusan itu justru membawanya pada pekerjaan yang lebih tepat menangani anak-anak sebagai Student Pathway Counselor, sebuah bidang yang sangat sesuai dengan minat dan panggilan hidupnya.
Skill yang Wajib Dimiliki Lulusan Psikologi
Menurut Kak Chyntia, mahasiswa psikologi perlu menguasai komunikasi yang efektif, kepekaan dalam observasi, dan kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan problem solving. Keterampilan tersebut sangat dibutuhkan di dunia kerja, terlebih karena persaingan yang ketat, terutama pada posisi Human Resources (HR). Jumlah lowongan terbatas, pelamar banyak, sementara beban kerja juga tidak ringan. Oleh karena itu, pengalaman, portofolio, dan kemampuan menjadi nilai tambah penting.
Kak Chyntia berharap dunia pendidikan semakin menyadari pentingnya peran psikologi dan bimbingan konseling bagi kesejahteraan siswa. Ia juga berharap semakin banyak siswa yang terbantu menemukan tujuan hidup dan jurusan yang tepat dengan adanya psikologi pendidikan.
Kak Chyntia juga berpesan bagi mahasiswa psikologi agar memperbanyak pengalaman, mulai dari organisasi, volunteer, hingga magang (misalnya magang WFH selama 3–6 bulan). Ia juga menyarankan agar mahasiswa menerapkan timeline pengerjaan skripsi menggunakan sistem reward and punishment. Selain itu, adanya inisiatif untuk mencari informasi beasiswa, belajar dengan sungguh-sungguh, aktif selama perkuliahan, serta membangun relasi baik dengan dosen untuk mempermudah pengajuan surat rekomendasi.
Akhir kata, know your worth!
Reporter: Vanes
Editor: Berlian & Keisha
Desainer: Abel
Website: Isak
