SAKIT TANPA SEBAB, APAKAH LAGI STRES?

Pernahkah tubuh Anda tiba-tiba merasakan sakit tanpa penyebab yang jelas? Bahkan setelah melalui pemeriksaan medis, misteri sakit tersebut tetap tidak terpecahkan? Jangan khawatir jika Anda pernah mengalami situasi semacam ini, mungkin saja itu adalah gejala dari gangguan psikosomatis. Ketika kondisi psikologis kita mempengaruhi kesehatan fisik, itulah yang disebut psikosomatis. Dalam tubuh manusia, terdapat hubungan kompleks antara kesejahteraan mental dan kondisi fisik yang sering kali luput dari perhatian kita. Di balik gejala fisik yang mungkin dirasakan, terdapat keterkaitan antara pikiran dan tubuh manusia.

Ketika berbicara tentang psikosomatis, kita membicarakan kondisi di mana “soma” atau tubuh kita menunjukkan gejala fisik yang sedang sakit. Penyakit yang muncul bisa beragam, baik itu berasal dari organ dalam tubuh maupun dari luar. Sebagai contoh sederhana, saat mendekati ujian, seseorang tiba-tiba mengalami gangguan pencernaan seperti diare. Namun, yang memicu gangguan tersebut sebenarnya adalah kecemasan menghadapi ujian, yang menunjukkan bahwa kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi kesehatan fisiknya.

Bagaimana pikiran bisa memberikan dampak fisik yang signifikan bagi kesehatan seseorang? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, psikosomatis adalah kondisi di mana gangguan fisik dipicu oleh permasalahan psikologis. Teori stres menegaskan bahwa pikiran yang terbebani atau tegang dapat memicu respon fisik yang merugikan. Dalam kasus psikosomatis, bagian tubuh yang terkena sakit dipengaruhi oleh tingkat kerentanan tubuh terhadap penyakit bawaan. Faktor genetik dari orang tua adalah salah satu penentu utama kerentanan tubuh manusia. Setiap individu memiliki kerentanan fisiknya sendiri dan cenderung mengalami sakit pada bagian tertentu, seperti perut, kepala, kaki, tergantung pada sensitivitas tubuh masing-masing. Namun, dalam kasus yang lebih serius, dampaknya bisa melibatkan seluruh bagian tubuh manusia. Selain itu, faktor genetik juga bisa memicu munculnya penyakit kronis, seperti serangan jantung dan diabetes.

Hubungan antara psikosomatis dan respon tubuh manusia terhadap stres sangatlah erat. Ketika kita dihadapkan pada situasi stres, tubuh kita segera bereaksi dengan mengalirkan energi. Energi ini diproduksi melalui metabolisme gula darah, yang berarti jika kita terus-menerus menghabiskan energi ini, metabolisme tubuh akan meningkat dengan drastis. Bayangkan jika hal ini terus terjadi secara berlebihan, dampaknya dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh kita. Selain itu, fungsi-fungsi tubuh lainnya menjadi kurang optimal.

Meskipun sering kali dianggap negatif, stres sebenarnya memiliki peran penting jika dapat dikendalikan dengan baik. Stres mempersiapkan kita untuk melawan (fight) atau melarikan diri (flight) ketika menghadapi situasi tertentu. Ketika kita merasakan stres, sebenarnya kita sedang beradaptasi dengan apa pun yang dianggap sebagai ancaman dalam kehidupan kita. Artinya, stres memiliki fungsi adaptasi yang penting dalam kehidupan, termasuk bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap tantangan. Misalnya, saat terjadi gempa, bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda siap untuk menyelamatkan diri? Jika seseorang tidak mengalami stres, itu bisa menunjukkan kegagalan dalam beradaptasi, dan ketika bencana terjadi, kemungkinan besar keselamatan mereka akan terancam. Melalui stres, tubuh memberikan respon tertentu sehingga kita memiliki energi yang cukup untuk fight atau flight. Selain itu, stres juga membuat kita lebih waspada dan dapat meningkatkan keaktifan indra penglihatan kita. Oleh karena itu, dengan stres, seseorang dapat menjadi lebih adaptif.

Namun, di era modern ini, ancaman terhadap manusia menjadi semakin kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kepribadian di mana hal-hal yang seharusnya tidak menjadi ancaman sering kali dianggap sebagai ancaman. Ada orang yang cenderung mudah cemas terhadap segala hal sehingga tubuhnya terus-menerus memicu respon stres dan mengeluarkan energi dalam jumlah besar, meningkatkan tingkat kewaspadaan yang bisa menyebabkan gangguan tidur, serta masalah fisik dan psikologis lainnya. Bahkan, penyakit degeneratif dapat dipicu oleh stres.

Siapakah yang berisiko terkena psikosomatis? Psikosomatis dapat memengaruhi manusia  dari segala usia, kecuali jika penyakit fisik yang muncul bersifat degeneratif, biasanya terjadi pada orang berusia 40 tahun ke atas karena tubuhnya telah mengalami penurunan fungsi. Namun, secara umum, individu yang berisiko terkena psikosomatis adalah mereka yang rentan terhadap stres dan memiliki kepribadian tertentu. Sebagai contoh, orang yang cenderung perfeksionis, yang menginginkan kesempurnaan dalam segala hal sesuai dengan standar yang mereka inginkan. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, mereka rentan mengalami stres, terutama jika memiliki kerentanan fisik yang memperburuk kondisi tubuh mereka.

Apakah mahasiswa dapat terkena psikosomatis? Jawabannya tentu saja iya, bahkan kemungkinannya cukup besar. Misalnya, menjelang ujian mereka sudah merasa cemas dengan materi yang akan diujikan, dan akibatnya, muncul rasa tidak enak di perut karena respon psikologis yang berlebihan memengaruhi kondisi fisik mereka. Psikosomatis dapat memberikan dampak yang signifikan pada tubuh manusia karena dapat mengganggu fungsi tubuh dan kesejahteraan diri secara keseluruhan. Jika sering terjadi, hal ini dapat mengganggu fungsi diri seseorang secara menyeluruh.

Dari pembahasan mengenai psikosomatis, tampak bahwa gejala gangguan psikosomatis sering kali terwujud dalam keluhan fisik. Ketidaknyamanan yang dirasakan secara fisik bisa menjadi hasil dari stres atau masalah psikologis yang tengah dialami individu. Hal ini membutuhkan penilaian yang teliti dari perspektif medis, baik secara fisik maupun psikologis untuk diagnosis yang akurat. Dalam menghadapi psikosomatis, penting bagi kita untuk mengelola stres dengan efektif guna mencegahnya. Tingkat toleransi yang tinggi terhadap lingkungan dapat membantu kita mengendalikan stres dan menunjukkan sikap yang lebih rileks. Melalui penanganan psikis yang tepat, manusia yang awalnya mengalami gangguan psikosomatis, gangguan fisik yang muncul pada individu yang mengalami psikosomatis dapat diatasi sehingga membawa tubuhnya kembali ke keadaan yang sehat. Oleh karena itu, pendekatan untuk mengatasi psikosomatis perlu disesuaikan dengan keluhan yang dialami oleh individu tersebut.

Kembali pada inti permasalahan di awal bahwa kepribadian memiliki peranan terhadap psikosomatis. Psikoterapi dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan psikosomatis. Ibu Tanti juga menyoroti tentang kepribadian yang sehat. Beliau mengatakan bahwa kepribadian yang sehat adalah kondisi di mana seseorang berfungsi secara optimal, bersifat fleksibel dalam menghadapi perubahan, adaptif terhadap lingkungan yang terus berubah, tidak terlalu menuntut, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.

Reporter: Armel
Editor: Vany
Desainer: Belicia