Tips Alumni: Mencintai Sebuah Proses

Apa yang ada dalam benak kalian ketika mendengar kata “cinta” dan ”proses”? Lalu, bagaimana jika kedua kata tersebut digabungkan?

Beberapa dari kalian pasti akan menemukan makna baru dari kedua kata tersebut. Sebagai manusia, kita akan selalu mengalami pertumbuhan di mana dalam setiap tahapnya akan sedikit menyakitkan atau bahkan sangat menyakitkan. Contohnya adalah saat kita mengalami sebuah kegagalan yang menuntut kita untuk kembali ke langkah awal atau justru memilih langkah yang lain. Beberapa dari kita pasti akan menyangkal keadaan tersebut dan merasa bahwa semua usaha yang kita lakukan sia-sia. Namun, hal itu sebenarnya merupakan sebuah tempaan bagi kita dan termasuk dalam bagian dari hidup seseorang agar dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih bernilai. Jika demikian, pernahkah kalian mencoba untuk mendalami hal-hal tersebut dan memaknai kegagalan sebagai sebuah proses? Perasaan sulit dan bingung adalah sesuatu yang wajar dan dapat dipastikan. Hal ini dikarenakan perasaan tersebut merupakan sifat manusiawi seseorang saat menghadapi masalah atau kegagalan. 

Pada tips alumni kali ini, kita diajak untuk membuka pandangan mengenai sebuah proses dalam hidup menurut pandangan masing-masing narasumber. Mereka juga akan memberikan tips-tips pada kita agar lebih ikhlas dalam menjalani sebuah proses kehidupan.

Narasumber pertama adalah Catur Indra Priojeta atau akrab dipanggil dengan Kak Jeta, seorang alumni Psikologi USD angkatan 15. Saat ini, Kak Jeta sedang bekerja di PT Freeport Indonesia sebagai organizational development.

Menurut Kak Jeta, dalam konteks kehidupan, “proses” merupakan sebuah tahap di mana kita belajar untuk berkembang menjadi lebih baik yang terjadi sepanjang hidup. Kak Jeta menyadari bahwa proses merupakan sebuah tahap belajar ketika dirinya berhadapan langsung dengan sebuah pekerjaan yang menuntutnya melakukan hal-hal baru. Dengan adanya hal itu, Kak Jeta memberanikan diri untuk menjelajahi segala hal yang sebelumnya bukan berada dalam kemampuannya.

Sebelum menjadi HR di PT Freeport Indonesia, Kak Jeta sempat bekerja di sebuah perusahaan manufaktur yang belum sebesar PT Freeport. Dalam menjalani dinamika di perusahaan tersebut, Kak Jeta berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa setiap hasil yang besar tidak bisa didapatkan secara instan. Menurut Kak Jeta, proses-proses yang dijalaninya terasa sangat menantang. Saat Kak Jeta telah memutuskan untuk memulai sebuah proses dan keluar dari zona nyamannya, Kak Jeta banyak mengorbankan waktu dan tenaga. Kak Jeta juga sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu untuk bermain (nongkrong) atau sekadar bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, Kak Jeta tetap berusaha untuk fokus pada proses dan tujuan karena kedua hal tersebut merupakan bagian dari konsekuensi. Dalam pernyataan tersebut, Kak Jeta menekankan tentang pentingnya usaha yang dikumpulkan dan mengetahui konsekuensi yang akan didapat setelah membuat keputusan. Kak Jeta percaya bahwa ketika kita memberikan usaha yang besar, maka hasil yang didapatkan akan besar pula. Kak Jeta menjelaskan bahwa penting bagi kita untuk tidak memilih-milih tempat atau hal yang ada ketika ingin mencapai sebuah tujuan yang diharapkan. Menurut Kak Jeta, ketika kita sudah menemukan tempat yang memberikan peluang untuk berkembang, tidak ada salahnya kita masuk ke tempat itu, tidak peduli apakah itu menyenangkan atau justru menyulitkan.

Di akhir wawancara, Kak Jeta berpesan kepada kita untuk tetap menikmati apapun peristiwa yang akan dilalui karena pasti akan ada hasil yang bisa diperoleh dari hal itu. Kak Jeta juga menyarankan kepada kita untuk, setidaknya, mencari 1 hal yang bisa dipelajari dari setiap momen atau pengalaman yang pernah kita lalui, baik menyenangkan atau sebaliknya. Dari pengalaman tersebut, kita banyak belajar mengenai berbagai macam hal. Selain itu, menjalani proses sesuai dengan kapasitas diri masing-masing juga penting karena setiap orang memiliki kemampuan yang beragam. Jangan selalu melihat hasil orang lain ketika mereka mencapai sebuah tujuan yang diharapkan dan kesuksesan. Kita harus melihat proses yang mereka jalani untuk sampai ke tujuan tersebut. Terakhir, Kak Jeta berpesan untuk menjalin banyak relasi karena bisa jadi pengalaman orang lain adalah bahan belajar terbaik bagi kita.

Mari kita beralih ke narasumber kedua, I Kadek Okta Dharmadhyaksa atau akrab disapa Kak Okta. Kak Okta merupakan alumni psikologi USD angkatan 19. Saat ini, Kak Okta menjabat sebagai seorang recruiter di salah satu perusahaan perekrutan di Bali. 

Menurut Kak Okta, proses dalam konteks kehidupan merupakan sebuah perpaduan aspek-aspek yang menggerakkan kita terhadap suatu tujuan. Kak Okta pun mendefinisikan proses dalam konteks kehidupan sebagai sebuah perjalanan yang memang harus dilalui untuk berkembang dan bertahan. Dalam penjelasannya, Kak Okta juga menekankan bahwa sejak lahir, manusia sudah harus siap untuk mengalami penderitaan untuk tetap bisa bertahan hidup.

Ketika menjalani suatu proses, hal terpenting yang dilakukan oleh Kak Okta untuk mencapai tujuan yang dia inginkan adalah dengan menjalani proses tersebut dengan sungguh-sungguh. Artinya, bukan hanya berfokus pada tujuan, tetapi juga mencoba untuk menemukan sebuah pelajaran dan hal baru dalam prosesnya. Selain itu menurut Kak Okta sendiri, mensyukuri setiap hal yang terjadi merupakan salah satu cara yang dia lakukan untuk tetap bisa menikmati setiap proses yang sedang dia jalani. Kak Okta juga menyinggung tentang pentingnya mengenal diri sendiri dan latar belakang diri untuk tetap bisa bertahan terhadap sebuah proses. Singkatnya, ketika kita telah mengetahui arah hidup, kita akan dengan mudah dapat memilah hal-hal yang dibutuhkan untuk mendukung diri kita dalam berproses mencapai tujuan.

Ketika menjalani suatu proses, hal terpenting yang dilakukan oleh Kak Okta untuk mencapai tujuan yang dia inginkan adalah dengan menjalani proses tersebut dengan sungguh-sungguh. Artinya, bukan hanya berfokus pada tujuan, tetapi juga mencoba untuk menemukan sebuah pelajaran dan hal baru dalam prosesnya. Selain itu menurut Kak Okta sendiri, mensyukuri setiap hal yang terjadi merupakan salah satu cara yang dia lakukan untuk tetap bisa menikmati setiap proses yang sedang dia jalani. Kak Okta juga menyinggung tentang pentingnya mengenal diri sendiri dan latar belakang diri untuk tetap bisa bertahan terhadap sebuah proses. Singkatnya, ketika kita telah mengetahui arah hidup, kita akan dengan mudah dapat memilah hal-hal yang dibutuhkan untuk mendukung diri kita dalam berproses mencapai tujuan.

Saran yang diberikan oleh Kak Okta agar dapat lebih mencintai proses adalah dengan menaruh pemikiran yang realistis untuk diri kita, terlebih latar belakang diri. Sekali lagi, Kak Okta menekankan pentingnya untuk memiliki tujuan yang jelas untuk memberikan arah kemudi kita dalam berproses. Kak Okta berpesan pada kita untuk menjadikan kekurangan sebagai pengingat agar kita tidak meninggalkan proses atau menyerah ketika sedang menjalani sebuah proses. 

***

Berdasarkan pengalaman kedua narasumber, dapat disimpulkan bahwa proses merupakan kunci penting untuk berkembang dan bertahan menghadapi tekanan hidup. Jangan hanya fokus pada tujuan atau hasil, tapi nikmati pula pelajaran dan pengalaman yang diperoleh selama proses berlangsung. Sebelum memulai suatu proses, kita perlu untuk mengenali diri, kemampuan, tujuan, ke mana kita akan mengarahkan tujuan kita, serta apa pentingnya tujuan tersebut bagi kita. Sadari pula kekurangan dan perasaan rendah diri sebagai pengingat untuk tetap bertahan dalam setiap proses yang kita lakukan

Reporter: Felix
Editor: Irene
Desainer: Abel & Wilsen