Karier Penuh Warna, Hidup Penuh Makna

Mengenal Sosok Alumni Inspiratif

Setelah sebelumnya kita berkenalan dengan Mbak Sintami sebagai narasumber di bidang training, edisi tips alumni kali ini menghadirkan sosok alumni inspiratif lain. Narasumber tersebut adalah Maria Axcella Christy dari Psikologi Universitas Sanata Dharma angkatan 2015. Wanita berusia 28 tahun ini berasal dari Yogyakarta dan sedang berkecimpung di bidang rekrutmen. Mbak Axcel dikenal sebagai sosok yang aktif selama masa kuliah. Sejak semester awal hingga akhir, ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, khususnya kepanitiaan. Ia sempat berpartisipasi di berbagai bidang, misalnya sebagai bendahara, supervisi dan ketua bidang acara, serta koordinator dan anggota keamanan.

Selain itu, ia juga aktif dalam Unit Kegiatan/Unit Kegiatan Fakultas, seperti Seni Musikologi, PSF, dan futsal putri. Di bidang organisasi, bersama Mbak Sintami, ia pernah mencalonkan diri sebagai ketua dan wakil ketua gubernur pada tahun 2017. Namun, sayangnya, mereka belum berkesempatan untuk menduduki posisi tersebut. Mbak Axcel juga sempat mendapat tawaran untuk bergabung dalam organisasi lain, tetapi ia lebih memilih untuk fokus di kepanitiaan karena merasa lebih tertarik dengan dinamikanya.

Selain aktif di kepanitiaan, Mbak Axcel juga memiliki banyak pengalaman kerja selama berkuliah. Ia pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah inventori, asisten pengawas ujian, dan asisten P2TKP yang membantu pelaksanaan tes untuk mahasiswa baru di Kampus II USD. Lewat berbagai kegiatan ini, ia berkesempatan dalam membangun relasi sosial yang cukup luas. Setelah lulus, hubungan dengan teman-teman kuliahnya masih terjaga, meskipun lebih sering lewat media sosial, seperti saling mengucapkan selamat ulang tahun, hari raya, atau bertemu saat ada acara pernikahan. Mbak Axcel juga sempat aktif mengikuti kegiatan di luar kampus, seperti misdinar dan pengurus gereja. Setelah itu, ia mulai mengikuti berbagai pekerjaan freelance fasilitator, terutama di masa-masa akhir kuliah yang bersamaan dengan penyusunan skripsi.

Saat masih menjadi mahasiswa, wanita yang memiliki hobi traveling dan bernyanyi ini tertarik dengan cabang ilmu psikologi, yaitu Psikologi Industri Organisasi dan Psikologi Konsumen. Meskipun ia berasal dari keluarga pendidik–orang tuanya adalah guru dan dosen– ketertarikannya pada bidang Psikologi Industri dan Organisasi sudah muncul sejak ia berada di bangku SMA. Hal itu dipengaruhi oleh sepupunya yang berkuliah di psikologi dan bekerja di perusahaan. Sejak saat itu, Mbak Axcel pun memiliki keinginan untuk menjadi seorang HR dan bisa berkarier di bidang tersebut.

Baik selama kuliah maupun setelah lulus, Mbak Axcel aktif mengikuti berbagai kegiatan freelance, misalnya sebagai mentor, fasilitator, trainer, dan pembicara seminar. Menurutnya, menjadi freelance berarti harus mandiri karena tidak ada dukungan dari pihak tertentu. Oleh karena itu, penting untuk memanfaatkan media yang tepat dalam mencari peluang kerja. Begitu lulus, tawaran pekerjaan dari beberapa kota pun menghampirinya. Namun, ia memilih untuk tetap bekerja di Yogyakarta dan tinggal bersama ibunya.

Ketika Pekerjaan Menjadi Cerita

Saat sedang aktif menjalani berbagai pekerjaan freelance, pandemi melanda dan menghentikan banyak aktivitas, termasuk pekerjaan Mbak Axcel. Ketika banyak orang mengalami PHK dan kesulitan ekonomi, Mbak Axcel justru melihat peluang. Ia memperoleh ide dari sang ibu yang gemar merawat tanaman; dari sana, ia menjadikan tanaman hias sebagai ladang bisnis. Baginya, pekerjaan tidak selalu harus dicari, melainkan dapat diciptakan asalkan ada niat dan kemauan untuk menjalaninya.

Saat ini, Mbak Axcel bekerja sebagai staf rekrutmen di salah satu perusahaan outsourcing di Indonesia. Meski kantor pusatnya berada di Jakarta, perusahaan ini memiliki sejumlah cabang di berbagai kota dan melayani kebutuhan rekrutmen dari beragam sektor. Salah satu contohnya, posisi frontliner di perbankan, seperti teller dan customer service. Fokus kerjanya adalah melakukan sourcing (mencari kandidat), screening (menyeleksi), wawancara, scheduling (menjadwalkan tahapan seperti medical check up), dan asesmen (psikotes) yang disesuaikan dengan kebutuhan klien/user. Singkatnya, tugas Mbak Axcel adalah mendampingi pelamar hingga tahap akhir, yaitu onboarding di perusahaan klien. Dengan kata lain, ia tidak merekrut untuk perusahaannya sendiri, melainkan untuk perusahaan lain yang menjadi kliennya.

Bagi Mbak Axcel, bekerja di perusahaan outsourcing menjadi peluang untuk belajar dari berbagai perusahaan dan memahami beragam posisi kerja. Ia juga merasa senang dan bangga setiap kali kandidat yang ia bantu berhasil mendapatkan pekerjaan. Namun, pekerjaannya tidak lepas dari tantangan. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah menyesuaikan kebutuhan dan keinginan klien dengan kandidat yang tersedia. Baginya, tantangan besar biasanya terjadi ketika klien bukan berasal dari perusahaan yang terkenal di masyarakat atau memiliki kebutuhan posisi yang jarang diminati, sehingga jumlah pelamar hanya sedikit dan butuh tenaga lebih untuk menarik kandidat baru.

Sebagai seorang rekruter, Mbak Axcel telah memiliki banyak pengalaman dalam mewawancarai kandidat. Ia terbiasa menilai sikap dan karakter pelamar, terutama dari cara berkomunikasi dan kesopanan saat wawancara. Menurutnya, jika seorang kandidat belum memiliki pengalaman kerja yang sesuai, tetapi memahami posisi yang ia lamar, mau belajar, serta menunjukkan performa yang baik saat interview, Mbak Axcel tidak ragu untuk memberikan umpan balik bagi pelamar tersebut. Tujuannya adalah agar mereka bisa memperbaiki kekurangannya dan memiliki peluang lebih baik di kesempatan berikutnya.

Perjalanan karier Mbak Axcel tidak lepas dari peran rekan kerja dan sosok supervisor yang pernah membimbingnya. Supervisor tersebut banyak mengajarkan cara menjadi pemimpin yang baik, seperti bagaimana cara membimbing, memahami, dan mengayomi orang lain. “Seorang leader yang baik itu harus bisa memahami. Kita memang bekerja di lapangan, tapi leader yang baik itu bisa memosisikan diri jadi kita, mendengarkan masalah-masalah kita dan memberikan solusi, bukan yang mau terima beresnya doang. Saat ada masalah, mereka bisa mem-backup kita dengan caranya masing-masing. Itu berpengaruh, sih, buat aku,” ujarnya.

Bagi Mbak Axcel, kesuksesan karier tidak semata-mata hanya diukur melalui materi, melainkan bagaimana kita bisa menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang diistilahkan dengan work-life balance. Semenjak bekerja, ia menerapkan prinsip yang mana pekerjaan itu cukup diselesaikan di kantor dan tidak dibawa ke rumah. Kalaupun di luar jam kerja masih harus berurusan dengan pekerjaan, ia akan berusaha untuk tidak membuka laptop ataupun melakukan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh. Waktu istirahat ia gunakan sepenuhnya untuk bersantai bersama keluarga, teman, atau menikmati waktu sendiri.

Bagi para pekerja, tantangan ketidakpastian dalam karier cenderung selalu ada. Dalam menghadapi situasi tersebut, Mbak Axcel membiasakan diri untuk berpikir positif. Ia percaya bahwa segala hal terjadi karena alasan tertentu dan bisa dijadikan pelajaran. Meskipun memiliki kebebasan untuk membeli atau melakukan sesuatu yang diinginkan, ia tetap menekankan hal penting, seperti menabung serta mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk jika suatu saat harus mencari peluang baru.

Bekerja di bidang Psikologi Industri dan Organisasi, khususnya rekrutmen, tentu memiliki lika-liku layaknya pekerjaan pada umumnya. Memang, bidang ini dirasa paling cocok untuknya saat ini, tetapi tidak menutup kemungkinan pula baginya untuk terbuka akan peluang lain di masa depan. Sekarang, ia memilih untuk menjalani dan mensyukuri apa yang dimiliki. Setelah cukup lama bekerja, fokusnya kini bukan lagi sekadar belajar, melainkan menemukan rasa aman dan nyaman dalam bekerja. Biarpun pekerjaannya juga berat, tetapi tetap ada yang bisa disyukuri.

Mbak Axcel menyebut perjalanan karier dan hidupnya sebagai sesuatu yang “berwarna”—penuh dinamika. Ia sempat merasa kesepian saat awal bekerja karena posisi penempatannya di kantor cabang. Tentunya, suasana ini berbeda jauh dari masa kuliahnya yang aktif dan ramai. Walau pekerjaan rekrutmen sering kali menantang, seperti sulitnya mencari kandidat yang tepat, Mbak Axcel tetap bersyukur bisa bekerja dan menjalani hidup yang menurutnya penuh warna. “Ya, warnanya nggak selalu gelap, ada yang terang, tapi maksudnya ya tadi warna-warni,” ungkapnya.

Reporter: Nia
Editor: Angel & Keisha
Fotografer: Christo
Desainer: Ellys
Website: Novi