Penampilan merupakan salah satu hal yang sudah pasti diperhatikan oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Banyak yang berlomba-lomba untuk tampil menarik dengan cara apapun termasuk menjaga pola makan. Namun, hal ini kerap berubah menjadi obsesi yang disalahartikan dan berujung pada tindakan keliru, salah satunya adalah gangguan makan (eating disorder). Eating disorder memiliki banyak jenis, salah satunya adalah anorexia nervosa. Anorexia nervosa adalah gangguan yang ditandai oleh ketakutan ekstrem terhadap kenaikan berat badan dan distorsi citra tubuh.
Gangguan ini ditandai dengan ketakutan berlebih terhadap kenaikan berat badan, persepsi tubuh yang terganggu, siklus menstruasi tidak teratur, dan penurunan berat badan ekstrem dalam waktu singkat. Hal ini tidak terjadi tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal mencangkup tekanan di media sosial, pergaulan toxic, serta standar sosial dan budaya yang menekankan penampilan. Di sisi lain, faktor internalnya meliputi tekanan keluarga yang berlebihan, perasaan tidak pernah puas terhadap diri sendiri, serta masalah psikologis seperti rendahnya harga diri.
Faktor-faktor tersebut berdampak pada kondisi psikologis individu yang kemudian berperan besar dalam kehidupannya. Dampak psikologis melibatkan perasaan, pikiran, dan perilaku yang bisa berakibat positif atau negatif. Penderita anorexia nervosa dapat mengalami ketidakpuasan terus menerus terhadap tubuhnya, kecemasan berlebihan saat berat badan naik, serta pola pikir obsesif terhadap makanan dan porsi makan. Tentu saja hal-hal seperti ini akan mengganggu kegiatan sehari-hari penderita dari dalam maupun luar.
Selain dampak psikologis, terdapat juga dampak fisik bagi individu yang memiliki anorexia nervosa. Menurut Honestdocs (dalam Khairunnisa, 2024), tanda fisik yang dapat diamati secara langsung, yaitu penurunan berat badan, gangguan menstruasi pada perempuan, penurunan libido pada pria, merasakan kedinginan di sebagian besar waktu, sering merasakan kembung, sembelit, berkembangnya intoleransi terhadap makanan, mudah merasa lelah, dan sebagainya. Melalui dampak negatif yang muncul, baik dalam bentuk psikologis maupun fisiologis, jika tidak segera ditangani dapat terjadi dampak yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Namun, pada akhirnya yang lebih sulit untuk dihilangkan adalah dampak negatif secara psikologis karena hal tersebut telah tertanam dalam pikiran, pandangan, dan cara hidup mereka. (Melani dkk., 2021).
Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat berbagai dampak negatif yang timbul bagi individu dengan gangguan makan ini. Namun, masih banyak orang yang secara sadar melakukan diet, olahraga, dan pembatasan masukan kalori secara berlebihan. Jakobovitset dkk., (dalam Garner & Garfinkel, 1980) melaporkan bahwa 11% mahasiswi menjalani diet dan 75% mahasiswi lainnya secara sadar berusaha membatasi asupan makanan mereka. Berdasarkan 94 studi, prevalensi gangguan makan seumur hidup (lifetime eating disorder) terjadi pada 8.4% wanita dan 2.2% pria (Galmiche dkk., 2019). Meskipun prevalensinya lebih tinggi pada perempuan, laki-laki juga perlu waspada karena gangguan makan tidak terbatas pada satu gender saja. Mahasiswa perantau lebih rentan mengalami pola makan tidak sehat karena harus mengatur makan sendiri sambil beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa pengawasan orang tua (Topbaş, 2019). Dalam kondisi seperti ini, stres akademik, masalah finansial, gaya hidup, dan lingkungan yang tidak mendukung dapat memicu gangguan pola makan seperti anorexia nervosa.
Perubahan fisik, biologis, psikologis, juga sosial dapat mendorong seseorang membentuk lifestyle tertentu yang berisiko memicu anorexia nervosa. Risiko ini dapat dicegah, salah satunya dengan memilih pertemanan yang sehat dan tepat. Bagi mahasiswa, pandangan dan pendapat orang-orang di sekitarnya seringkali menjadi hal yang sangat berpengaruh. Dengan demikian, kita perlu memiliki pertemanan yang dapat menerima kita apa adanya dan tidak mengkritisi bentuk tubuh maupun penampilan. Oleh sebab itu, sejak awal masa perkuliahan, kita harus cermat dalam memilih teman. Perhatikan komentar yang mereka lontarkan, seperti mengkritik bagian tubuh kita, membanding-bandingkan fisik, atau hal-hal semacamnya yang bisa menurunkan rasa percaya diri kita. Jika ingin melakukan diet atau olahraga, pastikan untuk melakukannya secara sehat, teratur, dan tidak berlebihan. Apabila diet atau olahraga intens memang diperlukan, disarankan untuk bertanya dengan ahli terlebih dahulu.
Anorexia nervosa adalah ketidakinginan individu untuk menambah berat badan dan mengalami kecemasan berlebih akan bentuk tubuh yang dimiliki. Meskipun dengan melakukan diet dan olahraga berlebih dapat memberikan sense of control bagi tubuh, tetapi hal tersebut tetap berisiko. Dampak negatif yang ditimbulkan seringkali jauh lebih besar daripada rasa kontrol yang diperoleh. Perlu diingat, bahwa anorexia nervosa sering terjadi pada remaja yang memasuki masa dewasa awal. Maka, kita sebagai mahasiswa harus lebih berhati-hati akan pandangan terhadap makanan dan tubuh.
“You are so much more than just a body.”
Referensi
Galmiche, M., Déchelotte, P., Lambert, G., & Tavolacci, M. P. (2019). Prevalence of eating disorders over the 2000–2018 period: A systematic literature review. The American journal of clinical nutrition, 109(5), 1402-1413. https://doi.org/10.1093/ajcn/nqy342
Garner, D. M., & Garfinkel, P. E. (1980). Socio-cultural factors in the development of anorexia nervosa. Psychological medicine, 10(4), 647-656. https://doi.org/10.1017/S0033291700054945
Khairunnisa, N. A. (2024, 15 Juni). Anoreksia nervosa: Bertubuh kurus demi bahagia. Buletin K-PIN.https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1555-anoreksia-nervosa-bertubuh-kurus-demi-bahagia
Melani, S. A., Hasanuddin, & Siregar, N. S. S. (2021). Hubungan kepercayaan diri dengan gangguan makan anoreksia nervosa pada remaja di SMAN 4 Kota Langsa. Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi, 3(2), 162–172. https://doi.org/10.31289/tabularasa.v3i2.662
Topbaş, E., Bingöl, G., Pelitli, N. S., Tezel, H., Önder, S., & Şahin, C. (2019). Investigation of symptoms of anorexia nervosa and related factors in university students. Journal of Psychiatric Nursing/Psikiyatri Hemsireleri Dernegi, 10(3), 204-210. https://doi.org/10.14744/phd.2019.22448
Reporter: EB & Jojo
Editor: Shelma & Vara
Desainer: Angiee
Website: Prakas