Mission I’m Possible: Menaklukan Misi dan Temukan Jati Diri di Akrab Psikologi 2025

Siapa yang takut kuliah karena ospeknya serem dan katingnya galak-galak? Umumnya akan ada persepsi ini bagi kita yang belum kuliah dan sering mendengar rumor negatif tentang ospek. Namun, pada Universitas Sanata Dharma, khususnya di Fakultas Psikologi, hal-hal menakutkan itu tidak akan terjadi. Kenapa? Karena mahasiswa baru akan disambut dengan penuh senyuman dan kehangatan oleh keluarga baru di Akrab Psikologi! Tidak ada kating yang galak, adanya kating yang akan terus menyapa dan memberi kata-kata “semangat ya!”.

Akrab Psikologi yang biasa dikenal Aksi merupakan suatu rangkaian acara penerimaan mahasiswa baru Fakultas Psikologi yang diinisiasi oleh Departemen Internal BEMF. Orang-orang departemen internal sendiri berperan sebagai Steering Committee (SC) di setiap program kerjanya, termasuk Aksi. SC lah yang akan merancang dan merencanakan semua hal berkaitan dengan acara tersebut. Hal ini meliputi konsep, tema, judul secara keseluruhan, hingga rencana kegiatan anggaran (RKA). Layaknya kepanitiaan pada umumnya, tentu saja ada ketua umum, ketua bidang umum (kabidu), ketua bidang acara (kabida), sekretaris dan bendahara (sekben), dan divisi lainnya. Ketua memiliki tugas untuk mengkoordinasi jalannya acara, rapat/pleno, dan kesiapan seluruh divisi. Pada Aksi tahun ini, kami berkesempatan berbincang bersama dengan Iceng sebagai SC dan Cleo yang menjabat sebagai ketua umumnya. Mereka merupakan mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi angkatan 2022.

Dari Siswa menjadi Mahasiswa

Iceng mengatakan bahwa konsep Aksi tahun ini didasarkan pada transisi mahasiswa yang beranjak dari SMA ke dunia perkuliahan. Mungkin bagi sebagian orang, fase ini hanya berlalu begitu saja, tetapi kenyataannya ada pula yang menganggap hal ini sebagai perubahan besar di dalam hidupnya. Maka dari itu, konsep menemukan jati diri dipilih. Selain konsep yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh SC, Aksi 2025 tahun ini juga mengangkat tema “Mission Impossible”, serta dari ide tentang “detektif” yang kemudian diplesetkan menjadi Mission I’m Possible. Secara khusus, judul Aksi tahun ini adalah Conquer The Mission Together Become One. Conquer the mission berarti menaklukan misi yang ada, together become one berarti menjadi satu keluarga dalam satu psikologi.

Secara keseluruhan, baik dari konsep, tema, dan judul mencerminkan kondisi mahasiswa baru yang sering dikelilingi perasaan negatif, berada dalam tuntutan orang tua, sekaligus masih mencari arah tujuan hidupnya. Sesimpel apapun itu, setiap individu  pasti membutuhkan dukungan untuk melewati semuanya. Melalui Aksi, mahasiswa dapat diyakinkan bahwa dalam proses pencarian jati diri itu memiliki misi yang dapat diselesaikan. Harapannya, Aksi tahun ini tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keakraban, tetapi juga sebagai wadah mahasiswa baru dalam memahami diri mereka lebih dalam serta meyakini arah yang ingin dicapai.

Rangkaian Kegiatan AKSI 25

Secara umum, Aksi berfokus pada mahasiswa baru (maba) dan diibaratkan sebagai perjalanan dalam membuka lembaran dan melangkah ke dunia yang baru. Apabila dalam perkuliahan nanti mahasiswa tidak menemukan hal yang menyenangkan, ada kemungkinan mereka tidak akan menjalaninya dengan semangat. Maka dari itu, Aksi ingin menunjukkan suatu perspektif baru dan memberi impresi yang baik supaya maba bersemangat menjalani kuliah. Aksi sendiri tidak hanya berlalu dalam satu hari, melainkan memiliki beberapa rangkaian yang penuh dengan kejutan. Aksi dibagi menjadi enam kegiatan besar, yang mana tiga kegiatan pertama dari Pra-Aksi hingga Aksi 2 dilaksanakan di kampus, dilanjutkan Aksi 3 hingga 5 di Bumi Perkemahan, Wonogondang.

Menurut Cleo, rangkaian Aksi dimulai dengan Pra-Aksi sebagai pintu pembuka bagi mahasiswa baru. Pada tahap ini, maba dikenalkan dengan sistem tutoring sekaligus diajak menyelesaikan tantangan bersama. Ada kegiatan simbolis yang berkesan, seperti exorcism untuk membakar rasa takut serta pelepasan burung sebagai lambang harapan. Cleo menilai tahap ini cukup berhasil memberikan kesan santai dan bermakna secara bersamaan. Sementara itu, Iceng menambahkan bahwa Pra-Aksi merupakan bagian dari proses yang berkesinambungan selama enam hari, maba diajak belajar mengenali diri sendiri sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.

Pada Aksi 1, mahasiswa baru diajak mengenal lingkungan kampus melalui tour de campus. Selain itu, terdapat sesi perkenalan dengan ormawa (BEMF dan DPMF), serta panitia Aksi. Cleo dan Iceng menceritakan bahwa salah satu momen paling menarik adalah sesi reveal panitia. Ini momen ketika kakak tingkat yang sebelumnya menyamar sebagai maba akhirnya diperkenalkan. Momen memorable ini berhasil mencairkan suasana dan menciptakan keakraban antara panitia dan maba.

Memasuki Aksi 2, kegiatan berlangsung padat dengan agenda utama Expo Day. Cleo menjelaskan bahwa rangkaian ini berisi perkenalan dosen dan Unit Kegiatan Fakultas (UK/UKF), baik melalui presentasi maupun stand. Semua UKF membuka pendaftaran anggota baru sehingga maba berkesempatan untuk langsung bergabung. Kemudian, kegiatan ditutup dengan jingle Aksi lima tahun. Menurut Cleo, kegiatan ini terasa meriah dan penuh semangat.

Aksi 3 atau Aksi atas dilaksanakan di luar kampus, tepatnya di Wonogondang. Cleo mengungkapkan bahwa kegiatan ini sempat terkendala hujan, tetapi dapat berlangsung seru dengan adanya permainan kelompok. Dari perspektif Iceng, hujan menjadi kendala besar yang sempat membuat panitia bingung. Namun, akhirnya kegiatan tetap berjalan lancar dengan dukungan satu sama lain antara panitia–maba. Usaha panitia dalam merangkul maba membuat suasana tetap hangat dan berlanjut hingga games malam yang makin mempererat hubungan ini.

Tahap berikutnya adalah Aksi 4 yang dinilai Cleo jauh lebih padat. Kegiatan dimulai dari pagi hingga siang. Maba melakukan tracking di kawasan Gunung Merapi sambil menyelesaikan sepuluh pos permainan. Setelah itu, mereka mengikuti game besar yang dirancang untuk mempererat kekompakan maba satu angkatan. Malam hari menjadi puncak perayaan dengan berbagai penampilan seni, aksi pompom boys, pertunjukan band, hingga api unggun serta kembang api. Menurut Iceng, momen ini sangat memorable karena menghadirkan kehangatan dan kebersamaan sekaligus menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu.

Hari terakhir, yakni Aksi 5, membawa nuansa haru. Cleo menceritakan adanya kegiatan “pembasuhan” dan “patah pensil”, yang menjadi simbol permintaan maaf, penerimaan diri, dan penguatan tekad. Menurutnya, momen ini sangat menyentuh karena melibatkan peran tutor yang mendampingi maba sejak awal. Setelah itu, maba disambut dengan welcome party beserta confetti dan serbuk warna-warni. Iceng menegaskan agenda penutup ini penuh dengan kejutan, baik dari sisi panitia maupun maba, dan menjadi tanda resmi bahwa maba telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar Psikologi.

Lika-liku Dinamika

Meskipun secara keseluruhan Aksi 2025 dirasa memuaskan karena berhasil mencapai beberapa rekor tersendiri, seperti mampu menyelesaikan 10 pos games siang. Agenda ini tentu tidak terlepas dari berbagai kendala, seperti komunikasi. Komunikasi sempat berjalan tidak lancar dan menyebabkan miskomunikasi dalam acara tersebut, misalnya terkait dengan peminjaman ruang. Jika pihak SC dengan panitia lain tidak terjalin komunikasi yang baik, ini bisa berakibat fatal. Cleo juga menambahkan bahwa kendala lainnya berkaitan dengan singkatnya waktu makan, rundown yang sangat padat bahkan molor. Tak hanya saat acara berlangsung, bonding pun menjadi kendala. “Kalau kepanitiaan, susahnya karena kita berjumlah 100 orang, jadi butuh waktu lama untuk mengakrabkan sesama panitia”, ucap Cleo.

Untuk Aksi berikutnya, Iceng berharap kendala-kendala tersebut tidak terulang kembali, baik dalam lingkup divisi maupun yang lebih luas. Selain itu, ia juga menginginkan panitia untuk dapat mengerahkan kemampuan terbaiknya demi hasil yang maksimal. “Aku ingin kalian merasakan apa yang kurasakan dulu,” ungkap Iceng sembari berharap agar maba dapat merasakan kenyamanan di keluarga psikologi seperti dirinya.

Tak lupa juga sebagai ketua umum dari Aksi, Cleo berharap kedepannya acara ini dapat berjalan lebih enjoy. Selebihnya, Cleo sudah menikmati acara ini dengan sangat puas dan penuh rasa keberhasilan. Baginya, dibalik semua lika-liku yang telah terjadi, sudah banyak sekali hal baik yang terlihat selama persiapan hingga acara berlangsung. Selain dengan kehadiran maba tentunya, kesuksesan Aksi tidak lepas dari peran seluruh panitia yang telah mempersiapkan dan menjalankan acara dengan sepenuh hati. Ibarat menjadi pintu gerbang bagi mahasiswa menuju dunia  baru, Aksi memiliki tempat tersendiri di hati masing-masing individu yang menjalaninya.

Siapa kita? Psikologi! Ada berapa kita? Satu!

Reporter: Nia & Evan
Editor: Inggrit & Vara
Fotografer: Hosa & Lokeswara
Desainer: Naya
Website: Sandito