Dosis ilmu: Apasih Cinta Itu?

Apakah Cinta itu? Cinta merupakan salah satu jenis emosi selain emosi lainnya seperti sedih, marah, cemas, dst. Masyarakat awam menyebutnya sebagai perasaan yang dirasakan oleh setiap orang. Cinta tidak hanya mempengaruhi perasaan seseorang secara psikologis, tetapi juga mempengaruhi bagaimana seseorang beraktivitas dalam lingkup sosial dan kondisi kesehatan meliputi fisik dan biologis seseorang. Cinta memang dialami oleh setiap orang, tetapi perlu diingat bahwa setiap orang itu berbeda-beda (individual differences) dan begitupun bagaimana cinta itu ditunjukkan berkesesuaian dengan konteks, misalnya cinta kepada pasangan dan cinta kepada orang tua ditunjukkan dengan berbeda. Perlu diingat bahwa cinta itu tidak hanya dalam konteks romantis saja terhadap pasangan, tetapi dapat digunakan dalam konteks keluarga, pertemanan atau kehidupan sosial. Target dari cinta juga tidak hanya ditujukan kepada manusia saja tapi bisa kepada hewan, pekerjaan maupun pendidikan.

Definisi cinta itu berbeda-beda bergantung kepada apa jenis cinta tersebut. Jenis cinta dibedakan menjadi beberapa oleh Sternberg, tokoh pelopor model love triangular. Sternberg mengemukakan ada tiga komponen cinta, dimana ketiga komponen menyusun menjadi  suatu jenis cinta. Ketiga komponen tersebut adalah keintiman, suatu kedekatan antara dua individu kemudian gairah, motif seksual dan gairah seksual, dan komitmen, proses berpikir secara kognitif dimana seseorang memilih untuk mempertahankan dalam hubungan atau tidak. Menurut Sternberg, jenis cinta yang harus didapatkan oleh seseorang adalah consummate love atau biasa disebut cinta sempurna  suatu jenis cinta yang memiliki ketiga komponen cinta, sedangkan cinta yang harus dihindari adalah jenis cinta yang hanya memiliki satu komponen saja, seperti cinta kosong yaitu mencintai tanpa adanya kedekatan dan gairah biasanya terjadi pada pasangan suami istri yang dijodohkan tanpa rasa cinta, dan cinta gila yaitu mencintai seseorang tanpa adanya kedekatan dan komitmen biasanya terjadi pada stalker terhadap seseorang yang di idolakan.

Bagaimana cinta itu muncul? Cinta muncul karena adanya proses biologis dalam tubuh manusia yang mengatur bagaimana seseorang memiliki perasaan, yaitu Neurotransmitter (NT) mendorong seseorang memiliki rasa cinta untuk memenuhi kebutuhan utama manusia untuk bertahan hidup (survival) dengan reproduksi dan membuat keturunan dalam konteks cinta romantis. Dalam konteks cinta non-romantis, cinta mendorong seseorang untuk mencintai keluarga, teman, maupun masyarakat untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, dan ada juga cinta terhadap pekerjaan yang sedang dipegang atau pendidikan yang sedang dilakukan untuk mendorong seseorang tetap bertahan dalam pekerjaan maupun pendidikan. Jika seseorang memiliki rasa cinta yang tinggi kepada sesuatu maka akan besar kemungkinan juga mereka akan tetap bertahan dan menekuni sesuatu tersebut tanpa berat hati, kebalikannya jika seseorang tidak memiliki atau kurang rasa cinta kepada sesuatu maka akan sulit baginya bertahan dan menekuni hal tersebut.

Cinta yang baik dan sehat dapat mendukung kesuksesan psikologis dan fisik seseorang, mengapa demikian? Seperti yang sudah kita ketahui dari paragraf sebelumnya, cinta muncul karena adanya proses biologis dalam tubuh yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya sebagai manusia, jika tidak terpenuhi akan memunculkan stres dan kecemasan. Stres dan kecemasan merupakan permasalahan psikologis yang dapat menjadi faktor penyebab dari kegagalan seseorang dalam bersosialisasi (Baik dalam ruang lingkup masyarakat, pekerjaan, dan pendidikan), sehingga akan sulit bagi seseorang mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya psikologis dan sosial saja, tetapi juga aspek biologis dipengaruhi oleh cinta, menurut beberapa artikel penelitian menunjukan bahwa hormon yang mengatur cinta dapat mempengaruhi sistem imun seseorang (Murray et al., 2016), bahkan dalam mempengaruhi perkembangan sel kanker (Naderi et al., 2021). Secara kebutuhan untuk bertahan hidup (survival) cinta juga akan mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya dengan mempertahankan kehidupan sosial yang meliputi pekerjaan dan pendidikan, yang berarti semakin tinggi keinginan untuk memenuhi rasa cinta, akan semakin tinggi juga kemungkinan kesuksesan seseorang dalam lingkungan sosial.

Kapan cinta itu muncul dan kapan kita harus mencari pasangan cinta? Cinta sudah ada semenjak kita kecil, tetapi kita belum mengetahui itu cinta karena masih terbatasnya proses berpikir. Seiring bertumbuh dewasa kita mempelajari apa itu cinta dan memahaminya, tetapi baru benar-benar dipelajari pada saat remaja (adolescent) berkisar umur 10-18 tahun atau menurut Erikson pada tahap Identity vs Identity Confusion saat orang sedang secara giat mengeksplorasi diri dan lingkungan untuk membentuk identitas dirinya, kemudian pada saat dewasa awal (emerging adulthood) 18-25 tahun atau tahap Intimacy vs Isolation kita mulai mencari pasangan romantis untuk memenuhi rasa dan kebutuhan cinta yang dimiliki. Karena itu untuk pembaca di umur 18-25 ini adalah masa-masa emas untuk mencari pasangan dan mendapatkan cinta sempurna (consummate love) dengan memperhatikan ketiga komponen yaitu keintiman, gairah, dan komitmen.

Perlu kita ingat kembali bahwa rasa cinta itu benar dimiliki oleh setiap orang, tetapi karena adanya perbedaan individu (individual differences) cinta yang ditunjukan maupun dipersepsikan juga berbeda-beda oleh setiap orang, karena itu perlu ditekankan bahwa cinta yang kita anggap wajar mungkin oleh orang lain bisa dianggap tidak wajar begitupun sebaliknya. Karena itu kita harus cermat dalam bagaimana menunjukan cinta kita, cinta itu tidak pernah salah tapi bagaimana kita menunjukkannya dalam perilaku itu yang mungkin salah. Manusia diberikan kemampuan berpikir (kognitif) untuk menentukan bagaimana mereka berperilaku dan perilaku apa yang seharusnya digunakan menyesuaikan konteks, sehingga sangat perlu untuk setiap orang berpikir dengan cara apa yang terbaik untuk menunjukan bagaimana cinta yang dimiliki itu ditunjukkan. Mengapa hal ini perlu ditekankan? Karena dalam Emosi & Kognisi menjelaskan bahwa emosi itu menyebar dan dalam Teori Belajar Sosial menjelaskan bahwa manusia belajar dari Modelling, dari dua hal tersebut didapatkan bahwa rasa cinta yang kita tunjukkan dengan salah, mungkin akan dipelajari dan digunakan secara salah juga oleh orang lain, terutama di Indonesia yang menerapkan budaya kolektif tinggi, karena itu perlu ditekankan kembali bahwa sebagai manusia yang diberikan kemampuan berpikir (kognitif) untuk memikirkan secara tepat seperti apa perilaku cinta yang ditunjukkan menyesuaikan konteks.

Cinta tidak selalu baik, ada cinta yang tidak baik seperti toxic relationship atau disebut sebagai kelekatan ambivalen yang memiliki ciri-ciri merasa dirinya tidak dapat bertahan tanpa pasangannya, merasa segala perlakuan yang diberikan kepadanya oleh pasangan itu wajar, dan cinta menjadi satu sisi saja tanpa adanya afeksi. Cinta atau hubungan seperti itu terjadi tidak hanya pada hubungan romantis tapi mungkin juga terjadi dalam konteks keluarga atau sosial. Sangat perlu untuk menghindari hubungan ini, umumnya seseorang yang terjebak dalam hubungan ini tidak akan merasakan bahwa hubungan itu salah dan menganggapnya wajar, dan ada juga mereka yang sadar hubungan ini tapi sulit mengakhirinya karena berada dalam konteks keluarga atau sosial, karena itu sebagai pihak ketiga kita perlu menyadarkan mereka. Bagaimana caranya? Menyadarkan maupun menyelesaikan hubungan toxic seseorang itu bukan semudah mengatakan “Hubungan kamu toxic, segera tinggalkan hubunganmu!” karena kita sebagai orang ketiga tidak memiliki kuasa akan perilaku dari orang tersebut, karena itu gunakanlah pendekatan manusiawi (humanistik) dengan menyadarkan bahwa mereka memiliki pilihan akan kendali kehidupan mereka dan bukan pasangan mereka itu yang memegang kendali kehidupan.

Narasumber : Diana Permata Sari S.Psi., M.Sc.

Reporter : Nonik dan Radit
Editor : Mafa
Fotografer : Ageng & Elsha
Visual Design : Lilo