Pojok Berdebu: Kisah Bruce Denimton

Aku adalah Bruce Denimton. Aku biasanya dipanggil Brude (itu bukan typo, memang orang-orang mengombinasikan nama Bru- dan De- dari namaku). Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas di kota Toronto, Kanada. Di sini bisa dibilang aku memiliki nama yang cukup tenar di kalangan rekan mahasiswa di fakultasku. Aku aktif di klub pengembangan mahasiswa bidang musik dan pengembangan mahasiswa. Sejak awal masuk kuliah hingga saat ini aku berada di semester 6, aku selalu mengambil kesempatan untuk mengikuti event-event yang diselenggarakan di fakultasku sendiri. Secara akademik aku memiliki nilai yang cukup memuaskan mengingat aku sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus. Aku memiliki banyak teman dan kenalan di fakultas, dari rekan satu angkatan, adik tingkatku, hingga alumni yang sudah lulus 7 tahun yang lalu. 

Di balik gemerlap kehidupanku saat ini, rasanya ada kejanggalan tersendiri dalam batinku. Singkat cerita, aku memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan mengenai teman, dari kecil hingga dewasa ini. Aku memiliki rasa tidak nyaman tersendiri dalam waktu tertentu yang mendorongku untuk menjaga jarak dengan banyak orang. Aku memiliki pengalaman yang menyakitkan di mana aku harus kehilangan seluruh kehidupan sosialku dan aku tidak punya pegangan yang pasti mengenai seperti apa aku di mata orang lain. Aneh memang, di satu sisi aku sangat mendamba-dambakan pertemanan yang kumiliki saat ini, di sisi lain aku merasa bimbang dan bingung tentang diriku sendiri mengenai teman. Seiring berjalannya waktu dalam hidup, aku berubah sangat drastis hingga di titik aku tidak mengenali dan mengingat diriku yang dulu. Aku tidak pernah merasa berani, mencolok, dan ekspresif seperti saat ini. Bahkan aku tidak menyangka aku dapat bersosialisasi dengan caraku sekarang. Terkesan sangat ekstrim, tetapi niat dan tekadku untuk mengejar relasi yang kuinginkan nampaknya harus dibayar dengan mengorbankan masa laluku dan rasanya aku kehilangan arah. Apakah aku berubah ke arah yang benar? Apakah aku benar-benar maju dari masa laluku yang buram itu? Bagaimana pandangan orang-orang tentang aku? Kenapa aku merasa seperti ini? Apa… Bagaima… Ken…. Stop. 

Sejak kecil, tanpa arah yang jelas dari keluargaku sendiri, aku mengejar apapun itu bersama diriku sendiri. Menjadi orang yang socially desirable, dipandang sebagai orang yang oke, bisa diandalkan, mudah bergaul, dll. Mungkin yang empunya diriku ingin menunjukkan bahwa penderitaanku ini selama ini pada akhirnya akan membuahkan hasil yang baik. Saat ini, 60 persen aku sudah bisa berkata, “ohhh jadi aku dipersiapkan untuk ini”. Mungkin masih ada naifnya sedikit, tetapi dengan perjuanganku “seorang diri” (aku tidak akan melepas peran keluargaku dalam pembentukan diriku ini, tapi semua proses ini aku jalani sendiri) aku bisa mencapai sejauh dan seekstrim ini. Bahkan perjuanganku “seorang diri” ini belum berhenti hingga saat ini. Lihat ini, aku menumpahkan semua pikiranku ini di depan mata kalian sebagai checkpoint-ku. 

Kembali ke topik, aku sangat menghargai dan mengapresiasi pertemanan yang kumiliki saat ini. Meskipun aku sudah menghadapi berbagai tantangan dalam berteman, hingga melakukan perubahan ekstrim, aku berusaha untuk menjaga relasi yang kumiliki saat ini. Aku masih punya banyak kekurangan yang harus aku benahi dan masih banyak kesempatan untuk berkembang di setiap momen tersedia. Jarak yang ada di benakku ini masih harus aku kikis hingga akhirnya mencapai batas yang sekiranya cukup bagiku. Rasanya aku butuh untuk meminta maaf pada orang-orang sekitarku atas raut mukaku yang cukup berantakan, itu adalah residu yang masih tersisa dari masa laluku. Semoga saja dengan masa lalu yang tidak jelas ini, aku bisa beranjak ke level selanjutnya yang lebih mega dan epic.

Visual Design : Abel