Hai, Sobat Psymag! Sudah pernah dengar tentang Festival Sekar Geni? Ini bukan festival seni biasa, lho! Festival Sekar Geni (FSG) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma sebagai ajang spesial untuk gereja dalam menampilkan gending gerejani. Bagi kalian yang belum pernah dengar, gending gerejani merupakan lagu-lagu khas gereja yang dikemas dengan sentuhan gamelan tradisional Jawa. Menarik banget, kan? Festival ini merupakan program kerja dari UKM Karawitan yang sudah berjalan selama 13 tahun. Awalnya, FSG hadir sebagai wadah bagi gereja-gereja untuk mengekspresikan gending gerejani. Tidak hanya melibatkan perwakilan beberapa gereja, melainkan juga melibatkan anak-anak dari Omah Cangkem dan siswa-siswi SMA.
FSG 2025 diketuai oleh Anggun, mahasiswi Psikologi USD, dengan tema “Satu Irama, Satu Cinta, Satu Harmoni: Menyatukan Jiwa dalam Cahaya Kebersamaan”. Tema ini memiliki makna filosofis seperti permainan gamelan yang memiliki irama berbeda-beda. Namun, ketika diselaraskan akan menciptakan musik yang indah. Artinya, meskipun kita berbeda-beda, kita tetap bisa berjalan bersama untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam festival ini terdapat tiga pengamat, yaitu Pak Pardiman, Pak Warsana, dan Bu Yuli, yang bertugas memilih satu penampil terbaik untuk menerima trofi dari Keuskupan Agung Semarang. Selain itu, para penampil lainnya juga mendapatkan apresiasi berupa plakat. Tahun ini, terdapat dua lagu yang bisa dibawakan oleh para peserta, yaitu Cahaya Suci sebagai lagu wajib dan satu lagu bebas yang masih dalam kategori gending gerejani.
Selanjutnya, pasti Sobat Psymag penasaran, bagaimana perjalanan festival seni ini? Persiapan FSG terbilang cepat, lho! Hanya sekitar tiga bulan sejak pembentukan panitia. Meskipun terdapat kendala selama prosesnya, seluruh tantangan dapat teratasi bersama-sama. Salah satu tantangan yang muncul adalah adanya peserta yang mengundurkan diri. Namun, hal tersebut justru membuka ide baru, yakni dengan memperluas undangan tidak hanya ke gereja, tetapi juga ke sekolah. Dengan begitu, generasi muda juga memiliki ruang untuk belajar dan melestarikan budaya gamelan. Salah satu buktinya adalah kehadiran PSF Angel Voice–UKF paduan suara Fakultas Psikologi USD–yang ikut meramaikan festival ini sebagai guest star. Sophia sebagai ketua PSF bercerita, bahwa penampilan ini merupakan pengalaman panggung besar pertama mereka dengan durasi latihan yang hanya satu minggu. Hal ini justru semakin mempererat solidaritas antaranggota PSF. Meski terkendala dengan kesibukan masing-masing anggota, mereka tetap kompak dan semangat dalam berlatih. Sempat muncul rasa gugup dan tanggung jawab yang besar, tetapi semua itu terbayar dengan rasa puas dan bahagia setelah tampil.
FSG 2025 berhasil menarik perhatian para penonton, termasuk Karin dan Grace. Keduanya merasa senang dan kagum melihat kolaborasi antara paduan suara dan gamelan, apalagi Karin yang belum pernah menyaksikan festival seperti ini. Menurutnya, menggabungkan kedua elemen tersebut merupakan hal yang tidak mudah dilakukan. Festival ini juga membuat Grace yang berasal dari Sumatra Utara menjadi lebih familiar dengan karawitan, terutama gamelan. Ia menambahkan, ketika karawitan dipadukan dengan sentuhan musik modern seperti rap, penampilannya terasa lebih menarik dan segar. Keduanya berharap FSG dapat terus diselenggarakan di masa mendatang. Selain memberikan hiburan, festival ini juga membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya sejak dini.
Setelah FSG 2025 sukses diselenggarakan pada 24 Mei lalu, Anggun merasa sangat lega dan senang melihat respons positif dari para peserta maupun panitia. Ia mendapatkan banyak insight yang berpengaruh terhadap pengembangan dirinya. Kemudian, Alicia sebagai salah satu panitia inti berharap bahwa lewat kolaborasi yang lebih terbuka, menjadikan karawitan semakin berkembang dan memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu, FSG juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi mahasiswa seiring dengan keberagaman yang ada di lingkungan perkuliahan.
FSG juga menjadi ajang untuk menampilkan kekayaan budaya Jawa, khususnya melalui kehadiran musik tradisional gamelan. Fun fact, Anggun yang berasal dari Lampung mulai tertarik dengan gamelan saat mengikuti ospek. Ia pun berharap teman-teman mahasiswa dapat merasakan pengalaman seru yang pernah dialaminya. Dengan demikian, karawitan tidak hanya dikenal oleh kalangan orang tua atau mereka yang sudah terbiasa dengan gamelan saja. “Mungkin karawitan sering dianggap kuno, tapi kalau kita berani coba masuk, ternyata banyak banget hal yang bisa ditemukan dan dipelajari,” ujar Anggun. Alicia menambahkan, “karawitan nggak cuma soal budaya Jawa, genre lain pun bisa masuk, dan hal itu justru bikin gamelan makin hidup dan menarik untuk generasi muda.” Nah, sangat menarik kan! Kalian bisa ikut belajar bersama UKM Karawitan setiap hari Selasa dan Kamis di lantai dua Gedung Sastra yang baru, lho! Yuk, belajar gamelan bareng!
Reporter: Armel
Editor: Erica & Inggrit
Fotografer: Christo & Vani
Desainer: Abel
Website: Ishak
