Agape: Ketulusan Cinta di Tengah Dinamika Hidup

Cinta merupakan sebuah pengalaman kompleks yang dirasakan oleh semua orang. Hal yang sulit diungkapkan, tetapi bisa kita lihat, rasakan, bahkan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Cinta seringkali melibatkan keterikatan, kepedulian, dan keinginan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Seorang sastrawan terkenal, Kahlil Gibran, dalam bukunya yang berjudul The Prophet, menulis “Cinta tidak memiliki keinginan selain untuk memenuhi dirinya. Tapi, jika kamu mencintai dan harus memiliki keinginan, biarkan ini menjadi keinginanmu: Untuk mencair dan menjadi seperti sungai yang menyanyikan melodi bagi malam.” Ia menekankan bahwa cinta adalah sebuah kekuatan yang seharusnya membebaskan kita dan cinta tidak pernah terikat oleh apapun. Erich Fromm, seorang ilmuwan psikologi, pernah menuliskan dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving (1956), “Cinta adalah kepedulian aktif terhadap kehidupan dan pertumbuhan dari mereka yang kita cintai.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa cinta tidak hanya ada, tetapi juga tumbuh seiring perjalanan hidup manusia melalui aksi yang kita lakukan dalam kehidupan kita.

Pada abad ke-21, pemahaman akan cinta telah mengalami perluasan makna. Manusia tidak hanya memandang cinta dalam nuansa romantis pasangan semata, tetapi dalam konteks yang lebih luas, seperti kasih sayang orang tua, persahabatan, persaudaraan, dan sebagainya. Cinta yang kita berikan kepada orang lain hendaknya bersifat murni sejalan dengan konsep cinta yang tak bersyarat, yaitu agape. Di sinilah kami akan membahas mengenai agape dan dinamikanya dengan menggunakan kacamata psikologi bersama narasumber kami, Fernanda Putri Gisela, M.Psi., Psikolog.

Agape dalam perspektif psikologi merupakan bentuk cinta yang tulus dan tidak bersyarat. Konsep ini sering dikaitkan dengan nilai religius tentang kasih, yakni ketika seseorang berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan dalam berbagai interaksi sosial. Mbak Gisel menekankan bahwa agape memiliki perbedaan dengan bentuk cinta lainnya, seperti eros, philia, ataupun storge. Menurutnya, eros lebih merujuk pada hubungan cinta romantis, philia mengacu pada hubungan persahabatan, sedangkan storge menunjukkan hubungan kasih sayang dalam keluarga. Sementara itu, agape merupakan bentuk cinta tertinggi yang bersifat altruistic dan tidak didasarkan pada keuntungan pribadi atau hubungan emosional semata.

Agape dapat terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu faktor yang mendukung maupun menghambat seseorang dalam mewujudkannya. Kesadaran akan pentingnya cinta kasih, nilai moral, keyakinan bahwa Tuhan mencintai tanpa syarat, dan lingkungan yang positif dapat membantu seseorang untuk mengembangkan sikap agape dalam kehidupan sehari-hari. Mbak Gisel menambahkan, apabila lingkungan tidak suportif, kurang empati, serta kurang memahami nilai belas kasih, perilaku agape akan sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun agape merupakan bentuk cinta yang mulia, kita diharapkan untuk dapat menerapkannya secara seimbang, sehingga kita tidak terjebak dalam self-sacrificing maupun menjadi people pleasure yang cenderung memikirkan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Mbak Gisel menambahkan bahwa penting bagi kita untuk memberi batasan saat menerapkan agape. Hal tersebut dapat terwujud jika kita memiliki kesadaran akan tindakan yang dilakukan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memiliki pemahaman akan kebaikan kepada orang lain.

Sebagai mahasiswa, penerapan cinta agape sangat relevan dalam interaksi sosial maupun akademik. Hal tersebut selaras dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh Universitas Sanata Dharma, yaitu cerdas dan humanis. Mbak Gisel menegaskan bahwa penting untuk memahami batasan dalam menunjukkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Agape seharusnya tidak membuat kita kehilangan identitas diri, tetapi justru menjadi salah satu sarana untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan penuh kasih. Hal tersebut dapat membantu kita dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara kepentingan pribadi dan kepentingan sosial, sehingga konsep agape yang merupakan cinta tanpa syarat itu tetap terus hidup dan tumbuh dalam kehidupan kita.

Narasumber : Fernanda Putri Gisela, M.Psi., Psikolog.
Reporter : Evan & Vincen
Editor : Elsa & Tiwi
Fotografer : Vike
Desainer : Nela
Website : Novi

Daftar Pustaka

Fromm, E. (1956). The art of loving. New York: Harper & Row.

Gibran, K. (1923). The prophet. New York: Alfred A. Knopf.