IISMA: Apa Aja Sih yang Harus Dipersiapkan? Effort Banget Enggak, Ya?

Maria Theresa Angeline Kusdianto atau yang kerap disapa Lin merupakan mahasiswi Psikologi Universitas Sanata Dharma angkatan 21 yang lolos menjadi awardee dalamprogram Indonesian International Student Mobility Awards(IISMA) 2024. Dalam program ini, Kak Lin berkesempatan untuk belajar selama satu semester di University of Padua, Italia. Berawal dari kegagalannya untuk pertukaran pelajar ke Jepang karena pandemi Covid-19, Kak Lin tak ingin melewatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri lagi. Mimpi Kak Lin untuk menimba ilmu di negeri orang rupanya telah terpatri sejak kecil. Ia merasa kagum melihat saudara-saudaranya yang melakukan study exchange. Kak Lin semakin termotivasi untuk mencoba IISMA ini karena programnya bersifat fully-funded

Selama libur pergantian semester kemarin, Kak Lin menggunakan waktunya untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan dalam seleksi program IISMA 2024, seperti mengumpulkan berkas, membuat CV, tes IELTS, dan membuat esai. Oh, iya, negara tujuan pilihan pertama dan kedua Kak Lin adalah University of Glasgow dan University of Edinburgh, dan yang ketiga di University of Padua, Italia. Dikarenakan UK tidak menerima sertifikat tes Duolingo, akhirnya Kak Lin memutuskan untuk tes IELTS. Jadi, penting bagi kita untuk memastikan syarat sertifikat Bahasa Inggris apa saja yang diterima oleh negara pilihan tujuan kita. Tak hanya itu, dibandingkan harus mempersiapkannya secara mandiri, kehadiran seorang mentor juga sangat membantu Kak Lin. Program mentoring ini membantu para awardee untuk mengetahui alur pendaftaran dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan, termasuk penulisan esai yang tepat. Berawal dari melihat informasi open mentoring di akun media sosial IISMA Alumni Club, Kak Lin mencoba untuk mencari pembimbing yang dapat membantunya. Akhirnya, ia mendapatkan seorang mentor dari La Trobe University, Australia.

Tak bisa dipungkiri, perjalanan Kak Lin hingga dinyatakan lolos seleksi IISMA tidak mudah. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merasa kurang puas dengan skor IELTS yang dimiliki sehingga ia harus memaksakan diri untuk mencapai target. Awalnya, ia juga sempat kebingungan untuk memaksimalkan 350 kata dalam penulisan esai, hingga akhirnya, ia berhasil melakukannya berkat bantuan dari mentor. Tidak hanya itu, Kak Lin mengakui kesalahannya karena tidak sempat berkonsultasi dengan Kepala Program Studi mengenai jumlah SKS yang dapat dikonversi dari program IISMA. Terakhir, Kak Lin bercerita tentang kendala yang ia hadapi ketika interview. Pada saat itu, ia keluar secara tiba-tiba dari zoom selama lima menit karena Wi-Fi-nya mati. Baginya, lima menit itu berharga, terlebih ia hanya diberi waktu 30 menit untuk interview. Dalam kondisi tersebut, Kak Lin tetap berusaha untuk menerima hasil apa pun yang terbaik baginya.

Hari di mana Kak Lin memuat ulang website untuk melihat hasil pengumuman, perasaan terkejut, bahagia, dan penuh rasa syukur bersatu di dalam dirinya. Tidak hanya bagi dirinya saja, orang tua Kak Lin juga merasa bangga terhadap pencapaian anaknya. Akhirnya, Kak Lin berhasil setelah melewati perjalanan yang terasa memberatkan. Keberhasilan Kak Lin ini tentu tidak lepas dari dukungan orang tuanya. Sejak kecil, Kak Lin telah didorong untuk mencari beasiswa sehingga dirinya sudah terbiasa untuk membangun rutinitas disiplin, seperti cara belajar yang membuat Kak Lin memperoleh nilai yang bagus. Tidak hanya itu, kuasadari Tuhan juga sangat berarti baginya. Kak Lin menceritakan pengalamannya di mana setelah dinyatakan lolos IISMA. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya dikelilingi oleh hal-hal yang mengarahkannya ke Padua, Italia, seperti yang ada pada nama pelindung gereja di Kotabaru, yakni  St. Antonius Padua, dan dalam Doa Novena 3 kali Salam Maria terdapat kalimat yang berbunyi “…bersama Santo Antonius dari Padua”. Ketika melihat data statistik perihal jumlah mahasiswa yang diterima dan mata kuliah yang ditawarkan, pandangannya tertuju di Eropa dan University of Padua, di mana terdapat banyak mata kuliah psikologi yang ditawarkan. Selain itu, alumni juga memberitahu bahwa University of Padua dikenal karena fakultas psikologinya yang unggul.

Bagi Kak Lin, tanggung jawab dan hal-hal yang diharapkan sebagai seorang awardee IISMA adalah dapat menjadi sarana untuk menambah relasi, pengetahuan, dan pengalaman karena kita tidak dapat berkembang jika tetap berada di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Kita harus membuka diri terhadap perbedaan gaya hidup dan budaya karena adanya perkembangan zaman. Namun, bukan berarti jati diri kita hilang dengan mengadopsi budaya mereka sehingga kita harus bisa mengambil mana yang baik dan mengabaikan yang buruk. Selain itu, Kak Lin juga ingin membantu angkatan selanjutnya yang ingin menjadi awardee IISMA dan membangun Indonesia di bidang psikologi. 

Kak Lin memberikan beberapa pesan bagi teman-teman yang ingin mencoba program IISMA untuk jangan mendengarkan pendapat buruk dari orang lain. Misalnya, bertanya di media sosial, “IPK aku cuma segini, organisasi yang aku ikuti cuma segini, kira-kira cukup atau enggak ya?”. Padahal, dalam kriterianya, hal tersebut sudah lebih dari cukup. Jadi, itu hanya bermaksud untuk men-discourage orang-orang yang mungkin IPK-nya lebih rendah atau pengalamannya lebih sedikit. Kak Lin juga berpesan untuk selalu percayakan semua kepada Tuhan dalam berusaha, tetapi tetap berserah diri kepada-Nya karena tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri tanpa campur tangan dari Tuhan. Jika membutuhkan, kita bisa mencari support atau dukungan dari program mentoring karena akan sangat membantu dalam proses seleksi sampai wawancara. Terakhir, persiapkan dengan matang dan jangan membiasakan diri menjadi seorang deadliner untuk menghindari berbagai kendala, seperti website yang down ketika hari H penutupan pendaftaran. 

Reporter: Ninda
Editor: Angel & Leora
Fotografer : Elsha
Desainer : Cheris & Wilsen