“Love is Happiness”

Cinta. Kita sering mendengar kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan juga menerapkannya dalam berbagai hal tanpa kita sadari, seperti mencintai atau menyayangi seseorang yang ditunjukkan dengan kepedulian sehingga memberi kita perasaan senang dan nyaman. Namun, apakah cinta memang benar seperti itu? Atau cinta dapat diartikan dengan makna yang lain? Apakah cinta selalu memberikan kebahagiaan? Lalu, usaha apa saja yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan atau mempertahankan cinta? Bersama-sama kita akan membedah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan berdiskusi bersama mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang akan dijawab berdasarkan teori psikologi dan pengalaman masing-masing. Bayuseto Jaluwani atau Bayu dan Desna Warintan br Lumban Gaol atau yang akrab disapa Desna akan menjadi teman diskusi kali ini.  

“Apa, sih, cinta itu?” (Cinta.. Cinta itu kadang tak ada logika #eh)

Menurut Desna, mengacu pada teori Psikologi Sosial, cinta adalah bentuk emosi yang berkaitan dengan keintiman, ketertarikan, rasa suka, dan hubungan. Desna juga menekankan bahwa cinta itu bersifat universal yang artinya cinta itu tidak hanya diberlakukan kepada pasangan saja, tetapi juga pada hal-hal yang lain.

Bayu berpikir bahwa cinta itu merupakan faktor biologis karena berkaitan dengan stimulus dan respon yang didorong dari kebutuhan dalam diri kita untuk tertarik kepada seseorang. Faktor biologis, yang berkaitan dengan kebutuhan, memunculkan rasa senang yang nantinya disebut sebagai cinta. Bayu setuju dengan pendapat Desna bahwa cinta itu bersifat universal, tidak hanya dalam konteks pasangan, tetapi juga dalam konteks keluarga dan persahabatan.

Mengulik kembali cinta itu bersifat universal, berdasarkan teori psikologi yang dibahas oleh Sternberg, seorang ahli psikologi yang meneliti emosi cinta mengatakan bahwa bentuk cinta ada banyak jenisnya. Desna menyimpulkan secara garis besar bahwa cinta itu awalnya berasal dari perasaan ingin memiliki walaupun sebenarnya tidak benar-benar memiliki. Dari rasa tersebut, kita didorong untuk memiliki perasaan erat dengan orang lain, seperti pasangan, orang tua, pacar, dan lain-lain. Bayu juga setuju bahwa cinta itu mendorong seseorang untuk lebih erat dalam beberapa hubungan walaupun perasaan, perilaku, dan makna setiap cinta itu berbeda-beda. Akan tetapi, kita berangkat dari awal yang sama, yaitu dari cinta.

Kita bisa nggak, sih, mencintai sesuatu yang bukan manusia? (Bukan manusia? Setan maksudnya, ya?)

Menurut Bayu, cinta bisa diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia, contohnya hobi. Ia mempunyai hobi untuk berolahraga. Baginya, hobi olahraga menyimpan banyak kenangan yang menyenangkan sehingga ia dapat mencintai hobinya dari awal memulai, proses, hingga dampak yang dirasakan. Bayu menyimpulkan bahwa cinta itu tidak hanya diberikan kepada seseorang, tetapi juga bisa kepada suatu objek atau proses karena adanya perasaan-perasaan tertentu.

Desna menambahkan bahwa cinta juga bisa diberikan kepada hewan, contohnya hewan peliharaan. Desna sangat mencintai hewan anjing karena saat ia merasa sendiri dan tidak tahu ingin bercerita mengenai permasalahan yang sedang dihadapi, ia akan memberikan afeksi dan cinta kepada anjing. Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk pemuasan hatinya dengan menyayangi, mengurus, dan memberi makan. Desna juga setuju bahwa selain hewan, kita juga harus mencintai proses yang telah berlalu karena dengan kita mencintai proses, kita akan bisa lebih menikmati hidup.

Menurut kalian, berbeda nggak, sih, perasaan terhadap pasangan dengan perasaan selain pasangan, mengingat konsep cinta lebih sering dikaitkan dengan percintaan pasangan saja? (Aduh Desna single, no comment katanya hihi)

Bayu merasa kedua hal tersebut berbeda walaupun dasarnya ia merasa ada pemenuhan perasaan-perasaan tertentu. Menurutnya, cinta kepada pasangan, keluarga, dan hobi memiliki perasaan yang berbeda. Perasaan terhadap pasangan adalah perasaan intimate, perasaan terhadap keluarga adalah perasaan harmonis, dan perasaan terhadap hobi lebih mengarah kepada perasaan positif yang didapat. Ekspresi yang ditunjukkan juga tentu berbeda dalam menghadapi konteks cinta itu. Bayu menekankan walaupun semua cinta itu berbeda-beda perasaan-nya yang perlu diketahui bahwa semua jenis cinta itu memiliki benefit untuk dirinya. Akan tetapi, ia puas dengan semua jenis cinta karena memberikan perasaan bahagia (Happiness).

Desna menambahkan, walaupun belum pernah berpacaran, tetapi pernah ada masa ia tertarik kepada seseorang dan menyadari bahwa rasa tertarik itu memberikan perasaan senang yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Namun, Desna juga tidak memungkiri bahwa perasaan itu kemudian bisa menjadi perasaan yang menyakitkan bagi dirinya. Desna juga menekankan bahwa cinta itu tidak selamanya dapat memberikan perasaan bahagia, tapi juga bisa sedih.

Cinta itu tidak selalu bahagia kan, ya? Kalian bisa ceritakan apa saja perasaan-perasaan tidak bahagia yang mungkin terjadi dan apa saja dampak-dampaknya? (Pacar nggak jawab WA, Bang. Perasaan nyesek terus nggak bisa makan)

Desna sering mendengar kejadian seperti “terhanyut dalam cinta” di kehidupan mahasiswa-mahasiswi saat ini. Artinya, seseorang akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan pasangan dengan memberikan semua perhatiannya kepada mereka. Hal itu mengakibatkan hubungan cinta yang tidak sehat dan menimbulkan perasaan yang cenderung cemas daripada bahagia. Hubungan cinta seperti itu akan semakin buruk jika pasangan memiliki sifat yang dominan, sifat yang selalu memaksakan pasangannya untuk memenuhi kebutuhannya setiap saat sehingga dapat menyebabkan hubungan itu menjadi toxic. Hal tersebut dapat menjadi pemicu perasaan-perasaan negatif yang mungkin akan dirasakan oleh kedua pasangan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi salah satu pasangan untuk memiliki regulasi diri yang baik sehingga dapat memahami seperti apa hubungan yang baik sehingga dapat memberikan perasaan senang dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Bayu juga setuju bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang salah mempersepsikan obsesi sebagai cinta. Mereka beranggapan bahwa obsesi itu adalah bentuk cinta dengan memberikan afeksi yang membabi buta tanpa memperhatikan konteks yang ada. Padahal, bentuk obsesi tersebut akan “memakan” diri mereka yang menyebabkan mereka tersakiti. Bayu menekankan bahwa dalam menerapkan cinta, kita perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu sebelum memberikan cinta kepada orang lain. Jangan sampai cinta yang kita berikan kepada orang lain melebihi cinta terhadap diri kita sendiri. Dengan mencintai diri, kita bisa menerapkan value diri dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani cinta.

Upaya apa aja sih yang akan kalian lakukan untuk mendapatkan cinta yang memberikan kebahagiaan? (Di pamella kayaknya cinta diobral sekilo 10 ribu)

Menurut Desna, komponen yang paling utama dalam mendapatkan cinta yang memberikan kebahagiaan adalah komunikasi. Rasa kasih sayang dapat terbentuk karena komunikasi yang terjalin antara diri kita dengan orang lain. Tanpa adanya komunikasi, kita akan sulit memberikan rasa cinta atau kasih sayang dengan jelas. 

Berbeda dengan Desna, Bayu lebih menekankan pada perilaku karena diri sendiri maupun orang lain biasanya akan menunjukan respon tertentu ketika ada perilaku yang mendasari. Contohnya, pada konteks keluarga, ia akan berperilaku nakal kepada adik (dalam batas wajar) untuk mencari perhatian dan kasih sayang orang tua. Walaupun Bayu tidak berkata secara eksplisit, tetapi Bayu dan orang tuanya memiliki rasa cinta dan kehangatan yang nantinya akan terjalin.

Setelah kalian mendapatkan cinta, upaya apa yang akan kalian lakukan untuk mempertahankan cinta tersebut?

Bayu mengatakan bahwa mencoba hal positif baru yang tidak monoton dapat membuat hubungan cinta dapat bertahan yang dapat menghilangkan kebosanan, terutama apabila masing-masing dari pasangan tersebut menunjukkan keinginan untuk mempertahankan cinta. Hal itu juga dapat membuat salah satu dari mereka mengetahui itikad dan keinginan pasangannya, serta lebih berkomitmen dalam perasaan cinta dan kasih sayang.

Desna percaya bahwa selain perasaan, di dalam cinta juga terdapat kepercayaan. Sebagai contoh, saat Desna diberi kepercayaan oleh orang tuanya, ia meyakini bahwa kepercayaan itu merupakan bentuk cinta dari orang tua. Oleh karena itu, Desna menghormati kepercayaan yang diberikan padanya dengan bertindak dan berperilaku baik selama merantau. Selain mempertahankan cinta dari orang tuanya, Desna juga berusaha mempertahankan cinta dan kasih sayang terhadap dirinya sendiri.

Pesan dari Desna dan Bayu untuk para pembaca.

Bayu: “Sebelum memberikan cinta kepada orang lain, cintai dirimu sendiri terlebih dahulu karena mengetahui value diri adalah hal yang penting. Jangan sampai cinta yang kamu berikan ke orang lain itu malah melebihi cintamu ke dirimu.”

Desna: “Cinta itu boleh, tapi jangan sampai bodoh, ya. Di zaman sekarang, banyak orang memiliki rasa cinta yang ekstrem. Kita perlu menjaga dan meregulasi diri dengan menentukan batasan-batasan tertentu sebelum menerapkan cinta”.

Narasumber : Desna & Bayu
Reporter : Radit
Editor : Berlian & Ziva
Desainer: Cheris & Nela