Mengabdi untuk Mengisi Baterai Kebahagiaan

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata “Agape”? Mungkin istilah ini belum familiar bagi banyak orang, tetapi tentunya kita semua mengenal tentang cinta tak bersyarat. Lalu, kepada siapa cinta tak bersyarat ini ditujukan? Jawabannya adalah pada SEMUA orang yang kita cintai. Salah satu bentuknya adalah melalui kegiatan pengabdian masyarakat atau menjadi volunteer. Pada Tips Alumni kali ini, mari kita bahas hal tersebut bersama Mbak Sintami! Sintami Retno Hidayati yang akrab disapa Sinta atau Sintami adalah alumni Psikologi Sanata Dharma. Sebelum menjadi mahasiswa angkatan 2014, ia sempat mengambil waktu jeda (gap year) selama satu tahun. Mbak Sintami bekerja sebagai fasilitator, memandu kegiatan edukasi dan pengembangan (development). Selain berkarier, ia juga merupakan ibu rumah tangga dan telah dikaruniai seorang putri dari pernikahannya pada tahun 2023. 

 Setelah lulus dari Universitas Sanata Dharma, bekerja menjadi tujuan utama bagi Mbak Sintami. Keputusan ini diambil karena ia ingin menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya. Meski sempat mempertimbangkan untuk mendaftar di kepolisian, berbagai inspirasi yang muncul seiring berjalannya waktu membuatnya merasa lebih cocok menjalani peran sebagai fasilitator di bidang Experiential Learning (EL).  Walaupun profesi ini sudah diakui oleh negara, tetapi Mbak Sintami belum sepenuhnya menjadikan karier ini sebagai pekerjaan tetap. Bagi Mbak Sintami, setiap pilihan yang dia buat memiliki tantangannya masing-masing. Untuk mencapai posisinya saat ini, ia juga tidak terlepas dari berbagai tantangan dan gejolak yang dilalui. 

Bidang pekerjaan yang ia geluti ini ternyata belum banyak dikenal. Hal ini membuat Mbak Sintami kerap kali memilih tidak memperpanjang pembahasan lebih lanjut ketika tetangga bertanya tentang pekerjaannya. Ia bahkan lebih sering membiarkan mereka beranggapan bahwa dirinya hanya memiliki kesibukan di rumah saja. Keluarga menjadi bagian dari perhatian utama Mbak Sintami sehingga akhir-akhir ini segala kegiatannya berpusat untuk mengurus keluarga. Beliau merasa bahwa pekerjaan yang dijalankan sekarang ini adalah pilihan yang tepat untuk mengimbangi waktunya antara kerja dan keluarga, terutama mengurus anak. Pekerjaan sebagai EL memang akan menuntut Mbak Sintami untuk bepergian selama beberapa waktu, bahkan mengharuskan pulang pagi atau pulang malam. Akan tetapi, ketika hari-hari tidak bekerja atau libur, Mbak Sintami bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya. 

Ketika ditanya tentang relasi pertemanannya saat ini, Mbak Sintami mengakui bahwa dirinya masih mempertahankan relasi yang intens hanya dengan beberapa orang. Walaupun dengan adanya keterbatasan waktu bertemu, ia tetap berusaha untuk meluangkan waktunya. Mbak Sintami melakukan percakapan mendalam atau deep talk dengan temannya ketika bertemu. Menurutnya, wajar saja bagi orang dewasa mengalami “sirkel” atau kelompok pertemanan yang semakin menyempit dengan sendirinya hingga menyisakan orang-orang tertentu saja yang mau bertahan. Saat dewasa, waktu yang dihabiskan memang banyak untuk pekerjaan dan keluarga. Bagi Mbak Sintami, sulit untuk meluangkan waktu atau energi bagi orang lain secara cuma-cuma. 

Beliau juga menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri, ketika kita akan menemui orang lain, banyak hal yang perlu dipersiapkan, seperti uang transpor dan energi. Baginya, hal yang mendasari seseorang rela meluangkan waktunya tanpa imbalan adalah rasa sayang dan keinginan untuk membangun relasi positif. Ajaibnya, meskipun sudah bertahun-tahun lalu lulus bahkan jarang bertemu atau menjalin relasi dengan teman kuliah dan SMA karena kesibukan masing-masing, Mbak Sintami mengaku takjub karena saat ini masih dipercaya untuk mengisi berbagai kegiatan kemahasiswaan. Beberapa kegiatan tersebut, seperti Akrab Psikologi (AKSI), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF), maupun urusan lain yang memberikan dirinya kesempatan sehingga dapat berjumpa dengan mahasiswa angkatan baru di Psikologi Sanata Dharma.

Selama menjadi mahasiswa, Mbak Sintami juga pernah mengikuti kegiatan sukarela atau yang biasa disebut volunteer. Di sini, ia bergabung dengan suatu organisasi swasta non-profit. Organisasi ini beroperasi di luar pemerintahan dan berfokus dalam bidang sosial serta lingkungan yang dinamakan Melodi Care. Namun, organisasi ini sudah lama tidak beroperasi kembali atau vakum karena kesibukan masing-masing anggota. Sekilas tentang NGO Melodi Care ini, Mbak Sintami bercerita bahwa program utama organisasi ini lebih berfokus pada  pendidikan dan anak-anak. Salah satu kegiatan yang Mbak Sintami soroti adalah ketika berkunjung ke SD 1 Monggol di Gunung Kidul. Kunjungan ini merupakan program yang cukup lama bahkan berlangsung hampir setahun. Sebelum program tersebut diterapkan, biasanya akan dilakukan observasi dan asesmen terlebih dahulu agar program yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dari tempat dan kondisi lingkungan tersebut.

Mengingat latar belakang Mbak Sintami serta para pendiri NGO Melodi Care didominasi oleh anak psikologi, mereka merancang suatu program berjudul ‘Who am I?’ dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak SD 1 Monggol. Program ini dibuat berdasarkan observasi Mbak Sintami dan teman-temannya yang menghadirkan anak, guru, dan stakeholder di daerah tersebut. Mereka menemukan bahwa anak-anak lebih memilih untuk menikah setelah lulus sekolah. Melalui program ini, anak diajak untuk becermin . Awalnya anak itu akan diberitahu kalau akan bertemu dengan sosok “artis” sehingga mereka akan mempersiapkan diri dengan lebih baik, padahal sebenarnya artis yang dimaksud adalah dirinya sendiri. Singkat cerita, program tersebut berjalan walaupun tanpa modal di awal. Momen paling berkesan bagi Mbak Sintami adalah ketika melihat anak-anak tersenyum saat mengetahui bahwa artis yang akan ditemui adalah dirinya sendiri, dan orang tua para murid tersebut juga terpengaruh ikut senang dengan perkembangan anaknya. 

Ketertarikan untuk menjadi volunteer bermula karena Mbak Sintami memiliki  waktu luang dan ingin mencari kegiatan. Peran Mbak Sintami berkembang dari seorang sukarelawan menjadi bagian dalam tim inti. Hal ini dilakukan dengan alasan Mbak Sintami dianggap memiliki lebih banyak waktu luang. Menurutnya, mengikuti kegiatan volunteer memiliki tujuan yang positif bagi mahasiswa, salah satunya adalah masuk ke dalam CV. Pengalaman volunteer ini dapat digunakan sebagai data diri dalam riwayat kegiatan di luar kerja.

Selain untuk tujuan positif, mengikuti kegiatan semacam volunteer ini perlu dijalani dengan sepenuh hati. Mbak Sintami berpesan untuk selalu ikhlas dan mengatakan kepada dirinya sendiri, “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melakukan kegiatan volunteer?”. Selain itu, Mbak Sintami mengungkapkan bahwa ia merasa hidup ketika bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia juga bahagia ketika bisa memberi, meski  bukan berupa material. Kegiatan volunteer ini lebih banyak memengaruhi sisi psikis Mbak Sintami a, terutama dalam mengisi ‘baterai kebahagiaan’ yang berarti dirinya dipenuhi oleh energi positif.  Mbak Sintami mengungkapkan,  “Karena senang, jadi tidak ada beban”.

Dalam wawancara,  Mbak Sintami berbagi tips berdasarkan pengalamannya tentang memilih kegiatan volunteer yang menguntungkan bagi mahasiswa. Ia menyarankan untuk memulai dengan mencari kegiatan  yang bisa membuat kita mengaplikasikan ilmu yang dimiliki . Misalnya, jika tertarik pada anak-anak, kita dapat mencari dan menerapkan pendekatan dari sisi pendidikan serta perkembangan seperti aktif di UKF Kerang atau semacamnya. Beberapa kegiatan volunteer yang mewadahi kemampuan asesmen juga bisa diikuti sebagai modal untuk mahasiswa yang tertarik pada bagian klinis. Dengan melakukan hal tersebut, kita dapat memastikan apakah benar-benar ingin mendalami psikologi atau hanya sebatas menyukai  kegiatannya saja. 

Bagi Mbak Sintami, mengikuti kegiatan volunteer membuat dirinya ‘ngudarasa’, yaitu menguraikan rasa cinta tak bersyarat dari dirinya kepada orang lain maupun sebaliknya. Mbak Sintami sendiri telah merasakan cinta tak bersyarat dari orang tuanya, karena bagi orang tua cinta kepada anak seharusnya tidak mengharapkan balasan apa pun. Selain itu, Mbak Sintami juga menerima cinta tak bersyarat dari dua orang yang tidak terduga, yaitu anak tetangga yang telah lama bersama dengannya  dan  suaminya sendiri. . Dalam kegiatan volunteer, Mbak Sintami mendapatkan hal baru yang bukan berupa material atau uang, melainkan pengalaman dan rasa baru secara psikis, seperti kebersyukuran serta baterai kebahagiaan. 

Mbak Sintami memberikan pesan kepada para mahasiswa bahwa selagi masih memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan, seperti volunteer atau mengabdi ke masyarakat, “gas-in aja” karena pengalaman semacam ini yang  tidak bisa dibeli dengan uang. “Mengabdi itu pengap-pengap dahulu lalu nanti bakalan ada terang di belakang. Biasakan untuk ikhlas dalam mengabdi, nantinya dibalik keikhlasan yang dilakukan ada beberapa benefit yang diterima, seperti relasi.” ungkapnya. Sebagai penutup,  Mbak Sintami juga berpesan kepada mahasiswa agar dapat mengisi cinta yang dimiliki dengan hal-hal yang disukai, dan ketika  sudah merasa cukup, bagikan cinta kepada orang lain dalam bentuk cinta yang berbeda. 

Reporter : Elen & Nia
Editor : Irene & Shelma
Fotografer:
Desainer:
Website: Ishak