
Dalam menjalani kehidupan perkuliahan, kita pasti pernah dan akan sering bertemu dengan banyak tantangan maupun permasalahan. Lalu, gimanasih cara kita untuk tetap fokus pada tujuan akhir dan nggak menyerah? Pada artikel Tips Alumni kali ini, kita berkesempatan mengobrol dengan Kak Adrian dan Kak Avin untuk membahas bagaimana caranya menjalani dan mencintai kehidupan perkuliahan dengan enjoy walaupun banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi selama perkuliahan.
Narasumber pertama kita ada kak Michael Adrian Santoso atau yang dikenal akrab dengan Kak Adrian. Kak Adrian merupakan alumni Fakultas Psikologi Sanata Dharma angkatan 2017. Kesibukan Kak Adrian saat ini adalah bekerja sebagai make up artist. Meskipun pekerjaan Kak Adrian tidak sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah, tetapi Kak Adrian mengakui banyak hal yang ia dapatkan dari berkuliah di Universitas Sanata Dharma, loh! Kira-kira apa aja, sih? Yuk kita simak!
Apa ya alasan yang membuat Kak Adrian memilih jurusan psikologi? Ternyata Kak Adrian pernah mengalami suatu kejadian pada saat Kak Adrian SMA. Kejadian yang Kak Adrian alami melibatkan psikolog. Kejadian itu membuat Kak Adrian terinspirasi dan membuat Kak Adrian tertarik untuk mempelajari psikologi. Ketertarikan Kak Adrian pada psikologi sempat ditentang oleh beberapa orang di sekitar Kak Adrian karena beberapa alasan. Tetapi, Kak Adrian tetap gigih dan ingin membuktikan bahwa Kak Adrian bisa menjalani pilihan Kak Adrian.
Lalu, apakah Kak Adrian enjoy dengan pilihannya sendiri? Walaupun pernah mengalami masa-masa yang tidak nyaman selama perkuliahan, Kak Adrian sangat enjoy dan merasa bahwa ia tidak memiliki penyesalan karena memilih jurusan psikologi. Ketika ada masa-masa yang melelahkan, Kak Adrian meyakinkan diri sendiri bahwa ilmu psikologi yang sedang ia pelajari saat ini akan berguna di masa depan.
Kak Adrian merasa bahwa lingkungan pertemanan di fakultas psikologi ini sangat positif sehingga banyak membantu Kak Adrian belajar. Bahkan, ketika Kak Adrian bertemu dengan teman yang mempunyai perbedaan frekuensi Kak Adrian menjadikan itu sebagai kesempatan untuk saling bertukar ilmu.
Selain lingkungan yang positif, ternyata Kak Adrian juga merasakan perubahan setelah menjadi mahasiswa psikologi. Selain dari kegiatan di dalam kelas, Kak Adrian juga banyak mendapatkan manfaat dari mengikuti kegiatan kepanitiaan di kampus. Pengalaman-pengalaman dari kegiatan tersebut membuat Kak Adrian dapat lebih mengontrol kecemasan dan banyak mempertimbangkan serta tegas dalam mengambil keputusan. Selain itu, Kak Adrian dapat merasakan efek positif setelah lulus. Seperti dapat menerapkan ilmu ketika bertemu orang banyak, bisa lebih tenang karena punya banyak pengalaman pada saat perkuliahan dan juga lebih persuasif.
Banyak hal yang Kak Adrian alami selama menjadi mahasiswa psikologi. Kak Adrian berpesan kepada kita, mahasiswa psikologi yang masih belajar untuk jangan takut mengeksplor karena kita belajar di kampus yang baik dan lingkungannya mendukung. Jangan ragu untuk mengambil banyak kesempatan dan jangan takut gagal.
–
Kembali lagi dengan alumni Fakultas Psikologi, narasumber kedua ini tidak kalah menarik. Kakak narasumber yang kedua hadir dari angkatan 2019. Kak Emmanuel Avin Aditya alias Kak Avin ini lah yang turut membawakan cerita inspiratif berikutnya. Di tengah kesibukan menggali pengetahuan dan magangnya sebagai people development, Kak Avin berkenan berbagi cerita kehidupan perkuliahannya.
Kenapa ya Kak Avin memilih kuliah di jurusan psikologi? Kak Avin berasal dari SMA jurusan IPA tetapi ia menyukai ranah sosial dan yang menurutnya paling korelatif adalah jurusan psikologi. Kak Avin ingin mengeksplor ilmu sosial. Ia mengaku awalnya hanya mengenal psikologi sebatas ilmu yang mempelajari manusia seperti cara manusia bersosialisasi dan berperilaku. Ternyata, setelah menjadi mahasiswa psikologi, ia menemukan bahwa psikologi terdiri dari banyak cabang di antaranya klinis, sosial, kepribadian, perkembangan, dan PIO. Kak Avin mencoba masuk ke ranah yang semasa itu belum common. Terhitung mulus dalam memilih jurusan kuliah psikologi, orang tua Kak Avin langsung menyetujui keinginan anaknya tersebut. Pertimbangan yang cukup banyak hanya mengenai lokasi studi.
Apakah Kak Avin enjoy dengan kehidupan perkuliahannya? Ya, cukup enjoy dan enak. Di awal, sebagai perantau, ia cukup kaget dengan penyesuaian sosial budaya Jogja. Namun dalam konteks kuliah di jurusan psikologi, ia cukup menikmatinya. Banyak rintangan dan hal-hal di luar ekspektasi tetapi dari situ ia belajar untuk kuliah dengan baik. Dulu, Kak Avin cukup aktif dalam kegiatan kampus loh, ia mengikuti kepanitiaan KPU, sie acara dan ketua Psychofest, co acara dalam bedah jurnal, asisten P2TKP, ukf seni, dan ternyata Kak Avin juga mantan anggota Psymag. Ia membagi waktu antara kegiatan akademis dan non akademisnya dengan menerapkan bagan penting dan mendesak berdasarkan prioritasnya.
Kak Avin membagikan cara belajarnya selama berkuliah. Ia lebih suka mendengarkan, berdiskusi di kelas, dan kerja kelompok di luar kelas. Ia belajar dari cara kelompok dalam mengerjakan tugas. Ia mengoptimalkan nilai dari mata kuliah pilihan yang ia ambil sendiri. Katanya, tidak ada orang bodoh ketika masuk kuliah, mungkin hanya belum tahu kalau masuk kelas itu untuk belajar. Kalau tidak belajar, atau udah diajarin tapi tetap tidak mengerti, itu baru bodoh. Ketika kuliah, dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu, nah itu lah fungsi ranah akademis. Kak Avin mengalami kesulitan belajar seperti kesulitan merecall materi, baginya akan terasa lebih mudah apabila belajar bareng, ada tanya jawab, jadi lebih mudah merefresh pelajaran.
Apakah Kak Avin pernah berpikir salah jurusan? Jawabannya tidak. Hanya saja di tengah-tengah akan dituntut untuk lebih tajam dalam memilih ranah psikologi yang diminati dan akan diambil. Masa-masa itu energi akan terkuras. Ia menyarankan untuk mengambil satu bidang yang paling diminati untuk dioptimalkan melalui tahap review dulu.
Setelah lulus, Kak Avin menyimpulkan bahwa kuliah itu bukan selalu tentang ilmu atau nilai akademis, tetapi bagaimana merangsang pola pikir dan menajamkan logika. Ia merasa lebih dewasa dalam mempertimbangkan segala aspek kehidupannya. Pola pikir setelah lulus akan berubah drastis dari “setelah lulus mau apa?” hingga pola pikir jangka panjang yang makin terarah.Kak Avin memberi saran kepada mahasiswa fakultas psikologi saat ini, terutama mahasiswa baru untuk kuliah dengan benar dan sewajarnya, tau apa yang harus dilakukan; tahu batas kemampuan diri dalam memilih kegiatan; mencari dan mengeksplor apa yang diminati, berani mengekspresikan diri dan mencari ranah yang bisa mendukung kehidupan bermasyarakat; penting untuk menyesuaikan iklim sosial; kehilangan teman adalah proses sosial, perlu mengasah skill sosial dan komunikasi, mencari lingkungan yang sefrekuensi dan saling membangun; dan yang terakhir, kuliah harus dijalani dengan happy, dan dinikmati. Kuliah jangan dijadikan sebagai beban, kalau merasa tidak cocok di awal, mending langsung pindah karena sudah disarankan juga dari fakultas.
Reporter : Cece & Via
Editor : Jane
Visual Design : Ike