Team building merupakan kata kerja yang sering kali dijumpai pada konteks formal maupun non-formal dalam dinamika kelompok, baik di lingkungan sekolah, kampus, dan pekerjaan. Team building, secara sederhana, merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan suatu kelompok yang terdiri dari anggota lainnya untuk memupuk rasa kesatuan, kebersamaan, dan kekompakan antar anggota agar dapat menghasilkan hasil kerja kelompok yang maksimal. Biasanya, team building merupakan kegiatan yang bersifat “wajib” diikuti semua anggota dalam kelompok sehingga dapat membuat beberapa orang merasa terpaksa untuk ikut. Pada akhirnya, kegiatan ini kurang efektif untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam diri mereka.

Kali ini, kita kedatangan narasumber yang mengemas rangkaian team building pada calon pengurus baru BEM Fakultas Psikologi USD periode 2023-2024, dengan konsep unik yang menggabungkan nilai-nilai ilmu psikologi di dalamnya. Melalui artikel ini, kita akan bersama-sama menggali apa yang menjadi keunikan team building BEMF Psikologi USD saat ini. Mari, kita langsung simak!
Narasumbernya adalah Dwight Lyman Ibnur Rivanesa atau yang akrab disapa Dwight, mahasiswa psikologi angkatan 2021. Saat ini, ia sedang menjabat sebagai kepala departemen organisasi BEM fakultas psikologi. Menurut Dwight sendiri, team building adalah langkah awal mengenal tujuan, makna, dan tanggung jawab dalam dinamika kelompok, yang di dalamnya terdiri dari kegiatan untuk membangun kebersamaan, teamwork, dan keselarasan dengan visi-misi yang ada dalam BEMF psikologi.
Dalam merancang konsep team building, perlu memperhatikan apa yang diperlukan dari anggota. Untuk mengetahui hal itu, metode pengumpulan data bisa dengan cara mengumpulkan angket yang isinya berkaitan dengan apa yang dirasakan, diharapkan, dan dibutuhkan. Selain itu, observasi anggota juga dapat dilakukan dengan observasi yang berkaitan dengan bagaimana mereka berinteraksi, bersosialisasi, dan cerita keluh-kesah kesehariannya yang membuat semakin menyeluruh dalam melihat anggotanya. Dalam dinamikanya, setiap anggota memiliki keunikan dalam membangun potensinya, tetapi tujuan akhirnya tetap sama untuk menggali dirinya agar dapat menjadi lebih maksimal.
Team building BEMF kali ini membuka kesempatan semua anggota BEMF untuk mengarahkan alur kegiatan dengan memfasilitasi berbagai hal agar setiap anggota dapat lebih spesifik melihat apa yang ingin mereka kembangkan dan harapkan. Team building dimaknai oleh Dwight sebagai kegiatan yang sepenuhnya berorientasi pada anggota menggunakan pendekatan humanistik hirarki Maslow, yakni social needs dan self actualization. Social needs sendiri berkaitan dengan kebutuhan untuk berafiliasi, relasi, dan kepuasan diterima oleh lingkup sosial, sementara self actualization berkaitan dengan kebutuhan pemenuhan kompetensi dan karakter.

Dapat dimaknai bahwa pendekatan team building BEMF psikologi kali ini tidak hanya berfokus pada refleksi dinamika diri, melainkan pada dinamika dengan anggota kelompok lainnya. Motivasi mengikuti team building bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi lebih mengarah pada kerinduan untuk menyelami makna dari diri sendiri melalui refleksi. Dari hal ini, kita belajar bahwa memaknai refleksi diri adalah hal yang penting untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Praktik team building yang dipadukan dengan analisis riset non-tes (observasi dan angket) dengan ilmu psikologi dapat semakin memperdalam pemahaman anggota secara menyeluruh sehingga dapat membuat kegiatan yang lebih efektif.
Reporter: William
Editor : Mafa
Fotografer : Desy & Christo
Desainer : Becca & Belicia
