Emotional eating adalah perilaku makan yang tidak didasarkan pada kebutuhan nutrisi tubuh, tetapi terjadi karena munculnya dorongan emosional, seperti stres, kecemasan, atau emosi negatif lainnya. Kebiasaan ini sering kali menjadi cara seseorang untuk mencari kenyamanan secara instan. Ketika seseorang mengalami stres, hormon kortisol dalam tubuh meningkat. Hormon kortisol berfungsi mempersiapkan tubuh untuk menghadapi situasi sulit, seperti respons “fight or flight.” Namun, peningkatan hormon kortisol ini juga memengaruhi metabolisme tubuh, terutama glukosa, yang merupakan sumber energi utama. Saat hormon kortisol naik, kebutuhan glukosa tubuh akan meningkat untuk memenuhi energi yang diperlukan. Ketika energi cadangan mulai berkurang, otak memberikan sinyal agar tubuh mencari makanan, khususnya makanan manis, berlemak, atau asin yang dapat segera menambah glukosa. Selain itu, konsumsi makanan manis juga merangsang pelepasan hormon endorfin dan serotonin. Hormon endorfin membantu menurunkan tingkat stres, sementara serotonin memberikan rasa nyaman. Kombinasi hormon ini menciptakan rasa tenang dan senang secara instan. Akibatnya, perilaku ini dapat menjadi pola kebiasaan yang sulit dihentikan.
Emotional eating sering kali dimotivasi oleh stres dan kebutuhan untuk mengatasi perasaan tidak nyaman secara cepat. Beberapa faktor yang dapat memicu perilaku ini, yaitu stres yang berlebihan, kebutuhan untuk kenyamanan emosional, kurangnya coping mechanism yang adaptif, dan pengaruh lingkungan. Tekanan akademik, pekerjaan, atau masalah pribadi dapat meningkatkan hormon kortisol sehingga memicu keinginan untuk mencari makanan sebagai pelarian. Ketika seseorang merasa sedih, cemas, atau marah, makanan dapat menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari perasaan tersebut. Seseorang yang tidak memiliki strategi pengelolaan stres yang efektif cenderung mencari pelarian yang mudah dan instan, seperti makan berlebihan. Selain itu, iklan makanan, ketersediaan makanan tidak sehat, atau kebiasaan sosial juga dapat memengaruhi pola makan emosional.
Konsep emotional eating berkaitan erat dengan dampak makanan bagi psikologis individu. Jenis makanan, seperti gula, garam, atau makanan berlemak dapat memengaruhi suasana hati secara instan. Konsumsi makanan ini memberikan efek berupa peningkatan mood atau perasaan positif. Namun, efek ini hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah emosional yang mendasarinya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Meskipun memberikan kenyamanan sesaat, emotional eating memiliki sejumlah dampak negatif, baik secara fisik maupun psikologis. Dampak tersebut meliputi binge eating, masalah kesehatan, ketergantungan psikologis, dan penurunan kesejahteraan emosional. Pola makan berlebihan yang sulit dikendalikan sering kali menyebabkan rasa malu dan bersalah yang dapat memperburuk kondisi emosional seseorang. Secara umum, emotional eating tidak dianggap sebagai cara yang adaptif untuk mengatasi stres.
Sebagai mahasiswa, tekanan akademik sering kali menjadi pemicu stres yang dapat mendorong perilaku emotional eating. Untuk menghindari kebiasaan tidak sehat ini, penting untuk mengidentifikasi pemicu, mencari aktivitas pengganti, mempraktikkan mindful eating, mengatur pola makan yang seimbang, mengelola stres dengan efektif, dan membangun dukungan sosial. Sebelum makan, tanyakan pada diri sendiri apa yang menjadi dorongan untuk makan, ataukah keinginan ini muncul karena stres atau emosi tertentu. Temukan cara lain untuk mengelola stres, seperti olahraga yang dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang memberikan rasa nyaman, meditasi, atau melakukan hobi yang menyenangkan.
Selain itu, perilaku mindfull eating, seperti fokus pada setiap suapan makanan, menikmati tekstur dan rasa, serta makan dengan perlahan dapat membantu merasa kenyang secara lebih nyaman dan mengurangi keinginan makan yang berlebih. Pastikan untuk mengonsumsi makanan bergizi secara teratur sehingga tubuh tidak kekurangan energi dan terhindar dari keinginan makan yang tidak terkontrol. Pelajari teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam atau yoga untuk membantu mengurangi tekanan emosional. Selain itu, berbicara dengan teman atau keluarga dapat membantu dalam mengelola emosi dan mengurangi keinginan untuk mencari kenyamanan melalui makanan.
Dengan memahami bahwa emotional eating adalah kebiasaan makan yang didasarkan pada dorongan emosional, bukan kebutuhan fisik, langkah penting untuk mengatasinya adalah mengidentifikasi pemicunya dan mengembangkan coping mechanism yang lebih adaptif. Meskipun memberikan rasa nyaman sementara, kebiasaan ini dapat membawa dampak negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengelola stres dengan cara yang lebih sehat agar terhindar dari dampak buruk emotional eating.
Narasumber : Olga Sancaya Dyah Permatasasi M. Si, M. Psi, Psikolog
Reporter: Felix
Editor: Elsa dan Berlian
Fotografer:
Desainer: Abel
Website: Wilsen
