Hiruk pikuk akan ambisi dalam mewujudkan cita-cita pribadi atau golongan tertentu, seakan menutup kemungkinan tercapainya keinginan bersama. Isu-isu pemecah bangsa seringkali berlalu lalang, diizinkan berhamburan, dan menyelimuti atmosfer kepluralitasan Indonesia. Tidak semua, tetapi samarnya batasan akan otoritas para penguasa kerap kali menjadi sewenang-wenang. Problematika seperti itu harus ditepis dengan tangan yang saling menggenggam persatuan dan tak luput dari peran cinta kasih. Bentuk kasih yang mampu mengatasi semua itu adalah agape. Mari kita mendalami makna agape dalam konteks dinamika kehidupan masyarakat Indonesia!
Lewis dalam Carvalho dan Mulla (2021) menjelaskan bahwa orang Yunani kuno memahami agape sebagai bentuk cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan tanpa syarat. Jenis cinta ini berbeda dengan bentuk lainnya, seperti eros yang bersifat penuh gairah dan sensual; philia, yaitu cinta dalam persahabatan; serta storge, yakni kasih sayang alami, seperti cinta orang tua kepada anak. Agape merupakan bentuk cinta yang menjadi prinsip mendasar dalam semua agama besar di dunia, di antaranya Buddha, Kristen, Hindu, dan Islam (Carvalho dan Mulla, 2021). Lewis juga menambahkan bahwa agape adalah cinta sepenuhnya tanpa pamrih, ditujukan kepada mereka yang secara alami tidak layak dicintai. Hal tersebut berbeda dengan cinta yang ditujukan bagi mereka yang dianggap layak dan menarik. Ini ditegaskan oleh alkitab dalam injil Matius 5:44 yang berbunyi, “Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Singkatnya, agape dalam masyarakat majemuk mampu menjadi landasan ideal bagi relasi antarmanusia.
Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang sangat beragam, mulai dari suku, agama, hingga ras. Secara resmi, Indonesia mengakui enam agama besar, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Pergesekan antaragama ancap kali menjadi isu sosial yang tampak. Realitanya, beberapa pihak tetap menganggap ajaran agamanya sendiri yang paling benar, terlepas dari keyakinannya bahwa semua ajaran agama itu baik. Ketika keenam agama didasari oleh prinsip agape, bukankah seharusnya kita semua dapat bersatu dan hidup dengan damai?
Nilai cinta tanpa pamrih idealnya diterapkan dalam kehidupan bersama, salah satunya melalui sikap toleransi antarumat beragama. Toleransi menjadi kunci utama dalam menjaga kerukunan melalui sikap saling memahami dalam bermasyarakat. Keterbukaan dan kesediaan menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi itu diperlukan untuk menjadi toleran. Toleransi di Indonesia mempunyai peran penting karena didasarkan pada nilai-nilai sosial Pancasila, terutama yang berkaitan dengan agama (Ramage dalam Mokorowu & Saragih, 2024). Di sinilah, kasih tanpa syarat (agape) menjadi penting. Agape mengajarkan kita untuk tidak hanya menghormati orang lain, tetapi juga peduli terhadap sesama, apa pun perbedaanya. Kurangnya empati dan prasangka sering kali menjadi pemicu gesekan sosial. Melalui kasih yang tulus, kita belajar melihat sesama sebagai manusia bukan sekedar identitasnya, sehingga akhirnya kebencian dan radikalisme pun dapat teredam. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kerusuhan sering muncul ketika toleransi hanya menjadi formalitas, bukan datang dari hati.
John MacArthur (2023) menjelaskan bahwa agape adalah kebajikan terbesar dalam kehidupan Kristen. Namun, jenis cinta seperti itu jarang ditemukan dalam literatur Yunani. Itu karena sifat-sifat yang digambarkan oleh agape, seperti tidak mementingkan diri sendiri, pengabdian yang disengaja, dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain; diremehkan oleh banyak masyarakat Yunani kuno karena dianggap sebagai tanda kelemahan (MacArthur, 2023). Di sisi lain, Bovenberg (2025) berpendapat bahwa pada zaman ini, nyatanya, agape tidak sepenuhnya bisa diterapkan dan dirasakan secara cuma-cuma. Ada kalanya, diperlukan material untuk bisa mendapatkannya. “Agape dalam kerangka ekonomi perilaku yang diperluas, menciptakan ‘barang spiritual’ berupa sukacita dan makna dari pelayanan, meskipun harus menanggung biaya material saat ini” (Bovenberg, 2025).
Agape dapat terwujud sedari dini melalui tindakan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika setiap orang ingin mengambil peran, agape dapat terwujud menjadi suatu budaya, apabila direalisasikan secara nyata bukan hanya wacana semata. Agape dapat terwujud secara luas, seperti pada fenomena bencana alam, pandemi, atau konflik sosial. Hal ini justru dapat memicu solidaritas sosial untuk saling membantu dan saling melengkapi. Para relawan saling bekerjasama, tidak memandang latar belakang atau perbedaan yang ada, dan fokus untuk saling tolong-menolong. Inilah momen agape terlihat jelas, ketika manusia membantu sesamanya karena adanya rasa empati, bukan karena soal kesamaan identitas saja.
Esensi dari kasih agape sebagai prinsip dasar kehidupan bermasyarakat yang beragam dapat diwujudkan secara nyata. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.
- Toleransi: Berarti menghormati perbedaan dengan menganggapnya sebagai hal yang wajar dan unik, serta tidak memaksakan perspektif kita kepada orang lain.
- Ikhlas membantu: Dilakukan dengan berbuat baik kepada seluruh lapisan masyarakat dan terlibat aksi sosial seperti gotong royong, bakti sosial, serta donor darah.
- Dialog: Dapat melakukan komunikasi secara sehat, misalnya mengambil keputusan dengan musyawarah bersama serta dialog lintas perbedaan, baik dari segi budaya, agama, suku, dan sebagainya.
- Adil dan setara: Dengan memberikan ruang kesempatan bagi masyarakat Indonesia lainnya untuk menempuh pendidikan, bekerja, dan layanan sosial, serta menolak diskriminasi.
- Teladan dalam kasih: Bersikap baik, seperti jujur, rendah hati, dan empati dalam kehidupan sehari-hari
Rela berkorban demi kebaikan orang lain tanpa mengharapkan imbalan merupakan peran Agape. Selain itu, peran lainnya ialah pemahaman bahwa cinta ini menjadi dasar persaudaraan, toleransi, dan perdamaian antarmanusia. Beragamnya narasi tentang cinta, agape bukan hanya hadir dalam konteks religius, melainkan juga sebagai nilai penting dalam memperkuat martabat kemanusiaan di kehidupan sehari-hari. Meskipun tantangan dalam penerapannya tidak sederhana, nilai ini tetap relevan dan penting dalam membangun cita-cita kehidupan yang rukun dan damai di tengah keberagaman.
Keberagaman bukanlah pemisah dalam persatuan, tetapi benteng yang mampu melindungi kita dari serangan pemudar keindonesiaan. Mewujudkan kehidupan bangsa yang harmonis bukan hanya tugas satu orang atau satu kelompok, akan tetapi tanggung jawab bersama. Agape seakan-akan menyemaikan pengharapan akan kehidupan bermasyarakat yang harmonis, adil, setara, toleran, dan empati. Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh perbedaan, saatnya kita menghidupkan agape, yaitu cinta tulus yang mengutamakan kebaikan orang lain tanpa pamrih. Mulailah dari diri sendiri melalui hal kecil, sekarang juga!
“Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh dunia, tapi kita bisa mengubah dunia seseorang dengan cinta yang tulus.”
Referensi
Bovenberg, L., & van Os, B. (2025). Hope and love in sequential games. Journal of Economics, Theology and Religion, 5(1).
Carvalho, F. K., & Mulla, Z. R. (2023). All you need is love: the relationship between agape and work outcomes. International Journal of Organizational Analysis, 31(4). 1061-1080. https://doi.org/10.1108/IJOA-04-2021-2713
MacArthur, J. (2023, July 26). Love-Agape (Greek Word Study). Precept Austin. https://www.preceptaustin.org/love-agapeMokorowu, Y., & Saragih, D. (2024). Renovating tolerance: Reframing the meaning of equality in a pluralistic society-exploring søren kierkegaard subject-subject relation. Pharos Journal of Theology, 105(5). https://doi.org/10.46222/pharosjot.105.519
Reporter: Via & Arthur
Editor: Angel & Keisha
Desainer: Geva
Website: Wilsen
