GLP ke-15 di Tokyo: Mengembangkan Kepemimpinan dan Pendidikan Berkelanjutan

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kemampuan kepemimpinan menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda, khususnya mahasiswa. Global Leadership Program (GLP) hadir sebagai langkah nyata dalam pengembangan sikap kepemimpinan tersebut. Program tahunan yang diselenggarakan oleh asosiasi Yesuit di Asia Tenggara dan Asia Timur ini pada tahun 2025 memasuki penyelenggaraan ke-15 dan berlangsung di Tokyo, Jepang, pada 3–8 Agustus. GLP mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar, berdiskusi, dan memperluas wawasan melalui tema Education and Cross-border Cooperation for Sustainable Development.

Delegasi Universitas Sanata Dharma di Forum Internasional

Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta kembali mengirimkan enam delegasi yang terpilih sebagai perwakilan kampus. Para mahasiswa ini dipilih berdasarkan pemenuhan berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Dari enam tersebut, tiga diantaranya adalah Maria Diva Rossary (Ocha) dari Fakultas Farmasi, serta Hillary Bestari Setyawijaya (Lala) dan Muhamad Raditya Ardianto (Radit) dari Fakultas Psikologi. Mereka kemudian mengikuti rangkaian kegiatan GLP sebagai perwakilan USD dalam forum internasional tersebut.

Seleksi Ketat Menuju Global Leadership Program

Salah satu delegasi, Lala, menjelaskan bahwa seleksi untuk menjadi peserta GLP  mencakup berbagai tahapan. Ia memulai dengan mengikuti tes TOEFL simulation di Lembaga Bahasa, lalu menyiapkan surat keterangan sehat sebagai bagian dari syarat administrasi. Setelah itu, ia mengisi berbagai pertanyaan di Google Form pendaftaran dan menulis esai sesuai subtema. Motivation letter baru ia buat setelah pihak GLP menambahkannya di formulir. Tahap akhir seleksi adalah wawancara berbahasa Inggris dengan dosen lintas fakultas, dan sebelum berkas dikumpulkan ia memastikan paspornya aktif.

Meski melalui proses seleksi yang panjang, mereka berhasil lolos sebagai delegasi. Sejak masih di Indonesia, mereka sudah diminta mempersiapkan presentasi dan penampilan budaya. Radit menjelaskan bahwa delegasi USD menampilkan tari tradisional dari beberapa pulau di Indonesia. Ia merasa bangga dapat memperkenalkan budaya Indonesia ke peserta negara lain.

Education in Sustainable Development sebagai Tema Utama

GLP tahun ini mengusung tema besar Education and Cross-border Cooperation for Sustainable Development. Tema ini menjadi dasar penyusunan seluruh kegiatan dan diskusi selama program berlangsung. Untuk memperdalam fokus, tema tersebut dipecah menjadi tiga subtema, yakni Basic Education for Sustainable Development, Inclusive Education for Children with Different Backgrounds, dan Cross-Border Cooperation and Higher Education. Pembagian subtema ini membantu peserta memahami isu keberlanjutan dari berbagai perspektif pendidikan.

Kunjungan Lapangan dan Pembelajaran Lintas Negara

Delegasi USD kemudian dibagi ke dalam kelompok yang berbeda sesuai subtema yang ditentukan. Lala tergabung dalam kelompok yang melakukan kunjungan ke Honcho Elementary School, sebuah sekolah dasar negeri di Jepang, untuk melihat langsung praktik pendidikan inklusif. Sementara itu, Ocha melakukan kunjungan ke Ina Gakuen Junior High School di Prefektur Saitama dengan tujuan mempelajari pengembangan pendidikan dasar serta penerapan Education for Sustainable Development (ESD) di lingkungan sekolah. Radit sendiri berkesempatan mengunjungi United Nations University yang aktif bekerja sama dengan berbagai universitas dari berbagai negara dalam isu-isu keberlanjutan.

Selama lima hari, para peserta mengikuti berbagai seminar, workshop, presentasi, hingga kunjungan lapangan (site visit). Ocha mengenang bahwa kala itu jadwal mereka sangat padat karena presentasi hampir dilakukan setiap hari. Ia menambahkan bahwa mereka sering menyiapkan materi hingga pukul satu atau dua  dini hari di lobi hotel. Meski melelahkan, pengalaman tersebut melatih mental, ketangguhan, dan keterampilan kepemimpinan mereka.

Refleksi Pendidikan dan Tantangan Multikultural

Perbandingan antara pendidikan di Jepang dan Indonesia juga menjadi bahan refleksi penting bagi para delegasi. Jepang dinilai lebih maju dalam menerapkan pendidikan berkelanjutan, terutama melalui pengelolaan sampah, daur ulang, dan pemanfaatan teknologi. Ocha menjelaskan bahwa di Jepang, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dan melakukan daur ulang sudah diajarkan sejak dini. Menurutnya, kesadaran serupa sebenarnya sudah tumbuh di Indonesia, hanya saja penerapannya masih terbatas. Selain itu, mereka juga belajar dari negara lain, khususnya Filipina, yang dinilai sangat unggul dalam penyampaian presentasi dan pelaksanaan program.

Tantangan lain muncul dari perbedaan bahasa, budaya, dan disiplin waktu. Jepang yang sangat tepat waktu membuat para peserta harus selalu sigap menyesuaikan diri. Radit menuturkan bahwa budaya tersebut menuntut mereka untuk benar-benar disiplin. Kondisi ini cukup menantang, mengingat persiapan presentasi saja telah membuat mereka begadang. Meski berat, kondisi itu justru menjadi proses yang menempa mereka. Lala menambahkan bahwa mental merupakan aspek paling penting, karena tanpa kekuatan mental, pasti akan mudah menyerah dalam situasi yang menekan tersebut.

Pelajaran Berharga dan Harapan untuk Indonesia

Perbedaan bahasa dan budaya Jepang, terutama budaya ketepatan waktu, menjadi tantangan utama yang dihadapi para delegasi. Namun, pengalaman tersebut justru memperluas wawasan mereka dan mendorong peningkatan  kualitas diri. Radit dan Lala, sebagai mahasiswa Psikologi, menekankan pentingnya menerapkan pembelajaran dari Jepang ke dalam konteks Indonesia. Sementara itu, Ocha memandang GLP sebagai peluang untuk memperluas pengalaman akademik setelah rencana awal mengikuti IISMA tidak terlaksana.

Para delegasi memberikan apresiasi atas langkah awal Indonesia dalam mengintegrasikan isu keberlanjutan di dunia pendidikan. Mereka menilai kesadaran mengenai prinsip sustainable development, karena penerapannya belum berjalan secara konsisten di banyak sekolah. Meski begitu, mereka percaya bahwa dengan kepemimpinan dan kolaborasi yang lebih kuat, Indonesia dapat semakin serius mengembangkan pendidikan berkelanjutan. Upaya ini dianggap penting untuk menjawab tantangan global yang kian kompleks.

Bagi para delegasi, GLP menjadi wadah untuk melatih kepemimpinan, membangun jejaring internasional, serta memperdalam pemahaman tentang pentingnya pendidikan berkelanjutan. Walau kembali  dengan rasa lelah, mereka membawa pulang  semangat baru serta pengetahuan yang bermakna. Mereka berharap pengalaman ini dapat menginspirasi generasi muda untuk berani mengambil peran dalam mendorong perubahan positif. Semangat untuk menjadikan pendidikan Indonesia lebih inklusif, lebih peduli lingkungan, dan lebih berkelanjutan menjadi harapan bersama.

Selain menjadi ruang pengembangan kepemimpinan, GLP juga memberi pengalaman berharga melalui interaksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara. Kegiatan yang dijalani tidak hanya berupa presentasi, tetapi juga mencakup proses saling mengenal, berdiskusi, dan berbagi pengalaman bersama. Pertemuan lintas budaya ini memberi para delegasi sudut pandang baru sekaligus relasi internasional yang bermakna. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan tertarik untuk mempersiapkan diri dan ikut mendaftar Global Leadership Program (GLP) pada tahun berikutnya.

Reporter: Elbert & Arthur
Editor: Elsa & Avel
Fotografer: Hosa
Desainer: Nela
Website: Isak