In Togetherness, We Become

“Segala sesuatu yang pelik, bisa diringankan dengan peluk” merupakan kutipan lirik dari lagu Pelukku Untuk Pelikmu oleh Fiersa Besari. Makna dari kutipan lirik tersebut adalah ada saatnya kita memiliki waktu untuk diri sendiri, tetapi terkadang kehadiran orang lain dapat membantu kita.. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang suatu ideologi yang berisi  pengekspresian suatu bentuk kasih sayang terhadap orang lain dan pentingnya relasi dalam kehidupan sehari-hari. Tema besar Psymag  yang sekaligus menjadi topik kali ini, yaitu ubuntu, jadi apakah ubuntu itu?

Kata ubuntu berasal dari Bahasa Afrika, lebih tepatnya Bahasa Nguni di Afrika Selatan. Dalam budaya Afrika, ubuntu dimaksudkan sebagai cara untuk mengekspresikan kasih sayang, hubungan timbal balik, harga diri, keharmonisan, dan kemanusiaan dalam kepentingan untuk membangun dan menjaga komunitas yang penuh akan keadilan serta saling peduli (Nussbaum, 2003). Ubuntu di Afrika digunakan sebagai filosofi dalam hidup bersosial serta menjadi pedoman dalam beretika dan berperilaku. Menurut Ewuso dan Hall (2019), secara prinsip, ubuntu merupakan sebuah sistem norma dalam beretika bagi masyarakat Afrika Selatan. Namun, perlu diingat bahwa pemikiran etik ubuntu tidak dapat digeneralisasikan dan menjadi representatif masyarakat Afrika Selatan. Ubuntu dipopulerkan pada zaman kolonialisme dan era apartheid, di mana orang kulit hitam dan nilai yang mereka miliki diremehkan. Setelah era apartheid, pemikiran ubuntu sudah menjadi fondasi akan transformasi yang dialami dalam segala bentuk kehidupan. 

Dalam Nussbaum (2003), prinsip umum dari ubuntu terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Mendengarkan dan menguatkan orang lain dapat menciptakan kepercayaan, keadilan, pemahaman bersama, martabat, dan keharmonisan dalam hubungan.
  2. Keinginan untuk membangun komunitas yang saling peduli dan berkelanjutan. 
  3. Memberikan alternatif untuk membangun kembali dunia yang cocok untuk semua orang (mempelajari kembali cara hidup dengan hormat, kasih sayang, martabat, dan keadilan).
  4. Dalam aspek bisnis dan tanggung jawab korporasi, ubuntu dimaksudkan untuk berbagi kekayaan dan setidaknya menciptakan layanan mendasar, seperti makanan, perumahan, dan akses terjangkau terhadap kesehatan dan edukasi untuk komunitas.

Peran ubuntu termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia sebagai tolak ukur seseorang dalam bertindak. Inti dari ubuntu adalah pengakuan bahwa seseorang terikat secara tak terpisahkan dengan kemanusiaan orang lain: “My humanity is caught up, is inextricably bound up, in yours” (Tutu, 1999, dalam Hidayat, 2021). Oleh karena itu, seseorang yang berpegang pada prinsip ubuntu akan membuka diri dan menyediakan dirinya bagi orang lain, bersikap murah hati, ramah, peduli, serta berbagi apa yang dimilikinya (Tutu, 1999, dalam Hidayat, 2021). Tindakan baik lahir dari ketaatan manusia pada prinsip ini, seperti menghormati orang lain sebagai sesama manusia dan menghindari hal-hal buruk yang tidak dikehendaki dari orang lain, misalnya menipu, mencelakai, atau melukai (Ramose, dalam Hidayat, 2021). Berdasarkan hal tersebut, ubuntu berperan sebagai pembentuk ikatan antarmanusia yang mendorong seseorang menimbangbaik-buruk tindakannya. 

Prinsip ubuntu berdampak positif terhadap pembentukan sistem moral yang baik. Ketika seseorang bertindak dengan kesadaran penuh akan ubuntu, ia tidak akan tega mencelakai, menindas, menipu, atau merusak tatanan kemanusiaan (Hidayat, 2021). Dampak positif tersebut tercermin dalam sifat-sifat, seperti kemurahan hati, keramahan, kepedulian, dan kasih sayang (Tutu, 1999, dalam Hidayat, 2021). Meskipun prinsip ubuntu menawarkan landasan moral yang kuat bagi komunitas, para ahli etika menyoroti kerentanannya, terutama jika diterapkan secara ekstrim. Pernyataan “seseorang hanya dianggap berarti bila ia menjadi bagian dari komunitas” dapat membuat individu menjadi tidak berarti. Akibatnya, solidaritas kelompok dapat memunculkan aturan yang tidak bermoral dan mengucilkan minoritas. Pemahaman ini menyebabkan suara yang berbeda (dissenting voice) akan dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari komunitas yang memiliki pandangan berbeda. Selain itu, prinsip ubuntu juga dapat disalahgunakan untuk menghindari tanggung jawab individu (Gathogo, 2008).

Meskipun ubuntu berisiko disalahgunakan untuk menekan suara individu atau menghindari tanggung jawab pribadi, filosofi ini masih relevan sebagai landasan moral keterikatan antar manusia. Oleh karena itu, penguatan ubuntu yang seimbang perlu berfokus pada dialektika, solidaritas, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan menanamkan budaya menghargai perbedaan pendapat sebagai masukan yang konstruktif, bukan sebagai ancaman. Pada akhirnya, filosofi ini mengajarkan kita untuk merangkul setiap “pelik” kehidupan dan secara aktif memberikan “peluk” sebagai pengakuan tulus bahwa kita saling membutuhkan untuk mencapai kemanusiaan yang utuh.

Referensi

Ewuoso, C., & Hall, S. (2019). Core aspects of ubuntu: A systematic review. South African Journal of Bioethics and Law, 12(2), 93-103.

Gathogo, J. (2008). African philosophy as expressed in the concepts of hospitality and ubuntu. Journal of Theology for Southern Africa, 130, 39-53. 

Hidayat, F. (2006). Pengantar Teori-Teori Filsafat.

Nussbaum, B. (2003). African culture and ubuntu. Perspectives, 17(1), 1-12.

Reporter: Tasya & EB
Editor: Erica & Janet
Desainer: Geva
Website: Novita