Social Anxiety: Lebih dari Sekadar Rasa Cemas

Halo Sobat Psymag! Pernahkah kalian merasa cemas berlebihan saat harus berbicara dengan orang baru atau jantung berdebar luar biasa sebelum presentasi? Wajar jika seseorang merasa gugup saat berinteraksi sosial. Namun, ketika kecemasan itu muncul secara berulang dan mulai menghambat aktivitas sehari-hari, kita perlu mulai mempertanyakan: Apakah ini hanya rasa gugup biasa atau ada sesuatu yang lebih kompleks? Salah satu bentuk kecemasan yang sering disalahpahami adalah social anxiety atau kecemasan sosial. Banyak yang mengira ini hanya soal rasa malu atau gugup biasa, padahal terdapat karakteristik serta dampak tertentu yang jauh lebih kompleks. Melalui konten Halo Sehat kali ini, kita akan membahas topik kecemasan sosial mulai dari definisi, faktor yang berpengaruh, hingga cara menanganinya.

Untuk membantu menjawab berbagai pertanyaan tersebut, kali ini kami ditemani oleh Mbak Febriana Ndaru Rosita, M.Psi., Psikolog, atau yang akrab disapa Mbak Sita. Beliau merupakan dosen bidang peminatan klinis di Fakultas Psikologi USD. Kecemasan sosial sendiri merupakan topik yang cukup hangat dalam ranah klinis dan masih sering menimbulkan pertanyaan, seperti apa perbedaannya dengan bentuk kecemasan lainnya.

Social anxiety atau gangguan kecemasan sosial adalah bentuk kecemasan yang muncul dalam konteks interaksi sosial, terutama saat berhadapan dengan orang yang belum dikenal. Individu sering kali akan merasa takut dinilai atau dievaluasi secara negatif, bahkan sebelum interaksi terjadi. Reaksi fisik seperti, jantung berdebar, tangan berkeringat, atau rasa ingin menghindar adalah gejala umum yang menyertai. Gangguan ini berlangsung setidaknya enam bulan dan menggantikan istilah lama “social phobia” dalam klasifikasi DSM-III/IV dan PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa). Kecemasan sosial memiliki karakteristik seperti, mengganggu produktivitas dan berpusat pada interaksi sosial. Perilaku khas dari kecemasan sosial adalah individu cenderung menghindari situasi sosial yang berpotensi memicu kecemasan.

Kecemasan sosial disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman hidup, misalnya pernah dibuli atau dipermalukan, lingkungan yang tidak suportif, stigma dari masyarakat sekitar, dan harga diri yang rendah. Pernahkah kalian bertanya-tanya tentang siapa yang dapat mengalaminya? Keadaan ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering muncul pada individu dari kelompok yang terpinggirkan atau yang terkena dampak stigma sosial karena hal itu membuat seseorang mungkin memilih coping untuk menjauh. Mereka yang pernah menjadi korban pembulian atau mengalami penolakan sosial memiliki risiko yang lebih tinggi, meskipun tidak semua akan mengalami gangguan ini. Perlu diingat kembali bahwa tidak semua individu yang merasakan gejala kecemasan sosial dapat dikategorikan mengalami gangguan tersebut. Pelabelan terhadap kecemasan sosial hanya dapat dilakukan berdasarkan  diagnosis tenaga profesional, yaitu psikolog dan psikiater. Selain mampu mendiagnosis gangguan kecemasan sosial, mereka juga dapat menilai tingkat keparahan kecemasan yang terjadi dengan mempertimbangkan hambatan yang dialami oleh klien hingga menimbulkan gejala kecemasan tersebut.

Sebagai upaya pencegahan, terdapat beberapa cara yang ditawarkan oleh narasumber. Kita perlu berani menghadapi ketakutan terhadap rasa cemas ketika berada di lingkungan sosial. Selain itu, penting untuk membuka diri dengan membangun interaksi (srawung) mulai dari lingkungan yang kecil. Kecemasan sosial tidak hilang dengan sendirinya sehingga diperlukan intervensi berupa terapi, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Person Centered Therapy (PCT) serta dukungan sosial dari orang-orang sekitar. Kemudian, ketika kita bertemu dengan orang yang mengalami gangguan tersebut, guna memberikan rasa aman dan nyaman, kita dapat mengajak mereka perlahan bergabung bersama agar mereka tidak merasa kesepian atau tidak berharga. Mereka yang mengalami gejala ini mungkin saja tidak akan pernah datang ke tenaga profesional. Bagi kita, psikolog mungkin tampak sebagai tempat yang aman, tetapi bagi mereka belum tentu karena psikolog menjadi sosok yang asing dan datang ke psikolog akan cenderung dikenai stigma masyarakat.

Setelah kita membahas berbagai fakta mengenai kecemasan sosial, rasanya tidak lengkap jika kita tidak sekaligus mengulik mitos yang beredar di masyarakat. Salah satu mitos yang sering beredar adalah asumsi bahwa gejala-gejala dari rasa cemas pada umumnya dianggap sebagai tanda kecemasan sosial. Padahal, gejala yang muncul tanpa disertai gangguan pada fungsi atau aktivitas fisik belum tentu sesuai dengan gangguan tersebut. Ketika seseorang merasa jantung berdebar saat berhadapan dengan situasi sosial, hal itu tidak selalu menandakan individu tersebut  mengalami kecemasan sosial. Untuk menegakkan diagnosis kecemasan sosial, perlu diperhatikan durasi munculnya gejala serta  sejauh mana gangguan tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari.

Reporter: Armel & Via
Editor: Shelma & Eca
Fotografer: Apfia
Desainer: Ayleen
Website: Isak