Valencia Feodora Ziva – 23B
Kelam selimuti segala arah, porak-poranda sejauh mata memandang. Napasku tersengal dengan kedua kaki berlumur darah. Perih. Anyir. Namun, sama sekali aku tidak merasa getir. Yang kurasakan malahan miris. Atmaku penuh dengan tanya dan sesal yang hadir tanpa permisi. Benakku berkecamuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain, berandai-andai layaknya tengah bermimpi di siang hari. Bagaimana jika semua ini tak terjadi? Tiada perang, tiada korban jiwa, tiada darah berlumuran di atas tanah merah, dan juga … tiada kegelapan yang akan selimuti semesta raya oleh karena sihir hitam yang digunakan di luar batas wajar. Bagaimana jika, waktu dapat diputar dan aku … berhasil mencegah semuanya?
Terseok-seok aku menyeret tubuh, mencari satu sosok yang kutahu dapat membantu. Oh, ralat, bukan sosok melainkan jasad yang sudah kaku. Kylian, si putra mahkota yang angkuh. Tewas terbunuh tatkala berusaha menyelamatkan aku, sebuah kejutan yang tidak pernah terbesit dalam pikiranku meski sekelebat lalu. Aku mendekati jasadnya yang terbujur kaku tak jauh dari posisiku, menggeledah tubuhnya sampai jemariku menyentuh sebuah benda bulat; benda yang aku cari dan aku butuhkan. Jemariku mengambil dan menggenggam erat benda itu, merapalkan sebuah mantra selagi kufokuskan pikiran pada masa yang hendak aku datangi. Satu tahun yang lalu, tepat sebelum konflik pengguna sihir mulai berkecamuk. Benda bulat itu ialah mesin waktu, yang aku harap dapat mengubah segala sesuatu.
“Satu harapku, bahwasanya perang ini tidak akan terjadi dan damai akan selimuti semesta raya yang suci,” monologku seiring sebuah cahaya mulai muncul dari dalam benda bulat itu, menyedotku masuk.
***
Jemari putihku menyentuh lembut bunga-bunga harum. Senyum yang terpatri layaknya sinar mentari buat orang-orang di sekeliling merasakan bahagia meski setitik. Sapaan aku layangkan pada mereka yang aku temui, membagikan energi positif melalui tawaku yang katanya manis. Aku hanyalah gadis biasa yang tengah menikmati waktu sendiri di sela-sela sibuknya sekolah sihir. Ekspektasi setia berada di atas pundak mungil, sebab kata mereka aku adalah salah satu dari beberapa yang terpilih, bagian dari Lux alias pasukan cahaya yang selalu dipuji-puji. Pantas tidak pantas, tapi aku menyukai atensi yang dijatuhkan orang-orang. Meski begitu, jumawa jauh dari identitas diri musabab tetaplah aku mencoba untuk rendah hati dan tidak menggunakan kekuatan bila tak dilandasi oleh urgensi.
Kakiku melompat-lompat mungil, menyusuri pasar yang masih tampak ramai meski matahari sudah terik. Perlu diingat, ini adalah hari Minggu dan keramaian pasar sampai detik ini bak sebuah mukjizat yang hanya satu dua kali muncul. Oh, aku baru ingat. Festival sihir sebentar lagi akan dilaksanakan di kota ini, tak heran jika penjual cenderamata laris manis dan hiruk pikuk pasar tak kunjung berkurang sama sekali. Di tengah kesibukkan duniawi yang tengah dilakoni, tiba-tiba suara ledakan muncul dari sisi kiri pasar yang masih ramai sekali. Instingku lekas berfungsi, aku berkata pada diri sendiri, “Sudah dimulai.”
Lekas aku bergegas menuju sumber suara dengan kewaspadaan penuh.
***
Aku menyeka peluh dan darah di sudut bibirku. Semua terjadi sesuai apa yang aku tahu dan di sini tugasku adalah menghentikan kekacauan agar tak perlu ada orang yang dikorbankan. Namun, aku gagal. Untuk kesekian kali setelah mencoba. Kylian lagi-lagi tewas di depan mata. Dan, oh. Tadi bukanlah kali pertama aku memutar waktu melainkan kali yang kesekian.
“Kau gagal lagi. Dan akan selalu gagal.”
Aku tersenyum, menatap sosok yang dengan angkuh berbicara kepadaku. Tanpa sadar, aku loloskan tawa kecil dan balas menatap matanya tak kalah angkuh sambil berujar, “Aku? Gagal? Kau bodoh. Semua ini adalah kehendakku. Aku dengan sengaja mengulang waktu agar bisa melihat kalian terpecah dan saling menghancurkan secara terus menerus dan sekarang aku sudah bosan. Jadi, selamat tinggal.”
Lalu, aku meledakkan diriku dengan sihir hitam yang dari awal bersemayam akibat dendam yang tak berkesudahan—turut menghancurkan seisi dunia; kiamat.
