Kharisma: SAYAP-SAYAP PATAH, TAK MENGAPA

Valencia Feodora Ziva – 23B

(Trigger Warning // Pemikiran untuk bunuh diri, perilaku melukai diri sendiri)

NUM SARWA muntahkan elegi padaku; laiknya pembuangan duka mereka-mereka penjilat suka.

SATU TANYA DALAM BENAK; SATU AKSARA UNGKAP SEMUANYA.

MENGAPA, GERANGAN?

Mengapa haruslah aku yang dipatahkan sejadi-jadinya?

Mengapa haruslah aku yang ditenggelamkan sedalam-dalamnya?

Mengapa haruslah aku telan mentah-mentah elegi yang tiada habisnya?

SAYAPKU telah dipatahkan; remuk jua hancur tak bersisa— terjatuh aku dari atas sampai raga tiada berbentuk jua, amis darah menyeruak indra— mendesak aku untuk muntahkan merah.

MENGAPA, GERANGAN?

Dihancurkan aku dengan mudah meski sudah mati-mati lakukan usaha.

Dihancurkan aku dengan cepat laiknya kertas nang dirobek keras.

Dihancurkan aku dengan parah sampai luka seakan hendak eksis selamanya.

KINI hancurlah sudah segala yang dibangun oleh keringat beserta darah! Terjungkal aku, iras elok tak lagi dapat ditemukan daripadaku. Raung tangis pecah sampai pelosok— penjuru-penjuru musabab kelam benar-benar sudah selimuti raga dan atmaku.

MENGAPA, GERANGAN?

Terjebak dalam kelam.

Menangis dalam diam.

Hancur dari dalam.

MENGAPA, GERANGAN?

Runtuh.

Hancur.

Lebur.

MENGAPA, GERANGAN?

Tidak …

mati …

saja  …

aku.

TIADA tersisa, lantas buat apa bertahan? Remuk redam sudah, apa yang bisa dilakukan? Terduduk aku dalam diam, tangisi nasib yang digurat penuh duka. Mungkin inilah akhir dari segala awal yang tak akan pernah menyapa.

TAPI, TUNGGU SEJENAK.

Tanganmu terulur padaku yang remuk.

Dekap hangat usir dingin yang membelenggu.

Lentera kecil cipta cahaya; harapan baru bagiku.

Sakit, sakit, sakit.

Tapi aku akan bangkit.

Meski sudah patah sampai hancur sayap-sayap cantik,

Aku tak akan menyerah barang setitik.

Patahlah, sayap oleh elegi.

Tak mengapa sama sekali.

Musabab, kecantikan bidadari tak hanya dilihat dari sayap putih.

Melainkan, dari kebersihan hati serta ketegaran diri—

—untuk tetap melaju, meski hampir jemput mati.

WAHAI BIDADARI CANTIK!

Meski tiada lagi sayap tergantung,

tetaplah tersenyum.

Sebab sayap-sayap itu bukanlah penentu bahwasanya hari esok ‘kan makmur.

Penentu itu, ialah gigih yang bersemayam dalam dirimu.

Semangat, bidadariku.

Kamu dicintai oleh banyak orang, dengan tulus.