Sekian hari setelah asrarku mati. Benar, rumah yang hangat, nyaman, sudah tenggelam di bawah nisan. Aku berduka, namun enggan kubawakan bunga ke sana, sebab melihat namanya saja membuatku hampir gila. Apa Tuhan beri aku karma? Atas dosa apa? Aku hanya gadis yang ingin pulang, ingin ditimang, ingin cinta seperti yang dimiliki orang-orang. Aku hanya gadis yang iri dengan rasa penuh di dada yang selalu ia damba. Aku hanya gadis yang ingin belai kata penenangmu, lebih menyanjung hati ketimbang telingaku. Asrar, bagaimana rasanya dicintai dengan tulus oleh gadis yang separuhnya telah tiada? Hebatkah? Diberimu padaku nafas untuk kembali mencintai, diobatinya luka-luka lama dengan penuh kasih, tapi tanganmu sendiri yang merobeknya lagi, mencekiknya hingga mati. Hebatkah? Aku menahan luka seribu kali untukmu yang kerap mati suri. Hebatkah? Asrarku, berubah menjadi pengecut sebelum mati – atau memang sedari awal ia tidak terlalu berani – atau memang sedari awal salahku bermimpi atas euphoria yang tidak seberapa ini. Kau telah membuatku murah dan mudah. Hebatkah? Asrarku bangkit menjadi bajingan yang tidak kukenali – sejak itu, kutahu, kau sudah kehilangan eksistensi. Asrarku hilang, dan tidak pernah ada lagi. Hebatkah? Asrarku, mengapa luka darimu susah sekali kuobati? Katakanlah maaf seribu kali lagi! Asrarku, sudah kubilang, melihat namamu saja membuatku hampir gila. Pergilah jauh dari duniaku, sebab aku tidak mampu terlalu berduka sekaligus merindu.
Visual Design : Belis
