Aku punya cerita, tentang aku yang menemukan banyak sekali bahagia. Rasa-rasanya, seperti aku dilimpahkan semua kebahagiaan oleh Yang Maha Kuasa! Berada di sini, di titik ini, seperti berada di dalam mimpi. Pun, jika ini mimpi, kumohon jangan pernah bangunkan aku. Biarkanlah suka menyelimutiku karena … akhirnya setelah didera oleh kesendirian dan rasa sakit, aku menemukan cahaya yang membuat aku memiliki semangat yang baru dan semangat itu sudah mulai membara. Aku merasa bahwa akhirnya aku menemukan sebuah tempat, tempat di mana aku diterima apa adanya; baik dan buruk.
Awalnya, aku merasa takut. Takut memulai lembaran baru. Takut memulai langkah baru. Takut memulai awalan baru. Pikiranku kusut akan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Gelisah dan gugup sama sekali tidak bisa kuhindari saat itu. Namun, kenyataannya semua itu tidak terjadi! Aku malah berterima kasih, karena kalian sudah hadir dan menjadi warna baru untuk lembaran pertama kisahku di tempat ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan dipertemukan dengan banyak orang baik. Aku menemukan orang-orang yang bisa aku sebut sebagai sahabat dan teman dekat. Aku bisa membuka diri dan berdinamika dengan banyak orang. Aku–secara tiba-tiba–merasa bahwa relasiku menjadi luas seketika.
Sejujurnya, aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu. Bahkan, aku juga turut terkejut dengan perubahan yang kualami pada diriku. Dulu, aku susah sekali dalam mengendalikan diri dan emosi. Aku cenderung impulsif dan sulit menerima semua kekurangan yang ada di dalam diri. Aku dikendalikan oleh perasaanku, kadang dikendalikan oleh emosiku. Hal itu sungguh melelahkan, karena aku sadar bahwa semua itu membawa dampak negatif bagi orang di sekitar. Pada saat itu, aku belum sadar bahwa tindakanku secara tidak sengaja sering menorehkan luka pada mereka yang kusayang.
Semenjak menjadi bagian dari keluarga besar Psikologi, aku mulai sadar dan berubah. Aku, perlahan tapi pasti, mulai berprogres dan bergerak menjadi versi terbaik akan diriku sendiri. Terlebih, dalam proses pendewasaan diri, aku ditemani oleh banyak sekali orang baik. Mereka bersedia jadi tempatku untuk meluapkan emosi. Mereka bersedia memberi bahunya untuk aku menangis. Mereka juga bersedia memelukku saat hidupku mulai terasa pelik. Aku bersyukur mengenal dan bertemu dengan mereka karena aku benar-benar merasa bahwa aku mendapat keluarga baru yang tak pernah kuduga akan hadir dan ada. Rasa takut dan gelisah yang kurasakan dulu sudah sepenuhnya sirna.
Teman-teman, terima kasih ya? Terima kasih karena kalian selalu ada. Terima kasih karena kalian berusaha untuk mengerti apa yang kurasa. Terima kasih karena kalian menerima aku apa adanya–meski terkadang aku sadar bahwa sesekali aku masih menyakiti kalian tanpa sadar walau sudah berusaha untuk berubah. Aku hanya ingin kalian tahu, bahwa aku merasa sangat bersyukur. Bukan hanya kepada teman sejawat, tapi juga kepada kakak-kakak yang menjadi alasan aku tersenyum dan tertawa. Kakak-kakak yang sudah mengulurkan tangan dan menenangkan aku yang terkadang masih gundah dan gelisah. Kakak-kakak yang kujadikan tempat bercerita, bertukar pikiran, dan menumpahkan emosi yang sudah lama terpendam. Terima kasih, terima kasih yang banyak untuk kalian semua.
Aku tau, aku masih jauh dari kata sempurna. Namun, aku akan selalu berproses untuk memperbaiki dan mengembangkan diriku agar aku bisa menjadi tempat aman bagi kalian yang membutuhkan. Dalam proses ini, aku tidak bisa melewatinya sendirian. Jadi, kita lewatkan dan lalui ini bersama-sama, ya? Aku akan berusaha untuk memperbaiki apa yang
kurang dan mengembangkan apa yang sudah jadi kelebihan. Ini semua demi kisah kita, demi cerita baru yang kita tulis di sini bersama-sama.
Tulisan ini aku tulis sebagai kenangan indah. Kenangan akan masa awal-awal perkuliahan yang dipenuhi oleh canda tawa meski sesekali kesedihan masih melanda. Aku tidak akan pernah melupakan dinamika dan kebersamaan yang sudah kita lewatkan sampai kapan pun juga, karena bagiku kalian berharga. Sekali lagi, terima kasih karena sudah hadir dalam kisahku, ya?
Aku belum sempurna, hubungan kita begitu juga. Tapi, aku yakin kalau semuanya akan terus menjadi lebih baik kedepannya. Aku dan kamu, menjadi kita. Kita yang disatukan dalam satu rumah megah; Psikologi Universitas Sanata Dharma. Aku masih ingat betul dengan jargon: “Siapa kita? Psikologi. Ada berapa kita? Satu.” Karena, aku benar-benar merasa kalau kita di sini adalah satu, sebagai satu kesatuan meski ada banyak perbedaan yang ada di antara kita.
Dinamika kita tidak akan pernah berakhir meski mungkin suatu saat kisah ini harus kita sudahi. Memori yang sudah terbentuk tak akan hilang sebab akan selalu aku simpan dalam lubuk hatiku. Meski waktu terus berjalan dan pada akhirnya mungkin kita akan pisah jalan, aku akan selalu mengingat kalian dan kebersamaan yang kita lewati bersama; suka duka, canda tawa, bahkan kepelikkan yang kita rasakan.
Melalui tulisan singkat ini, aku hanya ingin berbagi secara runtut mengenai perjalanan emosi dan perasaanku sampai titik ini, sampai di saat aku menulis tulisan ini. Untuk yang terakhir (dalam tulisan ini, bukan dari dalam hatiku) aku hendak secara eksplisit mengucapkan terima kasih kepada anak-anak sekelasku, seluruh panitia AKSI 2023, seluruh anggota kelompok serta tutor AKSIku, seluruh jajaran pimpinan dan anggota Psymag, seluruh jajaran dan anggota Masdha, serta semua teman-teman dekat dan kakak-kakak tingkat lainnya yang sudah kuanggap sebagai keluarga.
Jika kalian membaca ini dan tahu siapa dalang di balik tulisan ini, diam-diam saja ya? Biarkan ini jadi rahasia antara aku dan kamu. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Buat kamu, jangan lupa untuk tetap semangat, ya? Yakinlah, bahwa semua akan baik-baik saja dan menjadi indah pada akhir cerita.
Visual Design : Becca
